Tampilkan postingan dengan label 20th Century Boys. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 20th Century Boys. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 November 2025

東京ラブストーリー, Tōkyō Rabusutōrī 2025

Perjalanan Lima Tahun: 

Cerita Studi Doktoral di Ibaraki University & TMU (2017–2022)

Teringat, musim gugur tahun 2017 menjadi awal dari sebuah babak baru dalam hidup saya dan istri, Diyona Putri, Ph.D. Dengan langkah penuh harapan, kami meninggalkan tanah air menuju Jepang untuk memulai perjalanan panjang di Ibaraki University dan Tokyo Metropolitan University. Saat pesawat Garuda Indonesia mendarat, hati kami dipenuhi campuran antara semangat dan kegelisahan. Di hadapan kami terbentang perjalanan panjang yang belum kami tahu akan seberat apa. September 2017, udara saat itu dingin sampai agak sesak bernafas, dedaunan momiji berubah warna, dan setiap langkah menuju kampus terasa seperti memasuki dunia baru yang sarat tantangan sekaligus peluang.

Hidup di Jepang bukan sekadar tentang menempuh studi doktoral, tetapi juga tentang belajar memahami budaya disiplin, kesederhanaan, dan ketekunan yang mengakar dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Hari-hari pertama di Jepang terasa seperti mimpi yang menantang. Bahasa yang asing, cuaca yang menusuk tulang, ritme kerja laboratorium yang ketat, dan tuntutan akademik yang tinggi sering kali membuat kami merasa kecil. Di balik keindahan bunga sakura dan keteraturan kehidupan Jepang, ada malam-malam panjang yang kami habiskan menatap layar komputer, menganalisis data yang tak kunjung sesuai harapan, atau menulis laporan penelitian yang direvisi berkali-kali oleh profesor pembimbing. Di laboratorium, hari-hari kami diisi dengan riset yang menuntut ketelitian tinggi, diskusi ilmiah yang intens, dan semangat pantang menyerah dalam menghadapi kegagalan eksperimen yang tak terhitung jumlahnya. Namun di luar laboratorium, kami menemukan keindahan kecil dalam setiap detail kehidupan—dari menikmati bento (seringkali itu udon) di taman kampus, hingga menyapa tetangga kakek-nenek yang selalu ramah setiap pagi.

Diyona dan saya saling menjadi penopang satu sama lain. Kami melalui masa-masa sulit—tekanan akademik, keterbatasan waktu, hingga rindu yang tiba-tiba menyeruak akan keluarga di tanah air. Namun kebersamaan kami menjadikan semua itu terasa lebih ringan. Di sela-sela kesibukan penelitian, kami belajar bahwa cinta dan komitmen adalah energi yang tak kalah kuat dari teori dan data.

Tak jarang terlintas di benak kami: bagaimana jika gagal? Bayangan pulang ke tanah air tanpa gelar, tanpa hasil, menjadi ketakutan yang nyata. Ada saat-saat di mana rasa putus asa begitu kuat, hingga kami berpikir betapa malunya nanti jika harus kembali ke kampung halaman dengan tangan kosong. Namun di titik-titik itulah kami belajar arti sesungguhnya dari keteguhan hati. Kami berdua saling menguatkan, saling mengingatkan bahwa setiap kesulitan adalah bagian dari proses menuju kematangan diri.

Musim berganti, dari dinginnya salju musim dingin hingga hangatnya bunga sakura yang bermekaran setiap musim semi. Setiap pergantian musim menjadi simbol dari perjalanan batin kami—dari keraguan menuju keyakinan, dari perjuangan menuju pencapaian. Kami belajar bahwa menjadi seorang peneliti atau akademisi bukan sekadar tentang menemukan jawaban, tetapi tentang terus mempertanyakan, memahami, dan memberi makna bagi ilmu pengetahuan.

Musim semi tahun 2022 menandai akhir perjalanan akademik kami di Jepang. Istri saya wisuda dari Tokyo Metropolitan University. Ada selang waktu satu tahun dari saya wisuda pada musim semi 2021. Hari itu, langit cerah, sakura bermekaran indah di sekitar kampus, seolah ikut merayakan keberhasilan kami menuntaskan studi doktoral. Ketika ijazah diberikan dan nama istri dipanggil maju menuju dekan Fakultas Sciences, ada rasa haru yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata—rasa syukur atas setiap langkah, setiap air mata, dan setiap doa yang mengantarkan kami hingga ke titik itu. Perjalanan doktoral itu tidak hanya menempa kami sebagai akademisi, tetapi juga sebagai manusia. Kami belajar bahwa kekuatan bukanlah ketiadaan rasa takut, melainkan keberanian untuk terus melangkah meski rasa takut itu ada. Bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan bagian dari proses menuju kedewasaan ilmiah dan pribadi.

Kini, setelah kembali ke tanah air, kami membawa lebih dari sekadar gelar doktor. Kami membawa nilai-nilai ketekunan, rasa ingin tahu tanpa batas, dan tekad untuk berbagi ilmu bagi generasi berikutnya. Perjalanan di Jepang bukan hanya kisah akademik, melainkan perjalanan hidup yang mengajarkan arti sesungguhnya dari kesabaran, kerja keras, dan cinta yang tumbuh bersama dalam lima musim yang tak terlupakan. Jepang bukan hanya tempat kami menimba ilmu, tetapi juga tempat kami ditempa menjadi versi terbaik dari diri kami.

Dokumen pribadi (2021)


kota Tokyo dengan latar belakang Gunung Fuji
Sumber foto: Japan Guide

 bersambung ...




