Agak lebih berat bagi Muslim tropis seperti saya selain berpuasa Ramadhan di negeri Jepang yang masuk ke dalam Tropic of Cancer pada awal musim panas. Malam gelap hanya sekejap lalu sekonyong-konyong memuntahkan siang dan lagipula siang betah sekali berlama-lama. Tidak kurang dari tujuh belas jam matahari bercokol di langit Northern Hemisphere. Setelah berbuka seadanya dan tarawih, saya belajar sampai larut lalu tertidur karena letih. Terbangun melangkahi subuh. Hanguslah sahur yang penting itu. Sekarang perut serasa ditinju Manny Pacquiao. Sementara puasa telah menginjak minggu terakhir. Daya tahan kian rontok dan daya penciuman makin tajam, bahkan bisa saya cium bau makanan dari ruang makan bersama lab di sebelah. Ganbareee....
Summer, June 1, 2019
JAPAN
Selesai kuliah S-2 dulu, saya teringat, betapa saya sudah banyak “menyebar” surat lamaran kerja ke berbagai institusi. Saya ingat dulu, ketika saya selesai S-1, juga begitu. Ini bagaikan de javu saja cuma beda strata. Kembali saya ke kampung halaman, membantu Bapak saya di toko, mengangkut-angkut karpet, lemari, dan properti-properti toko lainnya. Di keluarga saya, saya mungkin satu-satunya yang tidak punya jiwa berdagang, hanya tahu soal angkut-mengangkut. Perihal angkut-mengangkut ini, terkadang saya kasihan sekaligus heran pada Bapak, usianya sudah memasuki angka 55 pada tahun ini, namun masih kuat soal angkat-mengangkat beban berat. Di kampung halaman, sembari menunggu panggilan kerja, saya melakukan hal yang sama seperti dulu: melamar beasiswa.
Berhari-hari, berminggu-minggu, dan berbulan-bulan saya jalani
aktifitas yang sama: ketika masuk waktu sesudah Dhuha, saya membuka toko --- ketika sudah masuk waktu sebelum Maghrib, saya menutup toko.
Ibunda sekali waktu pernah berujar,”Lay, kau pergilah dari rumah”.
“Kenapa begitu, Bunda?”, jawab saya.
“Sudah pekak telingaku mendengar perkataan mulut orang tentang dirimu. Kuliah
sudah tinggi-tinggi, akhirnya jadi kuli jua (maksudnya: membantu-bantu Bapak di toko). Pergilah kau merantau lagi,
tinggal di sana, jangan dulu kau pulang sebelum kau mapan”, kata Ibunda.
Akhirnya pergilah saya ke Jepang, melanjutkan kuliah. Beasiswa.
Mendapatkan beasiswa pemerintah Jepang ini bukan main panjang prosesnya, rumit
soal-soalnya, berkeringat-keringat dingin saat wawancaranya. Saya sudah mengerahkan
segenap kekuatan dalam ‘pertempuran’
ini. Biasanya saya berdoa dengan menengadahkan tangan sebatas dada, tapi kali
ini demi mendapatkan beasiswa: kedua tangan saya sedekapkan dan saya angkat
tinggi-tinggi di atas ubun-ubun kepala sambil berdoa,”Ya Allah… minta tolonglah
hamba, ya Allah… minta tolong Engkau luluskan hamba-Mu ini mendapatkan
beasiswa… ”. Rupanya orang yang teraniaya itu doanya makbul... hehehe. Alhamdulillah… berkat
doa dan dukungan keluarga, pujaan hati (Alhamdulillah, si dia yang dulu calon
istri kini sudah resmi menjadi istri, juga berkesempatan melanjutkan
sekolah) dan teman –teman terdekat, saya bisa lulus tes beasiswa untuk kuliah
tingkat doktoral.
Masih pula saya ingat pesan Bapak di bandara sebelum kami berangkat bersekolah ke negeri orang. Bapak berkata bahwa beliau bangga saya bisa mencapai apa yang tidak pernah dicapainya. Saya bangga Bapak mengatakan itu karena itu berarti beliau melihat dirinya dalam diri saya.
Masih pula saya ingat pesan Bapak di bandara sebelum kami berangkat bersekolah ke negeri orang. Bapak berkata bahwa beliau bangga saya bisa mencapai apa yang tidak pernah dicapainya. Saya bangga Bapak mengatakan itu karena itu berarti beliau melihat dirinya dalam diri saya.
Buatlah visi yang mampu menciptakan dirimu menjadi manusia yang luar biasa dan tangguh. Mampu mengatasi semua masalah yang akan menerpa ketika menjalani hidup nanti. Menurut John C. Maxwell, ada empat kelompok manusia yang didasarkan pada visi mereka:
1. Orang yang tidak memiliki visi (Pengembara)
2. Orang yang memiliki visi, tapi tidak mampu mengejarnya sendiri (Pengikut)
3. Orang yang memiliki visi dan mengejarnya (Peraih Prestasi)
4. Orang yang memiliki visi, mengejarnya, dan membantu orang lain melihatnya (Pemimpin)