(foto: dokumen pribadi)
Kerinci, on August 2014 (Cassiavera landscape like an Autumn forest)
(courtesy by google.com)
Autumn forest at four season countries
_________________________________________
Kerinci, July 30th 2014
_________________________________________
Bersakit dahulu, bersenang kemudian”
Kalau
saya harus membuat suatu karangan yang mencerminkan pribahasa tersebut
di atas, maka saya akan menulis pengalaman seorang sahabat, sebaris
duduknya dengan saya ketika sekolah dulu. Orang yang menginspirasi saya.
Tidak dapat
saya lupakan dulu, ---sejak kehadirannya--- selalu saja saya
menyampir-nyampirkan buku pelajaran Matematika di dekat meja
belajarnya. Maksudnya agar saya dapat dengan mudah melihat pengerjaan aljabar,
persamaan linier/non-linier, dan ilmu-ilmu ukur lain yang dikerjakannya
karena jelas sekali saya tidak paham dengan pelajaran berhitung. Masih
pula saya ingat bagaimana teman saya itu menulis jawaban soal-soal
aljabar secara rapi, tanpa coretan atau hapusan. Suatu pertanda bahwa
sewaktu menjawab soal, pikirannya sudah jauh melihat ke mana arah
jawaban harus dicari. Itu berarti daya nalarnya secara abstrak begitu
tinggi.
Seperti kebanyakan kisah-kisah ironi, tidak disangka-sangka di saat kenaikan kelas
berikutnya teman saya itu tidak hadir. Pun untuk beberapa hari kemudian.
Berhari-hari ditunggui guru, tidak juga dia muncul. Tanpa salam
perpisahan, teman saya itu pergi. Namun, beberapa bulan kemudian baru
ada kabar ternyata dia dan keluarganya yang keturunan Tionghoa telah pindah. Sekolah tidak
dilanjutkan lagi. Dia mesti cepat-cepat mendapat pekerjaan untuk
mencari nafkah demi membantu menghidupi keluarga. Keterhentian karier teman saya itu bukan terjadi karena pencapaian
ketidakmampuan oleh kecerdasan ---sebab saya tahu betul kapasitas
intelektualnya--- atau karena diburu batas umur, melainkan karena dia tidak mampu secara
ekonomi. Melalui akun media sosial, saya akhirnya berjumpa dengannya setelah tidak bersua selama beberapa tahun. Dia telah sukses ---tergantung apapun arti sukses itu (yang relatif)--- menjadi saudagar.
Ibarat dalam suatu pertandingan atletik, teman saya
itu sebenarnya telah bertanding dalam pertandingan loncat tinggi
dan mampu melewati semua letak mistar yang dihadapkan kepadanya. Akan
tetapi sebelum letak mistar maksimum yang dapat dilompatinya itu dicobakan
kepadanya, ia sudah berhenti bertanding. No chance but keep moving forward...
Dapatlah
dibayangkan bagaimana dia melaksanakan pertandingan loncat tinggi itu.
Setelah melewati mistar pendidikan dasar, ternyata ‘mistar’ tantangan itu
diangkatnya sendiri ke tingkat yang lebih tinggi, dan dia ‘bertanding
untuk mencapai rekor tanpa kehadiran dan tepuk tangan penonton’. Saya
telah yakin, dia tidak akan berhenti pada ketinggian itu. Menurut hemat
saya, dia masih jauh di atas tingkat ketidakcakapannya, sehingga mistar
loncat tingginya masih dapat diangkat lebih tinggi lagi tanpa
harus takut jatuh karena tersentuh tubuhnya sendiri sewaktu dia melompati. Dia telah dipakaikan ‘baju kehidupan’ yang ternyata sempit.
Namun tingkat kecerdasannya pula yang pada akhirnya membuat dirinya berhasil
memperbesar ukuran baju kehidupannya itu, tanpa meminta bantuan orang lain.
Sederhana. Tuhan akan menolong orang yang mau menolong dirinya
sendiri.
You have inspired me, dude!