Jumat, 26 September 2025

Neon Gen Eva Arnaz

Menurut Buya HAMKA, falsafah hidup yang sejati adalah hidup yang memiliki tujuan jelas, yakni mencari ridha Allah dengan beribadah, beramal saleh, dan memberi manfaat kepada sesama. Hidup harus dijalani secara seimbang antara urusan dunia dan akhirat, tanpa meninggalkan salah satunya. Manusia diberi kebebasan oleh Allah untuk memilih jalan hidup, tetapi kebebasan itu harus diiringi dengan tanggung jawab moral terhadap diri, masyarakat, dan Tuhannya. Segala amal hendaknya dilandasi keikhlasan dan kejujuran, sebab tanpa keduanya hidup akan kehilangan nilai. Nilai sejati seseorang bukan terletak pada harta atau kedudukannya, melainkan pada seberapa besar manfaat yang ia berikan kepada orang lain. Dalam menghadapi cobaan, kesabaran, keteguhan hati, serta rasa syukur harus menjadi pegangan. Dan yang paling penting, HAMKA menegaskan bahwa cinta adalah inti kehidupan—cinta kepada Allah, sesama manusia, dan alam semesta—sebagai energi yang membuat hidup penuh makna dan bernilai.


https://youtu.be/N01b-zw1Z9A?si=8YW1sKTV-Mrnb1ER




Selasa, 22 Juli 2025

Persistent dan Perseverance [Gigih and "Tahan Banting"]

Tekad kuat adalah kunci. Tekad kuat adalah kunci. Sekali lagi, kuncinya adalah tekad yang kuat!

Bersekolah di Jepang adalah impian saya sejak kecil, mungkin karena dulu telah terpapar tontonan Doraemon di RCTI dan Dragon Ball di Indosiar, pagi Minggu. Pendidikan memang menjadi salah satu komoditas di Jepang. Selain karena memang keilmuan 'mereka' termasuk yang maju di wilayah Asia, kemajuan teknologi, kondisi negara yang cenderung kondusif untuk belajar, dan keunikan budaya (termasuk anime dan manga) yang menjadi salah satu daya tarik untuk melanjutkan studi ke sini

Mengingat kembali masa-masa kuliah di Jepang.

Bekerja keraslah!

Camkan ini baik-baik jikalau mau lanjut studi di Jepang. Kenapa? Karena di sini pintar saja ndak cukup. Selain harus didukung dengan attitude yang baik, juga harus ditunjang dengan kemauan untuk bekerja keras. Ini juga menjadi salah satu penilaian supervisor terhadap kita (saya) juga. Kalau Anda beruntung, Anda mungkin mendapatkan bimbingan dari supervisor yang mengerti betul bahwa waktu studi Anda sangat terbatas. Publish paper di tahun pertama (atau kedua) sangat penting dan sangaaaat membantu sekali dalam menyelesaikan studi! Karena tahun ketiga di program doktoral, "ombak"-nya sudah besar, kapal mesti kuat menahan terjangan badai, badai apa saja! Hehehe.

Meja kerja saya di Ibaraki University (dokumen pribadi, 2020)

Orang Jepang itu bak semut pekerja. Mereka itu gigih dan sabar. Orang Jawa bilang: Alon-alon asal kelakon. Sangat hati-hati dan sangat gigih, persistence and perseverance, terutama jika mau menembus paper dengan impact factor yang tinggi. Sebagai mahasiswa yang posisi hierarkinya paling rendah, waktu itu (D1-2), ya kita harus manut. Manut adalah juga salah satu kunci, dan kita harus mengikuti persistent dan perseverance-nya supervisor kita, walaupun kadang kita harus berkorban dengan molornya studi kita. Hal ini terjadi pada saya dan istri saya, sampai-sampai pukul-pukul kepala saking hectic dan pressure-nya. 

Banyak orang yang ndak percaya saat saya bilang orang Jepang itu kayak orang Jawa. Mereka lain di mulut lain di hati [honne tatemae/本音と建前]. Jikalau ada apa-apa, mereka tidak ngomong di depan, bisa jadi ngomong di belakang atau lebih ekstrim lagi, misal, tiba-tiba Anda diberi tugas yang berat di luar studi utama kita. Halah! Sudah menjadi budaya orang Jepang untuk selalu memperhatikan kepentingan umum dan tidak mengganggu lingkungan, sehingga orang Jepang sangat pandai menutup emosi mereka, menutupi ketidaksukaan, ketidaknyamanan, atau ketidaksetujuan mereka di hadapan kita, demi menjaga dinamika lingkungan di lab. Situasi seperti inilah yang berpotensi menimbulkan drama, dengan diawali ketidak-sepahaman. Jadi, ini bukan masalah komunikasi semata, tapi masalah persepsi budaya juga. Kecuali soal agama, saya termasuk keras dalam memperjuangkan iman Islam saya! Bahkan shalat Jum'at di mesjid Pakistan dengan jarak 2 jam perjalanan dari kampus saya jabanin! Kalau soal sembah menyembah, saya intoleran 😁.

Masih ada banyak poin lagi yang bisa dikupas tentang Jepang dari perspektif saya, yang intinya "studi di Jepang (mungkin) tidak seindah yang Anda duga", hehehe. Bukan bermaksud menakut-nakuti tapi hal-hal seperti ini perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk lanjut studi di Jepang, sehingga nantinya tak kecewa ketika menemukan fakta yang tidak seindah kelihatannya di social media, huahahaha. Tapi kembali lagi, ini hanya opini saya. 

Tonton juga channel YT kamihttps://www.youtube.com/@diyonahandru8617 .



Jumat, 14 Maret 2025

Barba non facit philosophum

Saya pernah ditanyai: apa pelajaran hidup/cerita unik kamu ketika S-3 di luar negeri yang sekiranya membuatmu menjadi pribadi yang lebih baik?

------------------------------------------------------------------------------------------------------

1. Berkonfliklah!

Bagi saya yang culun, saya selalu diajarkan oleh nenek saya bahwa "menghindari konflik itu baik, marah itu berdosa," dsb. Gara-gara prinsip itu saya selalu dimanfaatkan oleh orang lain. Saat saya S-3, saya diajari oleh Sensei saya untuk mengekspresikan ketidaksukaan saya akan suatu hal. Jadi ketika saya tidak menyukai suatu hal, saya perlu mengekspresikannya via 5W + 1H (what, where, when, who, why + how) sehingga gerutuan saya lebih terstruktur dan orang lain tahu letak kekecewaan saya. Terakhir, saya belajar untuk tidak meminta maaf kalau saya marah karena dikecewakan oleh seseorang. 😅


