Jumat, 15 Agustus 2014

the expedition of :^D


(foto: dokumen pribadi)
Kerinci, on August 2014 (Cassiavera landscape like an Autumn forest)


Autumn, Forest, Japan HD wallpaper for Standard 4:3 5:4 Fullscreen UXGA XGA SVGA QSXGA SXGA ; Wide 16:10 5:3 Widescreen WHXGA WQXGA WUXGA WXGA WGA ; HD 16:9 High Definition WQHD QWXGA 1080p 900p 720p QHD nHD ; Other 3:2 DVGA HVGA HQVGA devices ( Apple PowerBook G4 iPhone 4 3G 3GS iPod Touch ) ; Mobile VGA WVGA iPhone iPad PSP Phone - VGA QVGA Smartphone ( PocketPC GPS iPod Zune BlackBerry HTC Samsung LG Nokia Eten Asus ) WVGA WQVGA Smartphone ( HTC Samsung Sony Ericsson LG Vertu MIO ) HVGA Smartphone ( Apple iPhone iPod BlackBerry HTC Samsung Nokia ) Sony PSP Zune HD Zen ; Tablet 2 ; 
(courtesy by google.com)
Autumn forest at four season countries
_________________________________________

Kerinci, July 30th 2014
_________________________________________


Berakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian.
Bersakit dahulu, bersenang kemudian



Kalau saya harus membuat suatu karangan yang mencerminkan pribahasa tersebut di atas, maka saya akan menulis pengalaman seorang sahabat, sebaris duduknya dengan saya ketika sekolah dulu. Orang yang menginspirasi saya.

Tidak dapat saya lupakan dulu, ---sejak kehadirannya--- selalu saja saya menyampir-nyampirkan buku pelajaran Matematika di dekat meja belajarnya. Maksudnya agar saya dapat dengan mudah melihat pengerjaan aljabar, persamaan linier/non-linier, dan ilmu-ilmu ukur lain yang dikerjakannya karena jelas sekali saya tidak paham dengan pelajaran berhitung. Masih pula saya ingat bagaimana teman saya itu menulis jawaban soal-soal aljabar secara rapi, tanpa coretan atau hapusan. Suatu pertanda bahwa sewaktu menjawab soal, pikirannya sudah jauh melihat ke mana arah jawaban harus dicari. Itu berarti daya nalarnya secara abstrak begitu tinggi.

Seperti kebanyakan kisah-kisah ironi, tidak disangka-sangka di saat kenaikan kelas berikutnya teman saya itu tidak hadir. Pun untuk beberapa hari kemudian. Berhari-hari ditunggui guru, tidak juga dia muncul. Tanpa salam perpisahan, teman saya itu pergi. Namun, beberapa bulan kemudian baru ada kabar ternyata dia dan keluarganya yang keturunan Tionghoa telah pindah. Sekolah tidak dilanjutkan lagi. Dia mesti cepat-cepat mendapat pekerjaan untuk mencari nafkah demi membantu menghidupi keluarga. Keterhentian karier teman saya itu bukan terjadi karena pencapaian ketidakmampuan oleh kecerdasan ---sebab saya tahu betul kapasitas intelektualnya--- atau karena diburu batas umur, melainkan karena dia tidak mampu secara ekonomi. Melalui akun media sosial, saya akhirnya berjumpa dengannya setelah tidak bersua selama beberapa tahun. Dia telah sukses ---tergantung apapun arti sukses itu (yang relatif)--- menjadi saudagar.

Ibarat dalam suatu pertandingan atletik, teman saya itu sebenarnya telah bertanding dalam pertandingan loncat tinggi dan mampu melewati semua letak mistar yang dihadapkan kepadanya. Akan tetapi sebelum letak mistar maksimum yang dapat dilompatinya itu dicobakan kepadanya, ia sudah berhenti bertanding. No chance but keep moving forward...

Dapatlah dibayangkan bagaimana dia melaksanakan pertandingan loncat tinggi itu. Setelah melewati mistar pendidikan dasar, ternyata ‘mistar’  tantangan itu diangkatnya sendiri ke tingkat yang lebih tinggi, dan dia ‘bertanding untuk mencapai rekor tanpa kehadiran dan tepuk tangan penonton’. Saya telah yakin, dia tidak akan berhenti pada ketinggian itu. Menurut hemat saya, dia masih jauh di atas tingkat ketidakcakapannya, sehingga mistar loncat tingginya masih dapat diangkat lebih tinggi lagi tanpa harus takut jatuh karena tersentuh tubuhnya sendiri sewaktu dia melompati. Dia telah dipakaikan ‘baju kehidupan’ yang ternyata sempit. Namun tingkat kecerdasannya pula yang pada akhirnya membuat dirinya berhasil memperbesar ukuran baju kehidupannya itu, tanpa meminta bantuan orang lain. Sederhana. Tuhan akan menolong orang yang mau menolong dirinya sendiri.

You have inspired me, dude!