Tampilkan postingan dengan label inspiration. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspiration. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 September 2025

Neon Gen Eva Arnaz

Menurut Buya HAMKA, falsafah hidup yang sejati adalah hidup yang memiliki tujuan jelas, yakni mencari ridha Allah dengan beribadah, beramal saleh, dan memberi manfaat kepada sesama. Hidup harus dijalani secara seimbang antara urusan dunia dan akhirat, tanpa meninggalkan salah satunya. Manusia diberi kebebasan oleh Allah untuk memilih jalan hidup, tetapi kebebasan itu harus diiringi dengan tanggung jawab moral terhadap diri, masyarakat, dan Tuhannya. Segala amal hendaknya dilandasi keikhlasan dan kejujuran, sebab tanpa keduanya hidup akan kehilangan nilai. Nilai sejati seseorang bukan terletak pada harta atau kedudukannya, melainkan pada seberapa besar manfaat yang ia berikan kepada orang lain. Dalam menghadapi cobaan, kesabaran, keteguhan hati, serta rasa syukur harus menjadi pegangan. Dan yang paling penting, HAMKA menegaskan bahwa cinta adalah inti kehidupan—cinta kepada Allah, sesama manusia, dan alam semesta—sebagai energi yang membuat hidup penuh makna dan bernilai.


https://youtu.be/N01b-zw1Z9A?si=8YW1sKTV-Mrnb1ER




Selasa, 22 Juli 2025

Persistent dan Perseverance [Gigih and "Tahan Banting"]

Tekad kuat adalah kunci. Tekad kuat adalah kunci. Sekali lagi, kuncinya adalah tekad yang kuat!

Bersekolah di Jepang adalah impian saya sejak kecil, mungkin karena dulu telah terpapar tontonan Doraemon di RCTI dan Dragon Ball di Indosiar, pagi Minggu. Pendidikan memang menjadi salah satu komoditas di Jepang. Selain karena memang keilmuan 'mereka' termasuk yang maju di wilayah Asia, kemajuan teknologi, kondisi negara yang cenderung kondusif untuk belajar, dan keunikan budaya (termasuk anime dan manga) yang menjadi salah satu daya tarik untuk melanjutkan studi ke sini

Mengingat kembali masa-masa kuliah di Jepang.

Bekerja keraslah!

Camkan ini baik-baik jikalau mau lanjut studi di Jepang. Kenapa? Karena di sini pintar saja ndak cukup. Selain harus didukung dengan attitude yang baik, juga harus ditunjang dengan kemauan untuk bekerja keras. Ini juga menjadi salah satu penilaian supervisor terhadap kita (saya) juga. Kalau Anda beruntung, Anda mungkin mendapatkan bimbingan dari supervisor yang mengerti betul bahwa waktu studi Anda sangat terbatas. Publish paper di tahun pertama (atau kedua) sangat penting dan sangaaaat membantu sekali dalam menyelesaikan studi! Karena tahun ketiga di program doktoral, "ombak"-nya sudah besar, kapal mesti kuat menahan terjangan badai, badai apa saja! Hehehe.

Meja kerja saya di Ibaraki University (dokumen pribadi, 2020)

Orang Jepang itu bak semut pekerja. Mereka itu gigih dan sabar. Orang Jawa bilang: Alon-alon asal kelakon. Sangat hati-hati dan sangat gigih, persistence and perseverance, terutama jika mau menembus paper dengan impact factor yang tinggi. Sebagai mahasiswa yang posisi hierarkinya paling rendah, waktu itu (D1-2), ya kita harus manut. Manut adalah juga salah satu kunci, dan kita harus mengikuti persistent dan perseverance-nya supervisor kita, walaupun kadang kita harus berkorban dengan molornya studi kita. Hal ini terjadi pada saya dan istri saya, sampai-sampai pukul-pukul kepala saking hectic dan pressure-nya. 

