Jumat, 07 November 2025

東京ラブストーリー, Tōkyō Rabusutōrī 2025

Perjalanan Lima Tahun: 

Cerita Studi Doktoral di Ibaraki University & TMU (2017–2022)

Teringat, musim gugur tahun 2017 menjadi awal dari sebuah babak baru dalam hidup saya dan istri, Diyona Putri, Ph.D. Dengan langkah penuh harapan, kami meninggalkan tanah air menuju Jepang untuk memulai perjalanan panjang di Ibaraki University dan Tokyo Metropolitan University. Saat pesawat Garuda Indonesia mendarat, hati kami dipenuhi campuran antara semangat dan kegelisahan. Di hadapan kami terbentang perjalanan panjang yang belum kami tahu akan seberat apa. September 2017, udara saat itu dingin sampai agak sesak bernafas, dedaunan momiji berubah warna, dan setiap langkah menuju kampus terasa seperti memasuki dunia baru yang sarat tantangan sekaligus peluang.

Hidup di Jepang bukan sekadar tentang menempuh studi doktoral, tetapi juga tentang belajar memahami budaya disiplin, kesederhanaan, dan ketekunan yang mengakar dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Hari-hari pertama di Jepang terasa seperti mimpi yang menantang. Bahasa yang asing, cuaca yang menusuk tulang, ritme kerja laboratorium yang ketat, dan tuntutan akademik yang tinggi sering kali membuat kami merasa kecil. Di balik keindahan bunga sakura dan keteraturan kehidupan Jepang, ada malam-malam panjang yang kami habiskan menatap layar komputer, menganalisis data yang tak kunjung sesuai harapan, atau menulis laporan penelitian yang direvisi berkali-kali oleh profesor pembimbing. Di laboratorium, hari-hari kami diisi dengan riset yang menuntut ketelitian tinggi, diskusi ilmiah yang intens, dan semangat pantang menyerah dalam menghadapi kegagalan eksperimen yang tak terhitung jumlahnya. Namun di luar laboratorium, kami menemukan keindahan kecil dalam setiap detail kehidupan—dari menikmati bento (seringkali itu udon) di taman kampus, hingga menyapa tetangga kakek-nenek yang selalu ramah setiap pagi.

Diyona dan saya saling menjadi penopang satu sama lain. Kami melalui masa-masa sulit—tekanan akademik, keterbatasan waktu, hingga rindu yang tiba-tiba menyeruak akan keluarga di tanah air. Namun kebersamaan kami menjadikan semua itu terasa lebih ringan. Di sela-sela kesibukan penelitian, kami belajar bahwa cinta dan komitmen adalah energi yang tak kalah kuat dari teori dan data.

Tak jarang terlintas di benak kami: bagaimana jika gagal? Bayangan pulang ke tanah air tanpa gelar, tanpa hasil, menjadi ketakutan yang nyata. Ada saat-saat di mana rasa putus asa begitu kuat, hingga kami berpikir betapa malunya nanti jika harus kembali ke kampung halaman dengan tangan kosong. Namun di titik-titik itulah kami belajar arti sesungguhnya dari keteguhan hati. Kami berdua saling menguatkan, saling mengingatkan bahwa setiap kesulitan adalah bagian dari proses menuju kematangan diri.

Musim berganti, dari dinginnya salju musim dingin hingga hangatnya bunga sakura yang bermekaran setiap musim semi. Setiap pergantian musim menjadi simbol dari perjalanan batin kami—dari keraguan menuju keyakinan, dari perjuangan menuju pencapaian. Kami belajar bahwa menjadi seorang peneliti atau akademisi bukan sekadar tentang menemukan jawaban, tetapi tentang terus mempertanyakan, memahami, dan memberi makna bagi ilmu pengetahuan.

Musim semi tahun 2022 menandai akhir perjalanan akademik kami di Jepang. Istri saya wisuda dari Tokyo Metropolitan University. Ada selang waktu satu tahun dari saya wisuda pada musim semi 2021. Hari itu, langit cerah, sakura bermekaran indah di sekitar kampus, seolah ikut merayakan keberhasilan kami menuntaskan studi doktoral. Ketika ijazah diberikan dan nama istri dipanggil maju menuju dekan Fakultas Sciences, ada rasa haru yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata—rasa syukur atas setiap langkah, setiap air mata, dan setiap doa yang mengantarkan kami hingga ke titik itu. Perjalanan doktoral itu tidak hanya menempa kami sebagai akademisi, tetapi juga sebagai manusia. Kami belajar bahwa kekuatan bukanlah ketiadaan rasa takut, melainkan keberanian untuk terus melangkah meski rasa takut itu ada. Bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan bagian dari proses menuju kedewasaan ilmiah dan pribadi.

Kini, setelah kembali ke tanah air, kami membawa lebih dari sekadar gelar doktor. Kami membawa nilai-nilai ketekunan, rasa ingin tahu tanpa batas, dan tekad untuk berbagi ilmu bagi generasi berikutnya. Perjalanan di Jepang bukan hanya kisah akademik, melainkan perjalanan hidup yang mengajarkan arti sesungguhnya dari kesabaran, kerja keras, dan cinta yang tumbuh bersama dalam lima musim yang tak terlupakan. Jepang bukan hanya tempat kami menimba ilmu, tetapi juga tempat kami ditempa menjadi versi terbaik dari diri kami.

