Perjalanan Lima Tahun:
Cerita Studi Doktoral di Ibaraki University & TMU (2017–2022)
Teringat, musim gugur tahun 2017 menjadi awal dari sebuah babak baru dalam hidup saya dan istri, Diyona Putri, Ph.D. Dengan langkah penuh harapan, kami meninggalkan tanah air menuju Jepang untuk memulai perjalanan panjang di Ibaraki University dan Tokyo Metropolitan University. Saat pesawat Garuda Indonesia mendarat, hati kami dipenuhi campuran antara semangat dan kegelisahan. Di hadapan kami terbentang perjalanan panjang yang belum kami tahu akan seberat apa. September 2017, udara saat itu dingin sampai agak sesak bernafas, dedaunan momiji berubah warna, dan setiap langkah menuju kampus terasa seperti memasuki dunia baru yang sarat tantangan sekaligus peluang.
Hidup di Jepang bukan sekadar tentang menempuh studi doktoral, tetapi juga tentang belajar memahami budaya disiplin, kesederhanaan, dan ketekunan yang mengakar dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Hari-hari pertama di Jepang terasa seperti mimpi yang menantang. Bahasa yang asing, cuaca yang menusuk tulang, ritme kerja laboratorium yang ketat, dan tuntutan akademik yang tinggi sering kali membuat kami merasa kecil. Di balik keindahan bunga sakura dan keteraturan kehidupan Jepang, ada malam-malam panjang yang kami habiskan menatap layar komputer, menganalisis data yang tak kunjung sesuai harapan, atau menulis laporan penelitian yang direvisi berkali-kali oleh profesor pembimbing. Di laboratorium, hari-hari kami diisi dengan riset yang menuntut ketelitian tinggi, diskusi ilmiah yang intens, dan semangat pantang menyerah dalam menghadapi kegagalan eksperimen yang tak terhitung jumlahnya. Namun di luar laboratorium, kami menemukan keindahan kecil dalam setiap detail kehidupan—dari menikmati bento (seringkali itu udon) di taman kampus, hingga menyapa tetangga kakek-nenek yang selalu ramah setiap pagi.
Diyona dan saya saling menjadi penopang satu sama lain. Kami melalui masa-masa sulit—tekanan akademik, keterbatasan waktu, hingga rindu yang tiba-tiba menyeruak akan keluarga di tanah air. Namun kebersamaan kami menjadikan semua itu terasa lebih ringan. Di sela-sela kesibukan penelitian, kami belajar bahwa cinta dan komitmen adalah energi yang tak kalah kuat dari teori dan data.
Tak jarang terlintas di benak kami: bagaimana jika gagal? Bayangan pulang ke tanah air tanpa gelar, tanpa hasil, menjadi ketakutan yang nyata. Ada saat-saat di mana rasa putus asa begitu kuat, hingga kami berpikir betapa malunya nanti jika harus kembali ke kampung halaman dengan tangan kosong. Namun di titik-titik itulah kami belajar arti sesungguhnya dari keteguhan hati. Kami berdua saling menguatkan, saling mengingatkan bahwa setiap kesulitan adalah bagian dari proses menuju kematangan diri.
Musim berganti, dari dinginnya salju musim dingin hingga hangatnya bunga sakura yang bermekaran setiap musim semi. Setiap pergantian musim menjadi simbol dari perjalanan batin kami—dari keraguan menuju keyakinan, dari perjuangan menuju pencapaian. Kami belajar bahwa menjadi seorang peneliti atau akademisi bukan sekadar tentang menemukan jawaban, tetapi tentang terus mempertanyakan, memahami, dan memberi makna bagi ilmu pengetahuan.
Musim semi tahun 2022 menandai akhir perjalanan akademik kami di Jepang. Istri saya wisuda dari Tokyo Metropolitan University. Ada selang waktu satu tahun dari saya wisuda pada musim semi 2021. Hari itu, langit cerah, sakura bermekaran indah di sekitar kampus, seolah ikut merayakan keberhasilan kami menuntaskan studi doktoral. Ketika ijazah diberikan dan nama istri dipanggil maju menuju dekan Fakultas Sciences, ada rasa haru yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata—rasa syukur atas setiap langkah, setiap air mata, dan setiap doa yang mengantarkan kami hingga ke titik itu. Perjalanan doktoral itu tidak hanya menempa kami sebagai akademisi, tetapi juga sebagai manusia. Kami belajar bahwa kekuatan bukanlah ketiadaan rasa takut, melainkan keberanian untuk terus melangkah meski rasa takut itu ada. Bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan bagian dari proses menuju kedewasaan ilmiah dan pribadi.
Kini, setelah kembali ke tanah air, kami membawa lebih dari sekadar gelar doktor. Kami membawa nilai-nilai ketekunan, rasa ingin tahu tanpa batas, dan tekad untuk berbagi ilmu bagi generasi berikutnya. Perjalanan di Jepang bukan hanya kisah akademik, melainkan perjalanan hidup yang mengajarkan arti sesungguhnya dari kesabaran, kerja keras, dan cinta yang tumbuh bersama dalam lima musim yang tak terlupakan. Jepang bukan hanya tempat kami menimba ilmu, tetapi juga tempat kami ditempa menjadi versi terbaik dari diri kami.









.jpeg)