Banyak orang yang ndak percaya saat saya bilang orang Jepang itu kayak orang Jawa. Mereka lain di mulut lain di hati [honne tatemae/本音と建前]. Jikalau ada apa-apa, mereka tidak ngomong di depan, bisa jadi ngomong di belakang atau lebih ekstrim lagi, misal, tiba-tiba Anda diberi tugas yang berat di luar studi utama kita. Halah! Sudah menjadi budaya orang Jepang untuk selalu memperhatikan kepentingan umum dan tidak mengganggu lingkungan, sehingga orang Jepang sangat pandai menutup emosi mereka, menutupi ketidaksukaan, ketidaknyamanan, atau ketidaksetujuan mereka di hadapan kita, demi menjaga dinamika lingkungan di lab. Situasi seperti inilah yang berpotensi menimbulkan drama, dengan diawali ketidak-sepahaman. Jadi, ini bukan masalah komunikasi semata, tapi masalah persepsi budaya juga. Kecuali soal agama, saya termasuk keras dalam memperjuangkan iman Islam saya! Bahkan shalat Jum'at di mesjid Pakistan dengan jarak 2 jam perjalanan dari kampus saya jabanin! Kalau soal sembah menyembah, saya intoleran 😁.

Masih ada banyak poin lagi yang bisa dikupas tentang Jepang dari perspektif saya, yang intinya "studi di Jepang (mungkin) tidak seindah yang Anda duga", hehehe. Bukan bermaksud menakut-nakuti tapi hal-hal seperti ini perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk lanjut studi di Jepang, sehingga nantinya tak kecewa ketika menemukan fakta yang tidak seindah kelihatannya di social media, huahahaha. Tapi kembali lagi, ini hanya opini saya. 

Tonton juga channel YT kamihttps://www.youtube.com/@diyonahandru8617 .



Jumat, 14 Maret 2025

Barba non facit philosophum

Saya pernah ditanyai: apa pelajaran hidup/cerita unik kamu ketika S-3 di luar negeri yang sekiranya membuatmu menjadi pribadi yang lebih baik?

------------------------------------------------------------------------------------------------------

1. Berkonfliklah!

Bagi saya yang culun, saya selalu diajarkan oleh nenek saya bahwa "menghindari konflik itu baik, marah itu berdosa," dsb. Gara-gara prinsip itu saya selalu dimanfaatkan oleh orang lain. Saat saya S-3, saya diajari oleh Sensei saya untuk mengekspresikan ketidaksukaan saya akan suatu hal. Jadi ketika saya tidak menyukai suatu hal, saya perlu mengekspresikannya via 5W + 1H (what, where, when, who, why + how) sehingga gerutuan saya lebih terstruktur dan orang lain tahu letak kekecewaan saya. Terakhir, saya belajar untuk tidak meminta maaf kalau saya marah karena dikecewakan oleh seseorang. 😅


2. Orang normal meng-agama-kan sains, orang cerdas memahami agama dan sains

Salah satu penyakit orang-orang yang gagap pengetahuan atau baru kenal filosofi adalah membuang semua hal berbau agama karena dianggap "ketinggalan zaman" dan "tidak kompatibel dengan sains." Mereka mereduksi Tuhan sebagai "bualan orang-orang bodoh yang tidak kenal modernitas dan metode ilmiah," serta mengejek agama sebagai "candu untuk orang-orang malas yang ogah maju." Orang-orang yang gagap pengetahuan mengganti Rasulullah مُحَمَّد dengan Charles Darwin, Nabi Isa/Yesus dengan Newton, atau Al-Quran dengan Brief History of Time. Mereka memamerkan kutipan dari artikel Elsevier atau MDPI layaknya kutipan kitab suci — dan siapapun yang berseberangan dengan kutipan ayat-ayat Kitab Elsevier ini, perlu dilabeli sebagai "jahil tak terdidik, tak tahu pengetahuan, bahlul tidak ilmiah."Tidakkah mereka ingat bahwa sains itu hidup dengan dialektika & diskusi pandangan-pandangan yang berbeda? Lupakah mereka kalau banyak ilmuwan peletak dasar-dasar sains (misal kalkulus, astronomi, genetika, dan kimia) yang merupakan agamawan di masanya?"