Dokumen pribadi (2021)


kota Tokyo dengan latar belakang Gunung Fuji
Sumber foto: Japan Guide

 bersambung ...




Jumat, 26 September 2025

Neon Gen Eva Arnaz

Menurut Buya HAMKA, falsafah hidup yang sejati adalah hidup yang memiliki tujuan jelas, yakni mencari ridha Allah dengan beribadah, beramal saleh, dan memberi manfaat kepada sesama. Hidup harus dijalani secara seimbang antara urusan dunia dan akhirat, tanpa meninggalkan salah satunya. Manusia diberi kebebasan oleh Allah untuk memilih jalan hidup, tetapi kebebasan itu harus diiringi dengan tanggung jawab moral terhadap diri, masyarakat, dan Tuhannya. Segala amal hendaknya dilandasi keikhlasan dan kejujuran, sebab tanpa keduanya hidup akan kehilangan nilai. Nilai sejati seseorang bukan terletak pada harta atau kedudukannya, melainkan pada seberapa besar manfaat yang ia berikan kepada orang lain. Dalam menghadapi cobaan, kesabaran, keteguhan hati, serta rasa syukur harus menjadi pegangan. Dan yang paling penting, HAMKA menegaskan bahwa cinta adalah inti kehidupan—cinta kepada Allah, sesama manusia, dan alam semesta—sebagai energi yang membuat hidup penuh makna dan bernilai.


https://youtu.be/N01b-zw1Z9A?si=8YW1sKTV-Mrnb1ER




Selasa, 22 Juli 2025

Persistent dan Perseverance [Gigih and "Tahan Banting"]

Tekad kuat adalah kunci. Tekad kuat adalah kunci. Sekali lagi, kuncinya adalah tekad yang kuat!

Bersekolah di Jepang adalah impian saya sejak kecil, mungkin karena dulu telah terpapar tontonan Doraemon di RCTI dan Dragon Ball di Indosiar, pagi Minggu. Pendidikan memang menjadi salah satu komoditas di Jepang. Selain karena memang keilmuan 'mereka' termasuk yang maju di wilayah Asia, kemajuan teknologi, kondisi negara yang cenderung kondusif untuk belajar, dan keunikan budaya (termasuk anime dan manga) yang menjadi salah satu daya tarik untuk melanjutkan studi ke sini

Mengingat kembali masa-masa kuliah di Jepang.

Bekerja keraslah!

Camkan ini baik-baik jikalau mau lanjut studi di Jepang. Kenapa? Karena di sini pintar saja ndak cukup. Selain harus didukung dengan attitude yang baik, juga harus ditunjang dengan kemauan untuk bekerja keras. Ini juga menjadi salah satu penilaian supervisor terhadap kita (saya) juga. Kalau Anda beruntung, Anda mungkin mendapatkan bimbingan dari supervisor yang mengerti betul bahwa waktu studi Anda sangat terbatas. Publish paper di tahun pertama (atau kedua) sangat penting dan sangaaaat membantu sekali dalam menyelesaikan studi! Karena tahun ketiga di program doktoral, "ombak"-nya sudah besar, kapal mesti kuat menahan terjangan badai, badai apa saja! Hehehe.

Meja kerja saya di Ibaraki University (dokumen pribadi, 2020)

Orang Jepang itu bak semut pekerja. Mereka itu gigih dan sabar. Orang Jawa bilang: Alon-alon asal kelakon. Sangat hati-hati dan sangat gigih, persistence and perseverance, terutama jika mau menembus paper dengan impact factor yang tinggi. Sebagai mahasiswa yang posisi hierarkinya paling rendah, waktu itu (D1-2), ya kita harus manut. Manut adalah juga salah satu kunci, dan kita harus mengikuti persistent dan perseverance-nya supervisor kita, walaupun kadang kita harus berkorban dengan molornya studi kita. Hal ini terjadi pada saya dan istri saya, sampai-sampai pukul-pukul kepala saking hectic dan pressure-nya. 

Banyak orang yang ndak percaya saat saya bilang orang Jepang itu kayak orang Jawa. Mereka lain di mulut lain di hati [honne tatemae/本音と建前]. Jikalau ada apa-apa, mereka tidak ngomong di depan, bisa jadi ngomong di belakang atau lebih ekstrim lagi, misal, tiba-tiba Anda diberi tugas yang berat di luar studi utama kita. Halah! Sudah menjadi budaya orang Jepang untuk selalu memperhatikan kepentingan umum dan tidak mengganggu lingkungan, sehingga orang Jepang sangat pandai menutup emosi mereka, menutupi ketidaksukaan, ketidaknyamanan, atau ketidaksetujuan mereka di hadapan kita, demi menjaga dinamika lingkungan di lab. Situasi seperti inilah yang berpotensi menimbulkan drama, dengan diawali ketidak-sepahaman. Jadi, ini bukan masalah komunikasi semata, tapi masalah persepsi budaya juga. Kecuali soal agama, saya termasuk keras dalam memperjuangkan iman Islam saya! Bahkan shalat Jum'at di mesjid Pakistan dengan jarak 2 jam perjalanan dari kampus saya jabanin! Kalau soal sembah menyembah, saya intoleran 😁.

