--------------------------------------------------------------------
Pesan dan testimoni untukmu wahai adikku yang tampan, Alejamaoelaj.
--------------------------------------------------------------------
- Nicholas Syahroni -
-------
Alejamaoelaj, adikku, ingatlah bahwa tidak ada hal yang sia-sia dalam sebuah usaha untuk belajar. Maknailah bahwa setiap tetes keringat akan dibalas-Nya dengan manfaat yang besar di masa depan dan jangan lupa kau bersyukur!
Banyak orang di luar sana yang memimpikan berlelah-lelah dalam belajar seperti ini, tapi mungkin belum berkesempatan... Nikmatilah, maknailah, bersyukurlah... Lelahmu akan hilang seketika kau sejenak beristirahat, tapi ilmu yang kau dapatkan akan kau bawa sampai nanti. Bila kau ajarkan (ilmu itu) maka akan mengalir pula amal untukmu. Apapun disiplin ilmunya, bersemangatlah, tiada ilmu yang tak berharga selama tidak melanggar syariat.
Imam Syafi'i pernah berkata yang di sini aku kutip:"Jika kau tak tahan lelahnya belajar, maka bersiaplah menanggung perihnya kebodohan".
------
Visi hebatnya, kemauannya untuk terus belajar, dan perubahan-perubahan yang terus dilakukannya sudah seharusnya menjadikan segala omongan buruk tentang dia sebagai salah satu cara bodoh untuk membuang-buang waktu. Kemampuan yang paling luar biasa darinya adalah kehendaknya untuk berhasil, mendorong dirinya melampaui keterbatasan, dan tidak pernah menyerah bahkan ketika peluang ditumpuk terhadap dirinya.
Banyak orang di luar sana yang memimpikan berlelah-lelah dalam belajar seperti ini, tapi mungkin belum berkesempatan... Nikmatilah, maknailah, bersyukurlah... Lelahmu akan hilang seketika kau sejenak beristirahat, tapi ilmu yang kau dapatkan akan kau bawa sampai nanti. Bila kau ajarkan (ilmu itu) maka akan mengalir pula amal untukmu. Apapun disiplin ilmunya, bersemangatlah, tiada ilmu yang tak berharga selama tidak melanggar syariat.
Imam Syafi'i pernah berkata yang di sini aku kutip:"Jika kau tak tahan lelahnya belajar, maka bersiaplah menanggung perihnya kebodohan".
------
- Bojes Alaudin -
------
Alejamaoelaj, camkan kata-kata abangmu ini:"Kamu harus cerdas karena kamu dituntut untuk melewati proses seleksi yang memeras otak dan stamina. Cerdas sekedar pintar saja tak cukup. Kamu harus memiliki stamina intelegensia yang hebat dan emosi yang terkendali. Aku pun tak tahu, pencapaianmu ini mungkin benar adalah suatu keberuntungan atau buah dari jerih payahmu, atau memang takdirmu. Tak pahamlah aku!"
Gunakan saja kesempatan ini untuk dirimu agar bisa menjadi orang yang berubah dan berkelanalah! Sejatinya pengembaraan seringkali terbukti melahirkan banyak pengetahuan dan ilmu baru. Pada intinya banyak yang harus kita pelajari. Do it for a reason.
-----------------------------------------------
Menempuh studi lanjut di negara maju seperti Jepang mungkin menjadi cita-cita sebagian besar peneliti, dosen, atau mahasiswa. Tidak lain karena konon Jepang gudangnya ilmu dan tekhnologi, walaupun negara ini pernah 'mundur' dahulunya oleh sebab kalah perang. Kecuali itu sistem pendidikan di Jepang dirasa cocok dengan tradisi pendidikan di Indonesia.
Pertengahan tahun 2017, Alejamaoelaj memperoleh beasiswa untuk studi program doktor di Jepang. Beasiswa sebesar ¥146.000-148.000/bulan terasa besar sekali, bagi orang miskin seperti dia. Karena terbiasa hidup sederhana, semangat berhemat pun tertanam dalam dirinya. Setiap minggu Alejamaoelaj mengusahakan agar berbelanja bahan makanan sehemat-hematnya untuk beras, sayuran, telur, daging halal, ikan, dan buah. Setelah dikurangi biaya sewa tempat tinggal (apato), membayar listrik, air atau gas, serta asuransi, Alejamaoelaj masih bisa mengirim sisa uang beasiswa untuk orangtuanya dan istrinya yang juga sedang berkuliah di Tokyo. Walau terpisah kota namun nafkah untuk istri harus tetap dilaksanakan meski bersua istri hanya beberapa kali dalam sebulan. Meski miskin sebenarnya hidup Alejamaoelaj cukup makmur karena di apato tersedia perabot yang kalau di Indonesia hanya dipunyai keluarga berkecukupan seperti kulkas, kompor listrik, AC, mesin cuci, microwave dan shower mandi air panas/dingin.