Ketika saya dan istri mengalami lockdown di Jepang (2020), saya melihat semua rencana rapi yang saya buat untuk menuntaskan secara cepat S-3 berantakan. Di situlah saya makin mengenal Tuhan, Dia adalah energi yang bekerja di luar kendali saya sebagai seorang individu. Sepaham-pahamnya saya dengan semua teori yang bisa menjelaskan lockdown itu, saya tidak punya daya buat membatalkannya. Tawakkal, bersyukur, zikir dan shalawat adalah upaya saya untuk meyakinkan bahwa Tuhan selalu bersama hamba-Nya yang mengingat-Nya, dan itu menenangkan saya. Bagi saya, sains dan semua teorinya adalah ikhtiar/usaha manusia buat mengenal karya-karya Tuhannya. Pengetahuan material dari sains tidak bisa menggantikan pengetahuan irasional yang ditawarkan agama.

Satu lagi, hikmah yang saya dapatkan dari tinggal lama di luar negeri, yaitu: menurut saya, di Indonesia ini tidak ada insentif buat menjadi cerdas atau profesional di bidangnya. Di Jepang, kalau Anda profesional di bidangnya, sebelum lulus Anda sudah ditawari ruangan di lembaga penelitian plus rumah dinas yang bisa Anda miliki setelah sekian tahun bekerja. Sementara itu, di Indonesia, insentif diberikan ke ahli drama, tukang kibustukang egol-egolan di media sosial, dan artis tukang selingkuh! (Sigh!). Tidak ada solusi dari saya.


Saya dan istri di Gunung Takao, Tokyo, Oktober 2021




Hokkaido University, February 2019

Kamis, 04 Januari 2024

Then and Now

Now and Then by the BEATLES

I know it's true

It's all because of you

And if I make it through
It's all because of you

And now and then
If we must start again
Well, we will know for sure
That I will love you

Now and then
I miss you
Oh, now and then
I want you to be there for me
Always to return to me

I know it's true
It's all because of you
And if you go away
I know you'll never stay

Now and then
I miss you
Oh, now and then
I want you to be there for me

I know it's true
It's all because of you
And if I make it through
It's all because of you

_______________________




Senin, 22 Agustus 2022

Dopamine attack good

 "Setelah punya gelar Doctor (PhD) terus pulang mau bikin apa?"


Bahwa gelar akademis seseorang tidak ada pengaruh pada kemampuan untuk bertahan hidup alias menciptakan kesejahteraan bagi dirinya dan keluarganya. Singkatnya: pergi jauh berkelana kuliah -> mengerjakan disertasi di bawah tekanan -> ditambah pula pandemi melanda -> pulang bawa ijazah, tidak tahu mau bikin apa -> lalu daftar sembarang kerja kanan-kiri, kalau beruntung dapat kerja, kalau tidak, kemudian menganggur (sigh!). Orang bilang, setidaknya dengan bergelar tinggi maka akan tinggi pula kesempatan hidup dengan layak.

Sewajarnya bahwa bergelar doktor harus juga dibarengi dengan kemampuan kewirausahaan, karena tentunya itu akan membantu para pemegang titel akademis ini untuk menciptakan kesejahteraan bagi dia dan keluarganya. Berjualan sate ayam pinggir jalan, membuka toko pakaian, on-line shop, ojek onlen, jasa sewa motor, buka warung pecel lele & pecel ayam, ternak puyuh, ngangon sapi, bertani porang, beli saham pabrik nikel, misalnya. 
ち く し ょ う


