Kamis, 08 April 2021

japan tateyoko part 2

Juni, 2017. Teringat saat menerima kabar melalui e-mail itu, bahwa saya lulus beasiswa itu ---yang saking senangnya saya mendapat kabarnya di sore hari bulan Ramadhan 1438 H, adik saya memanjat-manjat punggung saya, sampai kami terjengkang ke belakang sama-sama---, bersyukur kehadirat Allah SWT karena Dia tahu, tentu melalui doa sepanjang usai sholat, bahwa saya butuh pertolongan: wajah ini penuh dengan siratan “penderitaan”, hehehe. Seberes pengurusan visa student dan pengurusan dokumen penting lainnya, satu hal lagi yang harus dibereskan: menikah. 


11 September, 2017. Teringat, waktu penghulu membimbing saya untuk akad nikah, baru satu-dua kata penghulu bersabda langsung saya sambar. Cepat sekali, macam tukang dadu cangkir menyambar duit lima ribu. Saya mengucap akad sekali saja, cerdas, fasih, dan lancar. Salah seorang kerabat bertanya bagaimana bisa begitu hebat.


“Saya sudah hapal ucapan nikah pada Dona sejak kami tingkat akhir kuliah pasca sarjana”, jawab saya dengan tenang. Itu berarti dua tahun sebelum pernikahan dilangsungkan.


April, 2018. Pertama kali perkuliahan dimulai. Semua dimulai dari nol, dari yang tidak tahu apa-apa sampai sekarang juga belum tahu apa-apa. Mudah2an yang saya lakukan ini adalah juga dihitung sebagai cara saya “mencicil” untuk membahagiakan orang tua. Aamiiin.


Maret, 2021. Setelah perjuangan nan panjang berliku tajam, akhirnya… yattaALHAMDULILLAH…. Saya lulus kuliah tingkat doktoral. Syukur kehadirat Allah SWT. Berkat doa dan dukungan dari istri tercinta (semangaat sayaang… ❤☺), kedua orang tua, keluarga besar, dan lain – lain. Tidak lupa, saya sangat berterimakasih pada guru-guru saya yang telah mengajar, membimbing dan menunjukkan patok-patok jalan untuk sampai meraih ekspektasi; yang menunjukkan dari sudut-sudut mana saja saya harus mulai mendaki, sehingga dengan begitu saya bisa memetakan peluang, akan menjadi apakah saya: sebagai akademisi, peneliti, konsultan ataukah decision maker?





"He ends up a crossroad. Unsure of where to go next the rest of his life wide open to be explored in any direction he chooses. Let see."

-----------------------------------------------------------------------

Dia tak pernah takluk menghadapi kenyataan bahwa dirinya selalu diremehkan atas keadaan, dicurangi oleh lawan bahkan kawan. Dia itu bagai huruf nun (ن) mati diantara idgham bigunnah: ada tapi dianggap tidak ada. Walau berkali-kali dibohongi atau diperlakukan secara tidak adil oleh lingkungan tapi dia selalu beruntung, karena dia baik hati.” 

--- Buya Yahni, guru ngaji Mesjid Al-Akbar. 

-----------------------------------------------------------------------

I want that feeling. The feeling that comes over from a man when he gets what he most desired”. 
-Kumar, direktur pabrik baja (2004)-


“Semakin banyak orang yang mengakui kemampuanmu, semakin banyak pula orang yang memusuhimu atau yang ingin memanfaatkanmu. Kau harus siap mental! Camkan itu, bro”.
-Chan Maekawa, pengajar kung fu kuil Dairin (2010)-


“Sejak sampai di Negara ini, di kota metropolitan dunia ini, dia terus tercengang-cengang. Kalau untuk meluaskan pandangan, wawasan dan pengalaman seperti kata Ayah-nya, ini betul-betul di luar dugaan. Tapi tak enak juga kalau tercengang terus, mulai sekarang harus siap untuk tidak tercengang lagi”.
-Badrun-


“Saya menyadari kalau saya tidak cemerlang di sekolah. Namun saya memiliki tekad, semangat dan cita-cita tinggi. Saya ingin menjadi orang yang tangguh, pantang menyerah dan pekerja keras. Saya ingin menjadi orang yang dapat menerima pukulan paling keras, lalu bangkit dan terus bergerak maju”.
-kang cilok depan gerbang SD Pertiwi-

-----------------------------------------------------------------------

つづく