Di Mito, setiap hari Alejamaoelaj disesaki ilmu-ilmu baru dan --- karena itulah --- terhuyung-huyung mengejar ketertinggalannya. 茨城大学, Ibaraki Daigaku - Ibaraki University - Universitas Ibaraki, salah satu universitas di negara Jepang, universitas negeri dengan reputasi cukup mentereng dan belum cukup terkenal tapi di sanalah Alejamaoelaj menuntut ilmu biologi serangga-nya di bawah bimbingan Jun-ichi Kojima, profesor enerjik yang amat terhormat. Hanya ada sekitar tujuh profesor dengan spesialisasi social insect of Vespidae (tawon sosial) di dunia, Kojima-sensei salah satunya, dan salah satu yang terbaik. Alejamaoelaj bertekad untuk sungguh-sungguh memanfaatkan kesempatan ini.
Universitas Ibaraki menawarkan padanya sebuah petualangan intelektualitas dengan kemungkinan dan kesempatan yang amat luas. Dia datang duduk menyimak kuliah dan membaca publikasi ilmiah di perpustakaan dan di lab selama masing-masing dua jam tapi pengetahuan yang didapat senilai kuliah satu semester waktu di tanah air. Di saat mahasiswa-mahasiswi Jepang mem-presentasi-kan paper penelitian yang berbobot dan berkualitas tinggi, Alejamaoelaj hanya diam: antara menyimak dan tidak mengerti sama sekali (inilah salah satu efek tidak diberi ASI ketika bayi). Secara terpaksa, dapat dikatakan bahwa dia menyerap ilmu filsafat, evolusi, biogeografi, dan filogeni sekaligus, dan Al-Biruni (Bapak Bumi Bulat) pasti mengatakan Alejamaoelaj menyerap begitu banyak pelajaran dalam satuan waktu yang relatif singkat.
Selama beberapa bulan menetap di Jepang, Alejamaoelaj memerhatikan bahwa budaya di Jepang dan Indonesia begitu berbeda, apalagi soal kepercayaan. Orang-orang Jepang memang percaya adanya Tuhan, tapi mereka tidak punya menjalankan agama (agnostik). Sebagian malah atheis. Yang dipikirkan (mayoritas) orang Jepang hanya bagaimana menjalin relasi dengan banyak orang, tanpa memikirkan bagaimana caranya membangun hubungan dengan Tuhan. Mereka --- orang-orang Jepang itu --- memang tampak berhasil secara sosial tapi sebenarnya gagal secara individu.
Sempat tidak percaya, bagaimana bisa seorang Alejamaoelaj yang biasa-biasa saja mampu mendapatkan kesempatan luar biasa ini, bersekolah ke luar negeri, ke Jepang. Saat kuliah S-1 dan S-2 saja dirinya hampir selalu gagal mendapatkan beasiswa, pun bukan termasuk kategori mahasiswa yang berprestasi, bahkan sering sekali di-underestimate-kan, tetapi bisa juga sampai ke Jepang. Namun setelah sampai di Jepang, Alejamaoelaj semakin sadar kalau dia masih perlu banyak belajar dan Jepang bukanlah akhir dari tujuan. Studi di Jepang hanya salah satu bagian untuk mencapai tujuan itu.
Jikalau ditanya tentang kesan dan nilai apa yang sekarang tertanam pada Alejamoelaj setelah sampai di Jepang yaitu yang pertama mungkin adalah makin percaya diri. Alejamaoelaj merasa makin yakin bahwa tidak ada yang tidak mungkin atau impossible. Kalau ada keinginan dan usaha (keras), jangankan kuliah di universitas di Jepang, kuliah di kampus terbaik Dunia-pun adalah hal yang sangat mungkin. I'm possible.
Menurutnya, budaya Jepang yang perlu dicontoh adalah kedisiplinan. Alejamaoelaj merasakan kalau secara kemampuan berpikir, orang Indonesia tidak kalah dengan orang Jepang, bahkan bisa jadi orang Indonesia lebih cerdas dalam menyelesaikan masalah. Tetapi orang Jepang sangatlah disiplin dan gigih dengan apa yang mereka kerjakan. Terutama soal waktu, mereka sangat menjunjung tinggi disiplin waktu. Alejamaoelaj tidak bilang kalau kehidupan di sini lebih baik dari Indonesia, sama sekali tidak. Alejamoelaj hanya bilang kalau kehidupan di sini berbeda. Terutama tentang ritme kerja yang lebih cepat dan lebih lama dibanding di Indonesia.