<from: google. com>

Intermezzo, faktanya: empat setengah tahun berjumpalitan belajar sampai kepala pening dan mata terasa juling, tiga tahun jungkir balik banting tulang mencari beasiswa yang ditanggung penuh, itupun belum dihitung sewaktu tunggang langgang mencari profesor-profesor yang sudi menerima mahasiswa. Namun setelahnya, setelah kembali ke Wakanda: bahkan menjadi tukang parkir pun tak ada yang menerima. Sementara di Jepang sana, saya bertanggung jawab dan punya wewenang penuh menggunakan instrumen-instrumen penelitian bernilai multijutaan yen dengan kebebasan akses masuk ke database penelitian. Sedangkan 'nun jauh di Wakanda', duduk bedebah-bedebahh yang ada orang tuanya sampai rela menggadaikan SK demi bisa meminjam uang untuk dipakai menyuap pejabat korup supaya anaknya lolos PNS. Saban hari si bedebah itu terlihat menyetiri mobil melintas di depan rumah, melengos melihat kawan yang 'dihimpit nasib'. Menyesakkan, dikalahkan oleh nepotisme orang berduit!!! Vaffanculo.


source: instagram. com



Pelajaran yang dapat dipetik adalah: menjalani dan menikmati proses hingga memperoleh gelar doktor tentunya adalah sebuah investasi yang baik yang tidak akan sia-sia. Anda akan memiliki pola berpikir tajam dan matang. Akan tetapi, jangan membatasi diri.

by: Sirajudin

Minggu, 30 Mei 2021

Brother at your side

Mungkin orang akan menjawab bahwa dengan kuliah di Jepang, kita akan mendapatkan ilmu yang lebih luas. Nyatanya saya tidak.


Ilmu tentang bidang saya, saya dapatkan sedikit. Kenapa? Karena saya Nihongo zenzen tabenai (translasi: Tidak bisa ‘termakan’ bahasa Jepun) alias saya tidak mahir berbahasa Jepang.


Namun terlepas dari kendala bahasa yang terbata-bata, di Jepang saya bisamendapatkan fasilitas yang luar biasa untuk ilmu. Misalkan saja, akses ke jurnal-penyedia paper ilmiah gratis,penggunaan alat laboratorium yang bebas tapi bertanggung-jawab, dan biaya-penelitian yang sepenuhnya ditanggung universitas. Tiga akses penting itulah yang kita belum bisa dapatkan secara cuma-cuma di Indonesia.


Kemudian, beasiswa di Jepang itu cukup besar. Bisa membantu orang tua kalau kuliah di Jepang. Pun untuk yang arubaito (bekerja paruh waktu), kadang gajinya lebih tinggi dari pekerja full time di Jepang, dan itu tanpa pajak. Tapi, biaya hidup di Jepang juga besar, maka itu berbanding lurus, sehingga kita harus banyak berhemat jika kita ingin menyisihkan banyak uang.

Dari sinilah, kita mempunyai banyak keuntungan belajar bagaimana bertahan hidup dengan serba keterbatasan. Terbatas uang, terbatas keluarga (untungnya saya sambil ditemani dan menemani istri selama di sini), dan terbatas bahasa.heheeh

Selain itu, selama berkelana di tanah Jepang, saya dan istri bisa mengunjungi tempat-tempat wisata, budaya, wisata kuliner halal, ke museum spesimen, dll. (Tujuannya) Untuk melihat negeri "ini". Untuk berbelanja semangat. Agar setidaknya diri saya sendiri tidak malas dan tidak mudah berdalih (karena kok bisa ya negeri kita yang SDA-nya buuuanyak bisa kalah dengan negeri 'ini', miskin SDA). Ya semua itu pakai biaya sendiri, eh...beasiswa. Bukan dari pemerentah Wakanda ehh...India...ehk. Tidak bisa pula dipungkiri jikalau saat mem-posting foto-foto di IG atau pesbuk maka netijen-netijen akan nyinyir berkata:”jalan-jalan mulu…”. Saya beritahu: postingan itu hanya segelintir part of happiness yang saya bagikan, sedangkan banyaaaaaaaak sekali part of sadness yang tidak saya bagikan. Lagian kagak ada manfaatnya posting yang sedih-sedih. Saya sebisa mungkin hanya mmbagikan post beraura positif, aura bahagia saja,.