2. Orang normal meng-agama-kan sains, orang cerdas memahami agama dan sains

Salah satu penyakit orang-orang yang gagap pengetahuan atau baru kenal filosofi adalah membuang semua hal berbau agama karena dianggap "ketinggalan zaman" dan "tidak kompatibel dengan sains." Mereka mereduksi Tuhan sebagai "bualan orang-orang bodoh yang tidak kenal modernitas dan metode ilmiah," serta mengejek agama sebagai "candu untuk orang-orang malas yang ogah maju." Orang-orang yang gagap pengetahuan mengganti Rasulullah مُحَمَّد dengan Charles Darwin, Nabi Isa/Yesus dengan Newton, atau Al-Quran dengan Brief History of Time. Mereka memamerkan kutipan dari artikel Elsevier atau MDPI layaknya kutipan kitab suci — dan siapapun yang berseberangan dengan kutipan ayat-ayat Kitab Elsevier ini, perlu dilabeli sebagai "jahil tak terdidik, tak tahu pengetahuan, bahlul tidak ilmiah."Tidakkah mereka ingat bahwa sains itu hidup dengan dialektika & diskusi pandangan-pandangan yang berbeda? Lupakah mereka kalau banyak ilmuwan peletak dasar-dasar sains (misal kalkulus, astronomi, genetika, dan kimia) yang merupakan agamawan di masanya?"

Ketika saya dan istri mengalami lockdown di Jepang (2020), saya melihat semua rencana rapi yang saya buat untuk menuntaskan secara cepat S-3 berantakan. Di situlah saya makin mengenal Tuhan, Dia adalah energi yang bekerja di luar kendali saya sebagai seorang individu. Sepaham-pahamnya saya dengan semua teori yang bisa menjelaskan lockdown itu, saya tidak punya daya buat membatalkannya. Tawakkal, bersyukur, zikir dan shalawat adalah upaya saya untuk meyakinkan bahwa Tuhan selalu bersama hamba-Nya yang mengingat-Nya, dan itu menenangkan saya. Bagi saya, sains dan semua teorinya adalah ikhtiar/usaha manusia buat mengenal karya-karya Tuhannya. Pengetahuan material dari sains tidak bisa menggantikan pengetahuan irasional yang ditawarkan agama.

Satu lagi, hikmah yang saya dapatkan dari tinggal lama di luar negeri, yaitu: menurut saya, di Indonesia ini tidak ada insentif buat menjadi cerdas atau profesional di bidangnya. Di Jepang, kalau Anda profesional di bidangnya, sebelum lulus Anda sudah ditawari ruangan di lembaga penelitian plus rumah dinas yang bisa Anda miliki setelah sekian tahun bekerja. Sementara itu, di Indonesia, insentif diberikan ke ahli drama, tukang kibustukang egol-egolan di media sosial, dan artis tukang selingkuh! (Sigh!). Tidak ada solusi dari saya.


Saya dan istri di Gunung Takao, Tokyo, Oktober 2021




Hokkaido University, February 2019

Jumat, 07 Juni 2024

先ず隗より始めよ - mazu kai yori hajime yo

Begin Japanology. Kisah perjalanan kami -saya dan istri- di Jepang bermula dari pertemuan di Universitas Andalas (UNAND), Padang, ketika kami sedang menempuh studi S-2. Interaksi kami kian intens saat satu lab, di Laboratorium Taksonomi Hewan Invertebrata, sub-bagian Entomologi.  Bahkan sebelum menikah, kami memiliki impian yang sama untuk melanjutkan pendidikan tinggi ke jenjang S-3. 

“Sejak dulu, kami bersepakat berusaha menaikkan skor bahasa Inggris, mencari supervisor yang cocok, dan apply ke berbagai universitas di luar negeri.“ 

Sampailah kami di Jepang. Di Jepang, kami berkuliah di universitas yang berbeda dari tahun 2017 sampai tahun 2022. Saya di Ibaraki University di Mito, prefektur Ibaraki, sementara istri di Tokyo Metropolitan University di Hachioji, prefektur Tokyo. Karena dipisah oleh jarak, kami bertemu terkadang dalam dua minggu sekali atau satu bulan sekali. Tapi semenjak wabah covid, kami berdiam di Mito. Selama di Jepang, kami menaruh fokus pada penelitian tentang biologi serangga: biodiversitas tawon dan semut invasif di kepulauan Pasifik. 

Bagi kami yang mendalami ilmu biologi serangga yang masih jarang digunakan di Indonesia, rasanya masih banyak pengetahuan yang belum saya dapatkan meski telah melewati jenjang pendidikan S-1 dan S-2. Pada jenjang doktoral inilah kami berkesempatan memperdalam topik yang kami geluti. Kalau di jenjang S-1 dan S-2 kami diwajibkan mengikuti kelas sebagai bagian kegiatan perkuliahan, di jenjang doktoral ini kami tidak diwajibkan untuk mengambil kelas, jadi kursus doktoral kami research based

Sebagai mahasiswa doktoral, kami dilatih untuk mengatur waktu sebaik mungkin. Walau tidak ada kuliah secara berkala, kami berusaha untuk memanfaatkan waktu yang ada untuk membaca literatur terkait riset setiap harinya. Tiap satu minggu sekali, laboratorium kami sama-sama mengadakan seminar (セミナー) untuk mahasiswa yang tergabung di lab. 

Selain itu, waktu saya dan istri juga digunakan untuk menulis paper. Menjadi mahasiswa doktoral sebenarnya secara singkat dapat digambarkan dalam dua kata: membaca dan menulis. Setelah semua data dan bacaan kita dapatkan, langkah berikutnya adalah menulis paper untuk dipublikasikan dalam jurnal ilmiah. Berapa banyak paper yang perlu dipublikasikan di jurnal ilmiah? Dalam beberapa kasus yang saya temui, semua tergantung syarat dari jurusan dan pembimbing. Saya sendiri diminta untuk memublikasikan minimal 1 paper di jurnal internasional dan 1 conference proceeding, plus disertasi yang akan diserahkan ke jurusan untuk proses sidang doktoral, sementara istri diminta supervisor-nya untuk menerbitkan minimal 2 paper + 1 conference proceeding (waktu itu istri saya mengikuti konferensi Animal Behaviour di Illinois, Chicago, Amerika Serikat pada Juli tahun 2019) + disertasi.

