Saya pernah ditanyai: apa pelajaran hidup/cerita unik kamu ketika S-3 di luar negeri yang sekiranya membuatmu menjadi pribadi yang lebih baik?
------------------------------------------------------------------------------------------------------
1. Berkonfliklah!
Bagi saya yang culun, saya selalu diajarkan oleh nenek saya bahwa "menghindari konflik itu baik, marah itu berdosa," dsb. Gara-gara prinsip itu saya selalu dimanfaatkan oleh orang lain. Saat saya S-3, saya diajari oleh Sensei saya untuk mengekspresikan ketidaksukaan saya akan suatu hal. Jadi ketika saya tidak menyukai suatu hal, saya perlu mengekspresikannya via 5W + 1H (what, where, when, who, why + how) sehingga gerutuan saya lebih terstruktur dan orang lain tahu letak kekecewaan saya. Terakhir, saya belajar untuk tidak meminta maaf kalau saya marah karena dikecewakan oleh seseorang. 😅
2. Orang normal meng-agama-kan sains, orang cerdas memahami agama dan sains
Salah satu penyakit orang-orang yang gagap pengetahuan atau baru kenal filosofi adalah membuang semua hal berbau agama karena dianggap "ketinggalan zaman" dan "tidak kompatibel dengan sains." Mereka mereduksi Tuhan sebagai "bualan orang-orang bodoh yang tidak kenal modernitas dan metode ilmiah," serta mengejek agama sebagai "candu untuk orang-orang malas yang ogah maju." Orang-orang yang gagap pengetahuan mengganti Rasulullah Ù…ُØَÙ…َّد dengan Charles Darwin, Nabi Isa/Yesus dengan Newton, atau Al-Quran dengan Brief History of Time. Mereka memamerkan kutipan dari artikel Elsevier atau MDPI layaknya kutipan kitab suci — dan siapapun yang berseberangan dengan kutipan ayat-ayat Kitab Elsevier ini, perlu dilabeli sebagai "jahil tak terdidik, tak tahu pengetahuan, bahlul tidak ilmiah."Tidakkah mereka ingat bahwa sains itu hidup dengan dialektika & diskusi pandangan-pandangan yang berbeda? Lupakah mereka kalau banyak ilmuwan peletak dasar-dasar sains (misal kalkulus, astronomi, genetika, dan kimia) yang merupakan agamawan di masanya?"
Ketika saya dan istri mengalami lockdown di Jepang (2020), saya melihat semua rencana rapi yang saya buat untuk menuntaskan secara cepat S-3 berantakan. Di situlah saya makin mengenal Tuhan, Dia adalah energi yang bekerja di luar kendali saya sebagai seorang individu. Sepaham-pahamnya saya dengan semua teori yang bisa menjelaskan lockdown itu, saya tidak punya daya buat membatalkannya. Tawakkal, bersyukur, zikir dan shalawat adalah upaya saya untuk meyakinkan bahwa Tuhan selalu bersama hamba-Nya yang mengingat-Nya, dan itu menenangkan saya. Bagi saya, sains dan semua teorinya adalah ikhtiar/usaha manusia buat mengenal karya-karya Tuhannya. Pengetahuan material dari sains tidak bisa menggantikan pengetahuan irasional yang ditawarkan agama.
Satu lagi, hikmah yang saya dapatkan dari tinggal lama di luar negeri, yaitu: menurut saya, di Indonesia ini tidak ada insentif buat menjadi cerdas atau profesional di bidangnya. Di Jepang, kalau Anda profesional di bidangnya, sebelum lulus Anda sudah ditawari ruangan di lembaga penelitian plus rumah dinas yang bisa Anda miliki setelah sekian tahun bekerja. Sementara itu, di Indonesia, insentif diberikan ke ahli drama, tukang kibus, tukang egol-egolan di media sosial, dan artis tukang selingkuh! (Sigh!). Tidak ada solusi dari saya.
Hokkaido University, February 2019