--------------------------------------------------------

Pada akhirnya kita akan selalu mencari ketenangan. Menikmati waktu, me time semaunya. Berkumpul dengan orang-orang terdekat, keluarga. Tidak terikat oleh apa pun. Dan kapitalisme tidak akan membiarkan hal itu karena kapitalisme akan membuat kita kehilangan waktu yang banyak, bahkan kurang tidur! Ujung-ujungnya nanti akan bermuara pada uang! Jikalau matahari sebagai inti SDA, maka uang adalah inti SDM. Tapi kita perlu uang untuk hidup. Di sinilah ironinya.


Maka kita perlu menyadari dan kembali ke tujuan akhir: untuk bahagia dan bebas. Tentu ‘ini’ hanya bisa enteng diucapkan oleh orang yang sudah ‘merasa’ mendapatkan apa-apa yang dia inginkan dan dia cari. Tentu ‘ini’ akan bermuara pula pada kesyukuran.


_-----------------------------------------


Saya punya satu mantra, yaitu:


Mereka (kamu) boleh pintar, saya (kita) tidak boleh bodoh".


Mantra yang saya beri tanda kutip itu baiknya dipegang oleh siapa saja. Jangan pernah salahkan mereka yang pintar itu. Tapi kita juga harus ingat: kita jangan bodoh! Mantra ini saya wariskan dari sensei saya dulu. Waktu itu konteksnya beliau membicarakan bahwa wabah ‘ini’ harus dirunut baik-baik, dari mana asalnya, bagaimana dan mengapa bisa terjadi. (Berita) Jangan ditelan bulat-bulat. Tidak semua yang kamu dengar itu benar tapi semua yang benar harus didengar. Sensei juga bilang:"This pandemic did not broke a system. It exposed a broken system".


Meski sudah lebih setahun ‘menderita’, tetap saja generasi yang sekarang lebih beruntung dibanding generasi yang lalu: menderita berkepanjangan. Dulu ada perang dunia pertama (1914-18). Disusul pandemi flu Spanyol (1920). Kemudian depresi ekonomi dunia. Disusul perang dunia ke-2 (1939-45). Beruntunglah yang lahir setelah tahun 1965. Tidak pernah ada gejolak besar – kecuali gejolak di hati masing-masing.



-----------------------------------------------------------------


As retirement is a time for feeling luck and glad to be alive


I would like to express my heartfelt and my deepest sympathy for the retirement of Prof. Jun-ichi Kojima (Kojima sensei) of Graduate School of Science and Engineering, Ibaraki University. During my study under his supervision in Japan, Kojima sensei always supervised the whole work eagerly, advised critically and gave constructive comments on my research and thesis. He has a warm heart, constant encouragement and keen interest throughout this study. As for his retirement, I think Kojima sensei deserves the best retirement ever because of all dedication and hard work. I am so grateful to have met him and learned from him. Moreover, I regarded Kojima sensei as my father in Japan. Hopefully Kojima sensei’s retirement is perfectly grand with lots of good luck.


----------------------------

Alan Handru (32 y/o - Indonesia), Doctoral student, Major in Complex System Science, Graduate School of Science and Engineering, Ibaraki University (class of 2018).

----------------------------

Jumat, 22 Mei 2020

japan tateyoko

----------------------------------------------------------------------------

Sebagian besar orang berpikir bahwa Jepang adalah pusat futuristik yang menakjubkan yang menampilkan teknologi paling mutakhir. Hal ini mungkin terjadi beberapa waktu yang lalu, namun saat ini Jepang ---setidaknya menurut pengamatan saya setelah tinggal di Jepang--- terlihat agak tertinggal di bidang tekhnologi. Cobalah berjalan di kawasan modern Tokyo dan kita akan menemukan jawabannya. Semuanya terasa seperti tahun 90-an, pun di Mito tempat saya bermukim. Tidak dipungkiri Jepang pernah menjadi cikal bakal penemuan tekhnologi baru, tetapi setelah menikmati puncak teratas yang mereka miliki, sejak itulah mereka tertinggal (Bubble Era). Tekhnologi di sini terlihat kuno dan tidak mengesankan. Salah satu musababnya adalah selama tekhnologi sekelilingnya bekerja dengan sangat baik, mereka merasa tidak perlu menggantinya.