Sungguh, jika terkenang masa-masa studi doktoral bersama istri, saya merasa sangat bersyukur kehadirat Allah SWT, karena kami diberi kesempatan untuk belajar di negeri orang, melihat budaya mereka, tinggal bersama dengan mereka untuk waktu yang cukup lama, dan menjadi minoritas. Urasawa Naoki pernah menulis di manga-nya, 20th Century Boys: "Akan ada masa saat kamu harus melakukan sesuatu padahal enggan, tapi justru pada saat seperti itulah kamu harus benar-benar bersungguh-sungguh!". Hal ini merujuk pada situasi dan kondisi kami ketika menjalani studi doktoral di Jepang yang bagaikan menaiki roller coaster namun mengasyikkan. Seperti itu... .


つづく。




Selasa, 09 April 2024

今度は今度。今は今 [Next time is next time. Now is now]

Sejak kecil, kita belajar. Lalu kita bekerja. Kita terus mengembangkan diri. Namun, akhirnya, kita harus sakit, menua dan kemudian meninggal. Bukankah ini absurd?

Semua usaha kita lenyap, ketika kita mati. Semua perjuangan kita menjadi sia-sia, ketika kita dijemput ajal. Uang, kuasa dan kecerdasan, yang diperjuangkan selama bertahun-tahun, lenyap dalam sekejap mata. Seolah hidup ini pun menjadi percuma???

Kita berusaha berbuat baik. Namun, orang jahat dan korup justru semakin kaya dan berkuasa. Kita berusaha bekerja dengan jujur. Namun, rezeki tak kunjung datang. Kita perlu menikmati semua proses. Kita perlu menjadi orang yang bertekun di dalam usaha. Hasil bukan di tangan kita. Bahkan, seringkali, walaupun disertai usaha keras, hasil juga tak kunjung tiba. Lalu, apa tujuan saya hidup?

_________________________________________

Pemikiran seperti itulah, dahulu pernah terlintas di otak saya. Berkali-kali terlintas malah, dan saya cari jawabnya. Namun kembali --- sebagai muslim --- jawabannya ada dalam Al-Qur'an, surat Az Zariyat ayat 56:


وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ


Arab Latin: Wa mā khalaqtul-jinna wal-insa illā liya'budụn

Artinya: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku."


Lebih jauh dalam Tafsir Al-Azhar oleh Buya HAMKA dikatakan surat Az Zariyat ayat 56 menerangkan bahwa jika seorang telah mengakui beriman kepada Allah SWT, dia tidak akan ingin hidupnya di dunia kosong. Lebih lanjut Buya HAMKA menguraikan, ibadah itu harus diawali dengan iman yang mana percaya bahwa ada Allah SWT yang menjamin. Percaya akan adanya Allah SWT menjadi dasar dari hidup itu sendiri, karenanya iman yang telah tumbuh wajib dibuktikan dengan amal yang saleh.


-Hamba Allah yang dhoif dan hina, pengharap surga-

Malam takbiran Raya Idul Fitri 1445 H/2024 M, Jogja, Sleman, Maguwoharjo, Pasekan, RT 40. 




Senin, 22 Agustus 2022

Dopamine attack good

 "Setelah punya gelar Doctor (PhD) terus pulang mau bikin apa?"


Bahwa gelar akademis seseorang tidak ada pengaruh pada kemampuan untuk bertahan hidup alias menciptakan kesejahteraan bagi dirinya dan keluarganya. Singkatnya: pergi jauh berkelana kuliah -> mengerjakan disertasi di bawah tekanan -> ditambah pula pandemi melanda -> pulang bawa ijazah, tidak tahu mau bikin apa -> lalu daftar sembarang kerja kanan-kiri, kalau beruntung dapat kerja, kalau tidak, kemudian menganggur (sigh!). Orang bilang, setidaknya dengan bergelar tinggi maka akan tinggi pula kesempatan hidup dengan layak.

Sewajarnya bahwa bergelar doktor harus juga dibarengi dengan kemampuan kewirausahaan, karena tentunya itu akan membantu para pemegang titel akademis ini untuk menciptakan kesejahteraan bagi dia dan keluarganya. Berjualan sate ayam pinggir jalan, membuka toko pakaian, on-line shop, ojek onlen, jasa sewa motor, buka warung pecel lele & pecel ayam, ternak puyuh, ngangon sapi, bertani porang, beli saham pabrik nikel, misalnya. 
ち く し ょ う


<from: google. com>

Intermezzo, faktanya: empat setengah tahun berjumpalitan belajar sampai kepala pening dan mata terasa juling, tiga tahun jungkir balik banting tulang mencari beasiswa yang ditanggung penuh, itupun belum dihitung sewaktu tunggang langgang mencari profesor-profesor yang sudi menerima mahasiswa. Namun setelahnya, setelah kembali ke Wakanda: bahkan menjadi tukang parkir pun tak ada yang menerima. Sementara di Jepang sana, saya bertanggung jawab dan punya wewenang penuh menggunakan instrumen-instrumen penelitian bernilai multijutaan yen dengan kebebasan akses masuk ke database penelitian. Sedangkan 'nun jauh di Wakanda', duduk bedebah-bedebahh yang ada orang tuanya sampai rela menggadaikan SK demi bisa meminjam uang untuk dipakai menyuap pejabat korup supaya anaknya lolos PNS. Saban hari si bedebah itu terlihat menyetiri mobil melintas di depan rumah, melengos melihat kawan yang 'dihimpit nasib'. Menyesakkan, dikalahkan oleh nepotisme orang berduit!!! Vaffanculo.


source: instagram. com



Pelajaran yang dapat dipetik adalah: menjalani dan menikmati proses hingga memperoleh gelar doktor tentunya adalah sebuah investasi yang baik yang tidak akan sia-sia. Anda akan memiliki pola berpikir tajam dan matang. Akan tetapi, jangan membatasi diri.

