Selasa, 22 Juli 2025

Persistent dan Perseverance [Gigih and "Tahan Banting"]

Tekad kuat adalah kunci. Tekad kuat adalah kunci. Sekali lagi, kuncinya adalah tekad yang kuat!

Bersekolah di Jepang adalah impian saya sejak kecil, mungkin karena dulu telah terpapar tontonan Doraemon di RCTI dan Dragon Ball di Indosiar, pagi Minggu. Pendidikan memang menjadi salah satu komoditas di Jepang. Selain karena memang keilmuan 'mereka' termasuk yang maju di wilayah Asia, kemajuan teknologi, kondisi negara yang cenderung kondusif untuk belajar, dan keunikan budaya (termasuk anime dan manga) yang menjadi salah satu daya tarik untuk melanjutkan studi ke sini

Mengingat kembali masa-masa kuliah di Jepang.

Bekerja keraslah!

Camkan ini baik-baik jikalau mau lanjut studi di Jepang. Kenapa? Karena di sini pintar saja ndak cukup. Selain harus didukung dengan attitude yang baik, juga harus ditunjang dengan kemauan untuk bekerja keras. Ini juga menjadi salah satu penilaian supervisor terhadap kita (saya) juga. Kalau Anda beruntung, Anda mungkin mendapatkan bimbingan dari supervisor yang mengerti betul bahwa waktu studi Anda sangat terbatas. Publish paper di tahun pertama (atau kedua) sangat penting dan sangaaaat membantu sekali dalam menyelesaikan studi! Karena tahun ketiga di program doktoral, "ombak"-nya sudah besar, kapal mesti kuat menahan terjangan badai, badai apa saja! Hehehe.

Meja kerja saya di Ibaraki University (dokumen pribadi, 2020)

Orang Jepang itu bak semut pekerja. Mereka itu gigih dan sabar. Orang Jawa bilang: Alon-alon asal kelakon. Sangat hati-hati dan sangat gigih, persistence and perseverance, terutama jika mau menembus paper dengan impact factor yang tinggi. Sebagai mahasiswa yang posisi hierarkinya paling rendah, waktu itu (D1-2), ya kita harus manut. Manut adalah juga salah satu kunci, dan kita harus mengikuti persistent dan perseverance-nya supervisor kita, walaupun kadang kita harus berkorban dengan molornya studi kita. Hal ini terjadi pada saya dan istri saya, sampai-sampai pukul-pukul kepala saking hectic dan pressure-nya. 

Banyak orang yang ndak percaya saat saya bilang orang Jepang itu kayak orang Jawa. Mereka lain di mulut lain di hati [honne tatemae/本音と建前]. Jikalau ada apa-apa, mereka tidak ngomong di depan, bisa jadi ngomong di belakang atau lebih ekstrim lagi, misal, tiba-tiba Anda diberi tugas yang berat di luar studi utama kita. Halah! Sudah menjadi budaya orang Jepang untuk selalu memperhatikan kepentingan umum dan tidak mengganggu lingkungan, sehingga orang Jepang sangat pandai menutup emosi mereka, menutupi ketidaksukaan, ketidaknyamanan, atau ketidaksetujuan mereka di hadapan kita, demi menjaga dinamika lingkungan di lab. Situasi seperti inilah yang berpotensi menimbulkan drama, dengan diawali ketidak-sepahaman. Jadi, ini bukan masalah komunikasi semata, tapi masalah persepsi budaya juga. Kecuali soal agama, saya termasuk keras dalam memperjuangkan iman Islam saya! Bahkan shalat Jum'at di mesjid Pakistan dengan jarak 2 jam perjalanan dari kampus saya jabanin! Kalau soal sembah menyembah, saya intoleran 😁.

Masih ada banyak poin lagi yang bisa dikupas tentang Jepang dari perspektif saya, yang intinya "studi di Jepang (mungkin) tidak seindah yang Anda duga", hehehe. Bukan bermaksud menakut-nakuti tapi hal-hal seperti ini perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk lanjut studi di Jepang, sehingga nantinya tak kecewa ketika menemukan fakta yang tidak seindah kelihatannya di social media, huahahaha. Tapi kembali lagi, ini hanya opini saya. 

Tonton juga channel YT kamihttps://www.youtube.com/@diyonahandru8617 .