"Saya terbiasa mengecek dua kali dalam satu siklus proyek atau penelitian, di titik yang sama. Ini bukan karena kurangnya ‘trust’, tapi sebaliknya untuk memotivasi agar bisa dikerjakan tepat waktu,” katanya tanpa ditanyai dan tanpa ada korelasi.
Selain itu, kerja keras juga salah satu nilai yang Alejamaoelaj coba tanamkan ke dirinya sendiri. Dia sadar diri, kalau dari segi kognitif, Alejamaoelaj jauh tertinggal di bawah teman-temannya yang lain, tetapi dengan usaha yang lebih keras, Alejamaoelaj bisa membalikkan keadaan. Alejamaoelaj bisa mengejar orang-orang yang jauh lebih pintar melebihinya. "Tidak ada yang tidak mungkin bagi orang yang mau berusaha", kata Ibu Alejamaoelaj suatu kali.
----------------------------------------------------------------
Sempat tidak percaya, bagaimana bisa seorang Alejamaoelaj yang biasa-biasa saja mampu mendapatkan kesempatan luar biasa ini, bersekolah ke luar negeri, ke Jepang. Saat kuliah S-1 dan S-2 saja dirinya hampir selalu gagal mendapatkan beasiswa, pun bukan termasuk kategori mahasiswa yang berprestasi, bahkan sering sekali di-underestimate-kan, tetapi bisa juga sampai ke Jepang. Namun setelah sampai di Jepang, Alejamaoelaj semakin sadar kalau dia masih perlu banyak belajar dan Jepang bukanlah akhir dari tujuan. Studi di Jepang hanya salah satu bagian untuk mencapai tujuan itu.
Jikalau ditanya tentang kesan dan nilai apa yang sekarang tertanam pada Alejamoelaj setelah sampai di Jepang yaitu yang pertama mungkin adalah makin percaya diri. Alejamaoelaj merasa makin yakin bahwa tidak ada yang tidak mungkin atau impossible. Kalau ada keinginan dan usaha (keras), jangankan kuliah di universitas di Jepang, kuliah di kampus terbaik Dunia-pun adalah hal yang sangat mungkin. I'm possible.
Menurutnya, budaya Jepang yang perlu dicontoh adalah kedisiplinan. Alejamaoelaj merasakan kalau secara kemampuan berpikir, orang Indonesia tidak kalah dengan orang Jepang, bahkan bisa jadi orang Indonesia lebih cerdas dalam menyelesaikan masalah. Tetapi orang Jepang sangatlah disiplin dan gigih dengan apa yang mereka kerjakan. Terutama soal waktu, mereka sangat menjunjung tinggi disiplin waktu. Alejamaoelaj tidak bilang kalau kehidupan di sini lebih baik dari Indonesia, sama sekali tidak. Alejamoelaj hanya bilang kalau kehidupan di sini berbeda. Terutama tentang ritme kerja yang lebih cepat dan lebih lama dibanding di Indonesia.
"Saya terbiasa mengecek dua kali dalam satu siklus proyek atau penelitian, di titik yang sama. Ini bukan karena kurangnya ‘trust’, tapi sebaliknya untuk memotivasi agar bisa dikerjakan tepat waktu,” katanya tanpa ditanyai dan tanpa ada korelasi.
Selain itu, kerja keras juga salah satu nilai yang Alejamaoelaj coba tanamkan ke dirinya sendiri. Dia sadar diri, kalau dari segi kognitif, Alejamaoelaj jauh tertinggal di bawah teman-temannya yang lain, tetapi dengan usaha yang lebih keras, Alejamaoelaj bisa membalikkan keadaan. Alejamaoelaj bisa mengejar orang-orang yang jauh lebih pintar melebihinya. "Tidak ada yang tidak mungkin bagi orang yang mau berusaha", kata Ibu Alejamaoelaj suatu kali.
"Saya merasa keilmuan di bidang saya masih
sangat sedikit sedangkan tantangannya sangat banyak. Maka dari itulah saya
berharap bahwa dengan berkuliah di luar negeri saya bisa mendapatkan banyak
insight dengan sudut pandang yang berbeda-beda tentang bidang keilmuan saya
mengingat kesempatan saya untuk berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai
negara pun terbuka lebar. Hal kedua yang memotivasi saya untuk berkuliah di
luar negeri adalah kesempatan saya untuk dapat mempelajari nilai-nilai
kehidupan yang mungkin akan lebih banyak saya dapatkan ketika saya berada di
luar zona nyaman saya (Indonesia). I am going to study at Ibaraki University for three years from now on. When I entered the college, I actually never thought about going abroad. However, when I discussed with international students, I felt that I want to be in an environment where I can challenge myself and grow, and eventually decided to pursue study abroad".