Masih ada banyak poin lagi yang bisa dikupas tentang Jepang dari perspektif saya, yang intinya "studi di Jepang (mungkin) tidak seindah yang Anda duga", hehehe. Bukan bermaksud menakut-nakuti tapi hal-hal seperti ini perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk lanjut studi di Jepang, sehingga nantinya tak kecewa ketika menemukan fakta yang tidak seindah kelihatannya di social media, huahahaha. Tapi kembali lagi, ini hanya opini saya. 

Tonton juga channel YT kamihttps://www.youtube.com/@diyonahandru8617 .



Jumat, 14 Maret 2025

Barba non facit philosophum

Saya pernah ditanyai: apa pelajaran hidup/cerita unik kamu ketika S-3 di luar negeri yang sekiranya membuatmu menjadi pribadi yang lebih baik?

------------------------------------------------------------------------------------------------------

1. Berkonfliklah!

Bagi saya yang culun, saya selalu diajarkan oleh nenek saya bahwa "menghindari konflik itu baik, marah itu berdosa," dsb. Gara-gara prinsip itu saya selalu dimanfaatkan oleh orang lain. Saat saya S-3, saya diajari oleh Sensei saya untuk mengekspresikan ketidaksukaan saya akan suatu hal. Jadi ketika saya tidak menyukai suatu hal, saya perlu mengekspresikannya via 5W + 1H (what, where, when, who, why + how) sehingga gerutuan saya lebih terstruktur dan orang lain tahu letak kekecewaan saya. Terakhir, saya belajar untuk tidak meminta maaf kalau saya marah karena dikecewakan oleh seseorang. 😅


2. Orang normal meng-agama-kan sains, orang cerdas memahami agama dan sains

Salah satu penyakit orang-orang yang gagap pengetahuan atau baru kenal filosofi adalah membuang semua hal berbau agama karena dianggap "ketinggalan zaman" dan "tidak kompatibel dengan sains." Mereka mereduksi Tuhan sebagai "bualan orang-orang bodoh yang tidak kenal modernitas dan metode ilmiah," serta mengejek agama sebagai "candu untuk orang-orang malas yang ogah maju." Orang-orang yang gagap pengetahuan mengganti Rasulullah مُحَمَّد dengan Charles Darwin, Nabi Isa/Yesus dengan Newton, atau Al-Quran dengan Brief History of Time. Mereka memamerkan kutipan dari artikel Elsevier atau MDPI layaknya kutipan kitab suci — dan siapapun yang berseberangan dengan kutipan ayat-ayat Kitab Elsevier ini, perlu dilabeli sebagai "jahil tak terdidik, tak tahu pengetahuan, bahlul tidak ilmiah."Tidakkah mereka ingat bahwa sains itu hidup dengan dialektika & diskusi pandangan-pandangan yang berbeda? Lupakah mereka kalau banyak ilmuwan peletak dasar-dasar sains (misal kalkulus, astronomi, genetika, dan kimia) yang merupakan agamawan di masanya?"

Ketika saya dan istri mengalami lockdown di Jepang (2020), saya melihat semua rencana rapi yang saya buat untuk menuntaskan secara cepat S-3 berantakan. Di situlah saya makin mengenal Tuhan, Dia adalah energi yang bekerja di luar kendali saya sebagai seorang individu. Sepaham-pahamnya saya dengan semua teori yang bisa menjelaskan lockdown itu, saya tidak punya daya buat membatalkannya. Tawakkal, bersyukur, zikir dan shalawat adalah upaya saya untuk meyakinkan bahwa Tuhan selalu bersama hamba-Nya yang mengingat-Nya, dan itu menenangkan saya. Bagi saya, sains dan semua teorinya adalah ikhtiar/usaha manusia buat mengenal karya-karya Tuhannya. Pengetahuan material dari sains tidak bisa menggantikan pengetahuan irasional yang ditawarkan agama.

Satu lagi, hikmah yang saya dapatkan dari tinggal lama di luar negeri, yaitu: menurut saya, di Indonesia ini tidak ada insentif buat menjadi cerdas atau profesional di bidangnya. Di Jepang, kalau Anda profesional di bidangnya, sebelum lulus Anda sudah ditawari ruangan di lembaga penelitian plus rumah dinas yang bisa Anda miliki setelah sekian tahun bekerja. Sementara itu, di Indonesia, insentif diberikan ke ahli drama, tukang kibustukang egol-egolan di media sosial, dan artis tukang selingkuh! (Sigh!). Tidak ada solusi dari saya.


Saya dan istri di Gunung Takao, Tokyo, Oktober 2021




Hokkaido University, February 2019