by: Sirajudin

Sabtu, 25 Juni 2022

Kuramae West and Youth Ueno journey

Alhamdulillah, istri saya telah diwisuda (23 Maret 2022, tepat satu tahun dengan tanggal saya wisuda) di Building 1 room 107 Tokyo Metropolitan University, Minami Osawa campus, Hachioji city, Tokyo, Jepang. Perjuangannya empat setengah tahun!!! Kami menginjakkan kaki di bandara Haneda tanggal 27 September 2017 di waktu Jepang baru memasuki musim gugur. Suhu di luar ruangan bisa sampai 10° C saat itu. Kemudian segera setelahnya hari-hari dilalui berjibaku dengan aktifitas riset: pergi ke kampus jam 9 pagi - bekerja di lab sampai jam 5 sore - kadang harus lembur sampai jam 11 malam - pulang ke apato. Saat weekend, kami berdua biasanya saling mengunjungi karena saya dan istri berbeda universitas. Tidak terasa kami sekarang sudah lulus dengan menyandang gelar Ph.D. --yang bahkan duluuuu sekaliii kami tidak 'berani' memimpikannya! 😂

Namun sebelum benar-benar "angkat kaki" dari Jepang, kami (saya) harus tinggal di hostel karena saya harus isolasi mandiri sebelum pulang ke tanah air. Bukan main! Kami harus berpindah-pindah penginapan dengan membawa tiga koper Samsonite. Menjeret-jeretnya di belantara hutan beton Tokyo. Lelah sekali. Tapi tidak mengapa, sebab pengalaman ini akan terus kami ingat; pengalaman susah senang ini akan kami ceritakan ke anak-anak kami di masa depan. Aamiiin


kota Tokyo [Shinjuku] (source: google. com)


________________________________


Setelah bermacam kesulitan selama menempuh kuliah doktoral, apakah semua yang ada di dunia ini masih terlihat menakutkan?

Setelah direnung-renungkan, bukankah pendidikan yang telah saya tempuh ini bisa dikatakan tidak buruk?


Rabu, 14 Juli 2021

Open your eyes, tell me your own politic

Sebagai anak kampung yang lahir di Kerinci ---sekepal tanah Surga yang tercampak ke bumi--- dan menuntut ilmu di Padang, saya awalnya menikmati keseharian hidup di Mito, prefektur Ibaraki, Jepang selama menjadi research student (6 bulan (Oktober 2017-Maret 2018)). Saya tinggal di asrama mahasiswa internasional (国際交流会館- kokusai koryu kaikan) yang memang diperuntukkan bagi mahasiswa asing dan beruntungnya saya karena sebagai penerima beasiswa MEXT, maka tidak perlu repot pindah kaikan pada tahun kedua-ketiga perkuliahan. Selama magang itu, saya mencoba mengenali sistem kerja dan pembelajaran orang-orang Jepang ini sebagai bekal memulai perkuliahan yang sebenarnya yang dimulai April 2018.  Per enam bulan pertama itu saya diliputi rasa tidak percaya bisa tinggal di negara yang saya impikan. Tapi semua itu berubah setelah Negara Api menyerang saya dipukul kenyataan bahwa kemampuan akademik saya tidak mencerminkan seorang penerima beasiswa MEXT. Di situ seteres mulai muncul. Ketika udara makin dingin dan sinar matahari mulai redup imbas pergantian musim, stres itu makin menjadi. Pelaporan riset yang saya susun tiap bulan saat seminar mingguan terkerjakan, tapi hasilnya bisa dibilang sangaaat sedikit. Tiga huruf 'a' berjejer pada kata 'sangat' itu merupakan penegasan. Sampai-sampai sensei saya pernah bilang:

Tolong bekerja lebih keras lagi jika kamu benar-benar ingin lulus dari universitas ini, Aran.”

 


Foto: pohon berselimut salju di depan kos istri di Tokyo, Februari 2018 (dok. pribadi)


Beruntung ---saya selalu merasa beruntung dan mencari celah keberuntungan dari setiap kesukaran--- saya ditemani istri selama berkuliah, jadi tidak perlu sedih-sedih. Kebiasaan orang Jepang yang jarang berinteraksi dengan orang lain dan hidup dalam kesunyian tidak membantu sama sekali --kalau pun ada secuil-- karena saya perlu bertanya sana-sini pada senior mengenai riset saya. Terlebih lagi orang-orang Jepang ini sangat sedikit yang paham bahasa Inggris (hanya yang kuliah yang cukup cakap berbahasa Inggris, ya salah sendiri kenapa berbahasa Inggris di negeri Jepang!?), jadilah saya hanya berinteraksi dengan Sensei, melulu dengan sensei. Memang ada teman satu ruangan, ---tahun pertama ada: Konno (Master tahun 1), Tsukada dan Kitazawa (Undergraduate tahun 4), tahun kedua: Konno (M2), Hanawa dan Tojo (U4), tahun ketiga: tidak ada teman satu ruangan (mereka work from home) karena wabah melanda, kecuali saya yang diberi kebebasan mengakses lab, ruang spesimen, dan ruang belajar sebagai mahasiswa doktoral tahun terakhir yang dituntut segera publikasi dan mengikuti konferensi!--- tapi mereka tidak banyak membantu.


Pergi keluar dan melihat sisi lain Jepang adalah jalan keluar. Daripada bosan dengan rutinitas yang itu-itu saja. Orang-orang Jepang ini workaholic. Mereka benci hari libur. Saya membenci hari kerja, wkwkwk. Diberi pun jatah libur atau cuti kerja, mereka tetap akan masuk kerja. Halah!

 

Foto di taman Kairakuen bersama istri, Diyona.




Kesimpulan:

1. Tetaplah bersemangat. 

2. Jaga kesehatan baik-baik.

3. Banyaklah baca buku dan/atau baca situasi.

4. Pemerentah negara Wakandaa itu hanya sekumpulan orang2 yang mikir untuk perutnya sendiri & perut anak bininya. Kenapa takut sekali dengan nenek-nenek janda yang hanya mendompleng nama bapaknya? Inilah akibat terlalu sering berdebat dengan orang-orang ...tiiiiiit SENSOR.... sehingga punya banyak waktu untuk meng...tiiiit SENSOR... .

5. Cita-cita berubah: presiden ke-11 Power ranger merah asal kau bahagia.


Minggu, 30 Mei 2021

Brother at your side

Mungkin orang akan menjawab bahwa dengan kuliah di Jepang, kita akan mendapatkan ilmu yang lebih luas. Nyatanya saya tidak.


Ilmu tentang bidang saya, saya dapatkan sedikit. Kenapa? Karena saya Nihongo zenzen tabenai (translasi: Tidak bisa ‘termakan’ bahasa Jepun) alias saya tidak mahir berbahasa Jepang.