"Sistem perkuliahan di sini sejujurnya tidak jauh berbeda
dengan di Indonesia baik itu suasana belajar di kelas maupun ujiannya. Mungkin
yang membedakan dengan di Indonesia terletak di porsi risetnya. Di sini porsi
riset lebih banyak dibandingkan dengan kuliahnya (jika ada kuliah). Sebagai contoh dalam satu
minggu saya bisa saja hanya memiliki satu kelas namun bukan berarti saya bisa
pulang setelah kelas berakhir. Saya masih harus menghabiskan waktu saya di
student room/laboratorium minimal 8 jam dalam sehari", ujar Alejamaoelaj saat diwawancarai salah satu reporter majalah anak-anak BOUBOU.
Lebih dari itu semua, hal ini bisa ia lakukan karena kecintaannya terhadap sains. “Sains itu dasar ilmu. Sains membantu ilmu hilir lain untuk kuat. Kalau mengerti sains, bisa belajar apa saja", kata Alemaoelaj. Kali lain dia pernah berujar:"Biarlah saya menjadi batu pijakan agar orang lain lebih maju, agar lebih termotivasi, (dengan melihat) bahwa saya saja ---bodoh begini--- bisa, apalagi kalian-kalian yang lebih pintar dari saya! Itu".
my Kawasaki NINJA 400 ;^P
@berkuliah.com
-----------------------------------------------------
oleh : @rifnatakusumah a.k.a Arif (wartawan majalah BOLA, diangkat sebagai abang oleh Alejamaoelaj karena neneknya bang Arif dengan neneknya Alejamaoelaj adalah sama-sama nenek-nenek)
Tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan tanpa
usaha dan keyakinan. Itulah yang gw percayai setelah gw terkagum-kagum pada
satu klub sepakbola. Menjelma menjadi resolusi hidup dan merupakan bukti
bekerjanya proses yang benar dalam metamorfosis sebuah kesuksesan. Pada
keberhasilan klub sepakbola dari Liga Inggris Swansea City yang menjuarai Piala
Liga Inggris yang dihelat tahun 2013.
Padahal,
adakah yang kenal pada Swansea City FC sepuluh tahun sebelumnya? Tanpa
perubahan, pengorbanan, dan kesabaran, rasanya mata dunia kini tidak akan
menoleh pada klub sepakbola yang markasnya ada di selatan Wales ini. Tanpa
keberanian menempatkan the right man on
the right place, rasanya mustahil mereka bisa sukses sembari bermain enak
ditonton.
Klasemen
akhir 2002/03 jadi saksi siapa Swansea, klub yang berusia seratusan tahun
lebih. Saat Manchester United menjuarai kasta pertama, Portsmouth lolos ke Premier
League usai menjuarai Championship, alias Divisi Satu. Di kasta kedua dari
piramida sepakbola Inggris tersebut, sebagai info, nangkring Bradford City di
posisi 19. Untuk menegaskan perbandingan, waktu itu Reading bercokol di posisi
empat, Norwich City delapan, dan Stoke City di urutan 21!
Pada
saat yang sama, Wigan Athletic juga promosi dari Footbal League One, alias
Divisi Dua alias kasta ketiga. Di kasta keempat atau Divisi Tiga atau League
Two, Rushden & Diamonds menjuarai liga dan lolos promosi ke League One.
Swansea City juga berada di kasta ini dan berada di urutan ke-21! Mereka mujur
tak terdegradasi ke Conference National, alias Divisi Empat, alias kasta
kelima.
Jika
ditarik garis lurus maka sepuluh tahun sebelumnya, posisi Swansea City itu
berselisih 88 level dari Chelsea, yang mereka kalahkan sebelumnya di
semifinal Piala Liga. Kini tengok yang
tengah terjadi pada 2012/13. Portsmouth ada di dasar jurang League 1. Bradford
di urutan sebelas League 2. Reading, Norwich, Wigan, dan Stoke juga berada di
Premier League, tapi semua posisi mereka di bawah Swansea.
Di dalam
sepuluh tahun, Swansea telah memangkas 82 tingkat lantaran sekarang selisih
dengan Chelsea tinggal enam level saja. Lalu, apa kabarnya Rushden & Diamonds, juara League 2 di saat Swansea nyaris terdegradasi saat itu??? Gw
beritahu: telah almarhum! Pada Juni 2011, The Diamonds divonis FA tidak layak
mengikuti kompetisi karena bangkrut.
Betapa jauh The Swans telah
melangkah. Sampai sejauh ini. Bukan main. Dari bukan siapa-siapa menjadi
kampiun piala liga. Tentu, semua diraih karena menempatkan the right man on the right place, menempatkan seseorang yang
menyuntikkan energi yakin pada tiap diri pemain. Karena keyakinan dapat
meruntuhkan segala ketidakmungkinan.






