short story from ALE:
------
Hari beranjak senja ketika monyet-monyet kembali ke kandang utama. Eittt!… ternyata masih ada satu monyet lagi yang nekat membaca komik Dragonball di pojokan. Ditegurlah dia oleh ketua monyet,
“HuhuikH KriQiTiuWW ngeNgek NguikH…?”(Terjemahan bebas ke dalam bahasa manusia : Ndon, kamu gak tidur?).
Brandon, nama si monyet bandel, hanya melengos dan beralih ke pojok kandang yang lain. Dia menatap matahari senja dan menerawang ke langit ufuk… .
...........
Setahun yang lalu, nasib si Brandon --- sang monyet yang terlalu keren diberi nama Brandon --- tidak jelek-jelek amat. Dulunya, dia adalah manusia paling tampan di kelas 3 IPA I (_Kata ibunya, dia mirip Robert Pattinson yang terkenal itu lhoooo….). Tajir dan banyak fans-nya pula.
Tragedi transfigurasi Brandon jadi monyet ini berawal ketika liburan perpisahan kelas. Di hari yang naas itu, Brandon dkk. merencanakan pergi kemping ke Gunung Kerintji. Brandon merengek ke ibunya agar diperbolehkan pergi. Saat ibunya melarang, Brandon mengancam gak akan pake Nissan 150 V-nya lagi ke sekolah selama seumur hidup. Dengan berat hati, ibunya memperbolehkannya pergi.
Rombongan (sangat) amatir yang terdiri dari 9 orang itu memulai perjalanannya ke desa Letter X, desa di kaki gunung Kerintji dimana jalur pendakian berawal, menumpang ama truk sayur. Tidak lupa, mereka berfoto dulu dengan patung Harimau di gerbang masuk gunung dan mulai jalan ampe pukul 7 malam. Agak terlambat juga dari rencana awal sih…, soalnya si Androy, salah satu anggota rombongan lupa pamit ama emaknya. Sebenernya juga, mereka udah ampir nyampe ke pintu rimba, tetapi harus balik lagi ke rumah demi menuruti si Androy tercinta. Lagian, gimana kagak mau nurut!? Uang bekal, uang ongkos, ama uang urunan anak-anak dititipin ke Androy semua. Udah gitu, uangnya dititipin lagi di saku baju emaknya. Halah!
Setelah istirahat sejenak, mereka memeriksa perbekalan dan siap memulai pendakian. Ricke, anggota rombongan yang paling berpengalaman bertindak sebagai pemimpin dalam perjalanan itu.”Brothers, kita sebaiknya berdoa dahulu sebelum memulai langkah pertama kita!!!... Amin! Okey, daripada basa-basi, yang paling cepat sampai ke puncak, saya traktir mie ayam setibanya di sana,”kata Ricke meyakinkan.
“Heeeh… mana ada warung di atas sana! Blo’on!”, sanggah Eku.
“Hehehe, justru karena itulah saya berani nantang!”, balas Ricke.
Obrolan tak bermutu itu berbanding lurus ama kesiapan rombongan ini, alias sama-sama ngawur. Lihat aja isi tas mereka: ada buku pe-er, beyblade, setrika, dan peralatan gak penting lainnya. Bahkan, si Davon, anggota rombongan yang paling “maju” ngebawa kaca mobil lengkap ama pintu mobilnya! Katanya, tips biar gak kepanasan, nanti tinggal buka aja kaca mobilnya.
Setengah dari perjalanan, Padri merasa ada yang mengawasi mereka. Sebagai anak dukun beranak ngetop, ya wajarlah kalo si Padri mempunyai indera keenam. Tak berapa lama, ”Oiy….berhenti dulu dong. Daku kebelet pipis nih”, Brandon berteriak dari belakang. Dalam rombongan itu dia berjalan paling akhir, tempat tidur lipat yang dibawanya menyulitkan langkahnya. Namun, rombongan tak mengacuhkan teriakan si Brandon. “Tega kalian! Anak manis kayak gini ditinggal sendirian di hutan. Awas, kalian nggak akan daku pinjemin lagi (…tiiit SENSOR…). Rasain!”. Mendengar ancaman itu, rombongan pada balik badan nungguin si Brandon.
Brandon mencari pohon yang pas buat melepas hasratnya. Tak disadari yang dikencinginya adalah sebilah keris keramat yang tertancap di bawah pohon besar itu. Sekejap saja, tubuh Brandon diselimuti asap putih tebal. Dia telah berubah wujud jadi monyet, nyet. Monyet (lu yang monyet!?). Begitu Brandon keluar dari balik semak-semak, teman-teman semuanya pada lari tunggang-langgang tapalantiang tatilantang (asailah wa ang!).
“Hah….ada monyet, ada monyet gila!!! Tolong!!! Selamatkan diri kalian. Tooolong!!!!”, jerit Eyik, ketika ngeliat monyet menggeret-geret tas milik Brandon menuju ke arahnya.
Ditambah lagi jeritan si Egu,”Woiiy… Kita diserang monyet liar, woiy! Ayo dong ikutan histeris kayak gw dong!!!”.
“NguikH hUWHukuhikh! ( terjemahan ke bahasa manusia: woiy, ngapain loe pada ngejerit-jerit!?)”, teriak Brandon.
“ArRRgh…Tolong! Monyetnya mengejar aku…., demi keselamatan kita bersama…KAbuuR….”, jerit Ncoik.
Begitulah. Brandon ditinggal begitu saja oleh teman-teman-(durhaka)-nya. Setelah hidup terkatung-katung di hutan, suatu ketika petugas Perhutani menangkapnya karena menyerang rumah penduduk. Sebenernya, dia gak bermaksud menyerang. Dia hanya ingin meminjam PlayStation 2 milik warga karena udah lama gak maen game Pro Evolution Soccer. Untung aja dia gak digebukin warga kampung.
Oleh petugas Perhutani ia lalu dikirim ke Kebun Binatang Sumbar. Nah, jika kamu berkunjung ke Bon-bin di Sumbar dan menemukan monyet yang hobi baca komik, main PS dan sepakbola, sapalah dia ,”Ndon, Brandon mau pisang?”
24052009 17:28 A. M