Namun terlepas dari kendala bahasa yang terbata-bata, di Jepang saya bisamendapatkan fasilitas yang luar biasa untuk ilmu. Misalkan saja, akses ke jurnal-penyedia paper ilmiah gratis,penggunaan alat laboratorium yang bebas tapi bertanggung-jawab, dan biaya-penelitian yang sepenuhnya ditanggung universitas. Tiga akses penting itulah yang kita belum bisa dapatkan secara cuma-cuma di Indonesia.


Kemudian, beasiswa di Jepang itu cukup besar. Bisa membantu orang tua kalau kuliah di Jepang. Pun untuk yang arubaito (bekerja paruh waktu), kadang gajinya lebih tinggi dari pekerja full time di Jepang, dan itu tanpa pajak. Tapi, biaya hidup di Jepang juga besar, maka itu berbanding lurus, sehingga kita harus banyak berhemat jika kita ingin menyisihkan banyak uang.

Dari sinilah, kita mempunyai banyak keuntungan belajar bagaimana bertahan hidup dengan serba keterbatasan. Terbatas uang, terbatas keluarga (untungnya saya sambil ditemani dan menemani istri selama di sini), dan terbatas bahasa.heheeh

Selain itu, selama berkelana di tanah Jepang, saya dan istri bisa mengunjungi tempat-tempat wisata, budaya, wisata kuliner halal, ke museum spesimen, dll. (Tujuannya) Untuk melihat negeri "ini". Untuk berbelanja semangat. Agar setidaknya diri saya sendiri tidak malas dan tidak mudah berdalih (karena kok bisa ya negeri kita yang SDA-nya buuuanyak bisa kalah dengan negeri 'ini', miskin SDA). Ya semua itu pakai biaya sendiri, eh...beasiswa. Bukan dari pemerentah Wakanda ehh...India...ehk. Tidak bisa pula dipungkiri jikalau saat mem-posting foto-foto di IG atau pesbuk maka netijen-netijen akan nyinyir berkata:”jalan-jalan mulu…”. Saya beritahu: postingan itu hanya segelintir part of happiness yang saya bagikan, sedangkan banyaaaaaaaak sekali part of sadness yang tidak saya bagikan. Lagian kagak ada manfaatnya posting yang sedih-sedih. Saya sebisa mungkin hanya mmbagikan post beraura positif, aura bahagia saja,.



--------------------------------------------------------

Pada akhirnya kita akan selalu mencari ketenangan. Menikmati waktu, me time semaunya. Berkumpul dengan orang-orang terdekat, keluarga. Tidak terikat oleh apa pun. Dan kapitalisme tidak akan membiarkan hal itu karena kapitalisme akan membuat kita kehilangan waktu yang banyak, bahkan kurang tidur! Ujung-ujungnya nanti akan bermuara pada uang! Jikalau matahari sebagai inti SDA, maka uang adalah inti SDM. Tapi kita perlu uang untuk hidup. Di sinilah ironinya.


Maka kita perlu menyadari dan kembali ke tujuan akhir: untuk bahagia dan bebas. Tentu ‘ini’ hanya bisa enteng diucapkan oleh orang yang sudah ‘merasa’ mendapatkan apa-apa yang dia inginkan dan dia cari. Tentu ‘ini’ akan bermuara pula pada kesyukuran.


_-----------------------------------------


Saya punya satu mantra, yaitu:


Mereka (kamu) boleh pintar, saya (kita) tidak boleh bodoh".


Mantra yang saya beri tanda kutip itu baiknya dipegang oleh siapa saja. Jangan pernah salahkan mereka yang pintar itu. Tapi kita juga harus ingat: kita jangan bodoh! Mantra ini saya wariskan dari sensei saya dulu. Waktu itu konteksnya beliau membicarakan bahwa wabah ‘ini’ harus dirunut baik-baik, dari mana asalnya, bagaimana dan mengapa bisa terjadi. (Berita) Jangan ditelan bulat-bulat. Tidak semua yang kamu dengar itu benar tapi semua yang benar harus didengar. Sensei juga bilang:"This pandemic did not broke a system. It exposed a broken system".


Meski sudah lebih setahun ‘menderita’, tetap saja generasi yang sekarang lebih beruntung dibanding generasi yang lalu: menderita berkepanjangan. Dulu ada perang dunia pertama (1914-18). Disusul pandemi flu Spanyol (1920). Kemudian depresi ekonomi dunia. Disusul perang dunia ke-2 (1939-45). Beruntunglah yang lahir setelah tahun 1965. Tidak pernah ada gejolak besar – kecuali gejolak di hati masing-masing.



-----------------------------------------------------------------


As retirement is a time for feeling luck and glad to be alive


I would like to express my heartfelt and my deepest sympathy for the retirement of Prof. Jun-ichi Kojima (Kojima sensei) of Graduate School of Science and Engineering, Ibaraki University. During my study under his supervision in Japan, Kojima sensei always supervised the whole work eagerly, advised critically and gave constructive comments on my research and thesis. He has a warm heart, constant encouragement and keen interest throughout this study. As for his retirement, I think Kojima sensei deserves the best retirement ever because of all dedication and hard work. I am so grateful to have met him and learned from him. Moreover, I regarded Kojima sensei as my father in Japan. Hopefully Kojima sensei’s retirement is perfectly grand with lots of good luck.


----------------------------

Alan Handru (32 y/o - Indonesia), Doctoral student, Major in Complex System Science, Graduate School of Science and Engineering, Ibaraki University (class of 2018).

