Saya masih ingat sore ketika pesawat Garuda Indonesia meninggalkan tanah Sumatra ke Jawa, kami membawa tiga ransel besar, satu koper biru tua, dan dua insan yang penuh harap. Saya juga masih ingat ketika kami melangkah memasuki gerbang Keberangkatan Internasional di bandara Soetta, saya berkata kepada istri,"Bismillah, kita memasuki gerbang masa depan yang, insha Allah, cerah." Lalu beberapa menit kemudian, saya dan istri duduk menatap jendela kecil pesawat seolah sedang menatap masa depan yang samar. Sampai di bandara Haneda pagi esok harinya, Sensei kami datang menjemput dan beliau berujar,"Koper kalian besar sekali, apa mau tinggal di Jepang (sampai) 10 tahun!?" Jepang terasa seperti halaman baru dari buku yang belum pernah saya baca sebelumnya. Di dalam hati, saya berkata pelan: perjalanan ini bukan sekadar kuliah doktoral; ini adalah petualangan hidup. Saya akan belajar tentang serangga di sebuah kampus bernama Ibaraki University.
Di kota kecil Mito, Ibaraki, musim dingin datang seperti guru yang keras. Angin menusuk tulang, dan kami sering berjalan cepat dari kaikan/asrama mahasiswa menuju kampus sambil tertawa menahan dingin. Pulang dari kampus, mampir ke swalayan untuk membeli bahan makanan. Seringkali makanan yang dibeli adalah makanan yang ditunggui dipasangi stempel diskon. Istri saya selalu berkata bahwa perjuangan besar sering dimulai dari dapur kecil. Maka di dapur kaikan itu kami memasak nasi, sup ayam sederhana, dan mimpi yang perlahan matang bersama waktu. Diyona menjadi teman diskusi, penyemangat, sekaligus saksi dari setiap malam panjang yang saya habiskan membaca jurnal tentang serangga.
Di laboratorium, saya merasa seperti penjelajah yang memasuki hutan rimba miniatur. Di bawah mikroskop, antena, sayap, dan perilaku serangga tampak seperti rahasia alam yang menunggu dipecahkan. Ada hari-hari ketika eksperimen gagal, data terasa membingungkan, dan bahasa ilmiah seperti labirin yang tak berujung. Namun setiap kali itu terjadi, saya selalu teringat bahwa serangga telah bertahan di bumi jutaan tahun—tentu saya juga bisa bertahan beberapa tahun untuk mempelajarinya.
Hari-hari berlalu seperti kereta Jepang yang selalu tepat waktu. Pagi diisi dengan riset, siang dengan diskusi akademik, dan malam dengan menulis disertasi yang terasa seperti mendaki gunung kata demi kata. Istri saya sering duduk di samping saya dengan laptopnya sendiri, juga mengerjakan disertasinya ---tentang semut invasif di kepulauan Jepang---, bekerja dalam diam yang penuh pengertian. Kami tidak selalu berbicara, tetapi kehadirannya adalah kalimat paling panjang dalam cerita perjuangan.
Ada saat-saat ketika rasa rindu datang seperti hujan musim gugur—tiba-tiba dan tanpa peringatan. Rindu pada keluarga, pada bahasa yang sepenuhnya kami pahami, pada aroma tanah setelah hujan di Indonesia. Namun di negeri jauh itu, saya dan istri belajar bahwa rindu bukanlah kelemahan; ia justru menjadi kompas yang mengingatkan mengapa perjalanan ini dimulai.
Ada lima musim salju yang kami lewati. Tahun-tahun studi doktoral ternyata bukan hanya tentang teori ekologi serangga atau metodologi penelitian. Ia juga tentang kesabaran, ketekunan, dan keberanian untuk terus melangkah ketika jalan terasa sepi. Setiap seminar, setiap revisi manuskrip, setiap eksperimen yang berhasil adalah batu kecil yang menyusun jembatan menuju mimpi.
Kini ketika saya menoleh ke belakang, perjalanan itu terasa seperti novel panjang yang ditulis bersama waktu. Di halaman-halaman ceritanya ada salju Jepang, daun merah musim gugur, lampu laboratorium yang tak pernah padam, dan dua orang yang saling menguatkan. Kami datang untuk belajar tentang serangga, tetapi Jepang diam-diam mengajari kami sesuatu yang lebih besar: bahwa mimpi, seperti makhluk kecil di alam, akan terus hidup selama kita menjaganya dengan ketekunan dan harapan.