----------------------------

Rabu, 09 Desember 2020

di Storia Naturale del evolution

Untuk sampai di titik ini, di ujung masa studi, saya harus bersusah payah mengerjakan riset; pontang panting dalam membagi waktu antara Tokyo - Mito untuk mengunjungi istri tercinta karena kami berkuliah di kampus berbeda; begadang hingga larut malam untuk mengobservasi spesimen di bawah mikroskop sampai-sampai badan terasa penat karena masuk angin. Namun, saya puas dan tidak gentar walau ujian disertasi menghadang di depan mata! Ini sama sekali bukan karena saya pandai, bukan, bukan, sama sekali bukan… melainkan karena saya telah jauh-jauh hari --- bahkan sudah sejak awal musim gugur --- menyiapkan diri untuk sidang ini. Saya bersusah payah agar, setidaknya, bisa lulus dengan nilai cukup. hehehe

Pernah saya tanyakan perihal mahasiswa terakhir bimbingan Profesor Kojima kepada salah seorang kolega beliau, seorang associate professor yang dulu juga mahasiswa bimbingan Kojima-sensei: Morooka-san. Dengan rasa percaya diri yang overvalued, saya tanyakan:

“Morooka-san, jika tidak berkeberatan, tolong beritahu saya bagaimana kesan Kojima-sensei tentang saya? Maksud saya, karena saya adalah mahasiswa terakhir bimbingan beliau sebelum beliau masuk masa pensiun, apakah Sensei tampak senang?”

Morooka-san menatap saya lama. Lama. Mungkin dia mencari kata-kata yang pas untuk menjawabnya, lalu dia melengos seperti gaya orang pasrah berkali-kali tlah kehilangan sandal di masjid sambil menghela nafas agak berat. Saat itulah saya mahfum bahwa Kojima- sensei tidak terlalu bangga pada saya.

Biarlah tak bangga, namun saya sudah bertekad agar Prof. Kojima ---yang sudah saya anggap sebagai ayah saya selama di Jepang--- pensiun dengan satu kenangan nan elok tentang saya. Satu kenangan yang manis untuk menutup tiga puluh lima tahun pengabdiannya sebagai dosen Ibaraki Univ. Ganbaru!




-----



Jumat, 05 Juni 2015

Ganymede and Dione




the BERKAT YAQIN (foto: dokumen pribadi)




Pamflet yang menyiarkan akan diadakannya turnamen game PlayStation Pro Evolution Soccer  2013 (PES 2013) membuat hari-hari saya menjadi bergairah. Total hadiah yang diimingkan adalah sebesar dua setengah juta rupiah, dengan insert sebesar tiga puluh lima ribu. Lumayan sekali untuk menambal uang makan selama, kira-kira, dua bulan jika menang. Sudah satu minggu persiapan dilakukan dengan latih-tanding bersama anak tetangga sebelah kosan yang masih duduk di bangku kelas 6 SD. Bermodal kepercayaan diri yang membuncah tinggi karena hasil uji coba yang memihak 75% kemenangan berada di tangan, ---haaalaaaah… --- paling tidak, satu kaki sudah bisa di semifinal-lah.

Hari Minggu adalah hari perhelatan turnamen. Orang yang namanya disamarkan ini mendapat jadwal tanding sekitar ba’da Ashar, pukul setengah empat! Beruntunglah turnamen PS sepakbola kali ini masih memakai format PES tahun 2013, karena saya kurang paham bermain PES keluaran terbaru, yaitu yang 2014 atau 2015. Format kompetisinya sendiri memakai sistem Knock Out (K.O), yang terdiri dari 4 pool, dan juara masing-masing pool akan maju memperebutkan juara 1, juara 2, juara harapan 1, dan juara harapan 2.

Saya masuk Pool D. Berkat keyakinan yang sangat tinggi, maka saya putuskan memberi nama BERKAT YAQIN sebagai nama peserta turnamen. Filosofinya sudah jelas karena saya yakin, maka saya insya Allah menang. 

Pertandingan dimulai setelah Ashar, saya memakai tim Italia JUVENTUS F.C sebagai jagoan. Lawan pertama saya, mahasiswa fakultas Pertanian semester 6. Dia memakai tim Manchester City. Permainan dimulai. Bola dioper dari kaki ke kaki, kadang bola disambut kepala pemain virtual di layar LCD. Tiktak sana sini. Passing-shooting... Skor 3-0! Saya kena bantai. Menyedihkan, rupanya selama ini saya telah menilai diri terlalu tinggi, overvalued. Namun, tidak mengapa. Kekalahan saya tidak lantas membuat surut langkah. Malah saya berterima kasih karena saya dapatkan hikmah yang begitu banyak agar saya lebih berpikir, lebih bersemangat, dapat mengendalikan emosi, belajar dari pengalaman, melatih kesabaran, dan agar selalu menghargai orang lain.

Akhirnya, saya pulang ke kosan. Makan sore (kalau ada yang namanya makan sore), shalat, dan membaca buku. Lalu dilanjutkan mengisi teka-teki silang. Tidak lupa, malamnya, saya minum Indomilk rasa coklat.

Kamis, 09 April 2015

You know what they've done to boys like us in jail cause nothing on earth can hold Houdini a prisoner.

--------------------------------------------------------------------------
Assalamualaikum, 


Sengaja saya tuliskan surat, ini dari masa depan! Saya adalah dirimu yang berusia lebih tua darimu dan berada beberapa tahun dari waktu sekarang. Saya baik-baik saja, tapi saya tidak ingin memberitahukanmu apa pekerjaan dan bagaimana kondisi kehidupan kita sekarang. Saya tidak ingin membuatmu malas-malasan dan berserah pada keadaan.

Melalui surat ini saya memberikan sedikit kesan dan pesan sebagai panduan sekaligus mencegahmu melakukan kebodohan. Kita memang kepala batu, bahkan nasihat orang tua hanya akan mampir sejenak di telinga. Namun, semoga rangkaian kalimat yang tertuang di surat saya ini bisa melunakkan kerasnya kepalamu dan semoga kamu percaya apa yang saya katakan. Semoga juga kamu bisa berjuang hingga akhir supaya tidak akan ada yang akan kamu sesali setelah dewasa. Camkan!

Alejamaoelaj, memang di usiamu yang sekarang kamu sudah mulai mengenal banyak pilihan, namun ketahuilah bahwa ada konsekuensi besar yang datang sepaket bersamanya. Paman dari Peter Parker, si Spider-man itu, pernah bilang:"With great power comes great responsibility". Usia muda yang baru kamu jalani sekarang memang akan mengantarkanmu kepada banyaknya pilihan hidup. Bahkan, kamu sudah memiliki hak untuk memutuskan mana yang akan kamu jalani kemudian.

Jangan sampai hal yang kamu anggap baik di masa sekarang ternyata akan berpengaruh buruk bagi masa depan. Sebaiknya kamu memikirkan ulang segala langkahmu, supaya tidak termakan ego dan nafsu sesaat. Iya, saya paham, haqqul yaqin saya, usiamu sekarang ini membuatmu dipenuhi rasa ingin tahu berkat gelegak darah muda. Namun, sekali lagi, pikirkanlah apa yang akan kamu lakukan, gunakan masa depan sebagai pijakan dan pertimbangan. Jangan biarkan ego dan rasa ingin tahu melahapmu, menggerogoti, dan menghancurkan dirimu secara perlahan.

Kamu memang masih muda, tapi pada saatnya nanti kamu akan menua. Jagalah kesehatanmu mulai dari sekarang, selagi masih bisa. Apalah merokok itu???? Saya tahu, dulu kamu itu hanya ingin sok-sokan dengan bergaya macam pria yang kamu lihat di papan iklan rokok ---- saya beritahu, pria di papan iklan itu sebenarnya menyaru sebagai lelaki gagah, namun sudah impoten karena kegemarannya menghisap-isap asap.

 

Mungkin saat ini kamu masih muda dan dipenuhi dengan tenaga. Hal ini jangan membuatmu lengah. Esok saat waktunya tiba, kamu akan menua. Kesehatan yang kamu miliki sekarang tidak patut untuk disia-siakan.

Habiskanlah waktumu untuk menjelajah dunia dan berkarya. Ingat kamu hanya menjalani masa muda ini satu kali saja. Satu kali saja!

 

Pandai-pandailah memilih kawan karena mereka berpotensi membuatmu salah jalan, namun ada juga dari mereka yang justru dapat menuntunmu ke rute yang benar.

 

 

Saya paham, haqqul yaqin saya, usiamu yang sekarang sedang gemar-gemarnya merasa paling benar dan beradu pendapat dengan orangtua, tapi bahagiakanlah mereka selagi kamu masih bisa. Usia manusia ada pada Allah SWT dan tidak ada satupun manusia yang mengetahuinya. Ya, habiskan waktumu untuk membahagiakan orangtuamu selagi masih ada kesempatan dan jangan pernah menundanya. Tidak usah menunggu usiamu menua dan kamu lebih mapan dalam segi keuangan. Kamu bisa membahagiakan mereka mulai dari sekarang, selama mereka masih bisa menghela nafas. Bahagiakan mereka dengan limpahan waktu dan tenaga yang kamu punyai.

 

 

Camkan benar kata-kata saya ini, bro!

 

at Hipweee City, 23.04 p.m

--- berbaring malas di kasur empuk ---

Alejamaoelaj

dirimu yang tersayang, xxx

---------------------------------------------------------

Jumat, 14 November 2014

We sold what you thought we did not


"As a kid, I was top of my class. Not because I liked studying, but because I realized that an education was my best shot at getting out" --- Sles GN'R (1962- ...)
 

Surat dari Alejamaoelaj ---rupanya dia tidak ingin bertemu muka dengan aku, awas!---  tertanggal hari kesebelas bulan ini telah aku terima. Memasuki minggu kedua November, hawa terasa dingin dan banyak hujan. Basah. Burung manyar telah selesai membuat sarang. Buah Manggis mulai masak. Tidak biasanya memang, karena aku dan Alejamaoelaj seringkali saling berpacu memanjat batang manggis pada saat-saat seperti sekarang. Aku rindu padanya.
 



_______________________________________                    
11 November , 05.04 A.M GMT + 7 (Bangkok, Jakarta, Hanoi)

Assalamualaikum, bang Bojes.

Saya berteman dengan abang, telah mengaku bersaudara dengan abang karena saya tahu abang adalah teman yang akan mengajak saya menuju jalan kebaikan. Saya berkumpul, bergaul, dan bertanya hal-hal yang belum saya tahu pada abang. Melalui surat elektronik ini saya layangkan kabar bahwa adikmu ini baik-baik saja di rantau. Sengaja saya tak beritahu abang perihal alamat rumah saya sekarang karena saya khawatir abang akan mampir sesekali.

Di rantau ini, bang, sering sekali saya menyimak berita-berita dari kampung halaman. Saya juga tak lupa memantau karier abang yang lambat menanjak. Bang, di rantau sini, saya temukan orang yang rasanya pernah saya temui dulu, di Lauful Mahfudz. Seorang wanita yang mau menerima saya sebagai lelaki udik yang saya sendiri pun tidak bisa membasuh-basuhnya. Tekun sekali saya memperhatikannya. Saya
I’m in love, bang…I’m in love.


Saya beritahu, bang! Sejak kecil saya bercita-cita tinggi ingin membahagiakan keluarga. Saya menyambung kuliah. Saya cari beasiswa sampai setengah mati. Belajar sampai jungkir balik, dan akhirnya saya mendapat beasiswa dari pemerintah provinsi untuk melanjutkan sekolah ke jenjang strata 2. Saya sadar apa yang telah saya alami selama ini bukanlah saya sebagai diri saya. Beasiswa itu menawarkan semacam vantage point, sebuah kesempatan yang mungkin didapat oleh orang yang selalu mengembangkan dirinya sendiri. Alhamdulillah, ini berkat doa-doa nan panjang dari orangtua saya. Ibu dan Bapak adalah dua insan yang paling saya sayangi di muka bumi.

[Screenshoot SMS]

 
         Pesan pendek elektronik/SMS di saat Ayah mengirim uang


 

Bagaimana kabar, abang? ---(seharusnya inilah yang pertama dahulu harus kamu sampaikan, Lay!!!)--- Semoga abang Bojes baik-baik saja dan sehat wal ‘afiat. Aamiin. Bang, sekian dulu saya menulis surat ini. Saya mesti cepat-cepat kembali ke pasar, sekarang tampaknya giliran saya yang menjaga kios ikan. Wassalam.

_____________________________________



Bagi si Dungu, perjalanan panjang menuju ke atas dimulai dari penyadaran kekurangan dirinya. Sudahlah keluar banyak biaya kuliah, jatuh tempo lulus terlambat, prestasi kuliah tidak ada, pun setelah lulus bekerja membantu-bantu Bapak. Tapi biarpun begitu, semangat untuk merubah diri tidak pernah padam.