---------------------------------------
Pasangan ini mewakili anak muda Indonesia yang aspirasinya tidak hanya sekedar membangun keluarga tradisional yang stabil, yang didambakan generasi orang tua mereka dulu. Ada puluhan juta orang seperti mereka di Indonesia, yang telah memperoleh gelar dan sertifikat pendidikan namun siap kerja di tengah kelambanan ekonomi dan bersaing dengan banyak lulusan lainnya, yang jumlahnya melebihi lapangan pekerjaan bergaji layak yang tersedia. mereka agak sedikit galau, tapi jalan masih terbentang dan kesempatan terbuka luas.

----
Desember 2016. Setelah hampir 2 tahun saling berbalas e-mail, akhirnya datang kabar yang saya tunggu-tunggu: pendaftaran beasiswa. Sensei (supervisor) saya sekarang mengatakan agar segera mempersiapkan dokumen penting dan agar bersiap untuk tes wawancara.  (Calon) Istri saya pun begitu (waktu itu istri sedang "magang" di Jepang selama 1 bulan). Kami berdua saling bahu-membahu dalam menyiapkan syarat2 beasiswa. Alhamdulillah, kami lulus! Kami pun menikah. 

Saya merasa sangat beruntung bisa "terpilih" karena dengan kualitas yg pas-pasan begini, sya bisa melangkah sejauh ini. Saya harus mensyukuri dan berjuang untuk mmbuktikan hal itu! "Itu" itu adalah motivasi saya sejauh ini hehehe.

September 2017. Teringat ketika di bandara, kami berpamitan kepada orang tua dan memohon doa agar berhasil dalam studi. Kedua orang tua kami memang bukan siapa-siapa, mereka hanya pedagang kecil dan guru biasa, namun berkat doa-doa mereka-lah kami bisa seperti sekarang: mewujudkan mimpi kami bersekolah ke LN (yang bahkan 8 atau 10 tahun yang lalu tidak berani kami impikan!). Saat itu pula Ayah berkata bahwa beliau bangga saya mampu mencapai apa yang tidak pernah dicapainya. Saya terharu.




27 September 2017. Jepang hampir memasuki musim gugur sewaktu kami datang. Angin dingin menggigit sampai terasa ke tulang-tulang. 

"ようこそ、アランとドナ"

Yōkoso, Aran to  Dona!" (Selamat datang, Alan dan Dona!), begitu mungkin anginnya menyapa. Saya harus "berpisah sementara" dengan istri karena istri berkuliah di Tokyo sedangkan saya di Ibaraki. Jarak tempuh antar keduanya kira-kira ditempuh dalam 3 jam perjalanan dengan kereta.


つづく~

-----------------------------------------------

Jumat, 05 Juni 2015

Ganymede and Dione




the BERKAT YAQIN (foto: dokumen pribadi)




Pamflet yang menyiarkan akan diadakannya turnamen game PlayStation Pro Evolution Soccer  2013 (PES 2013) membuat hari-hari saya menjadi bergairah. Total hadiah yang diimingkan adalah sebesar dua setengah juta rupiah, dengan insert sebesar tiga puluh lima ribu. Lumayan sekali untuk menambal uang makan selama, kira-kira, dua bulan jika menang. Sudah satu minggu persiapan dilakukan dengan latih-tanding bersama anak tetangga sebelah kosan yang masih duduk di bangku kelas 6 SD. Bermodal kepercayaan diri yang membuncah tinggi karena hasil uji coba yang memihak 75% kemenangan berada di tangan, ---haaalaaaah… --- paling tidak, satu kaki sudah bisa di semifinal-lah.

Hari Minggu adalah hari perhelatan turnamen. Orang yang namanya disamarkan ini mendapat jadwal tanding sekitar ba’da Ashar, pukul setengah empat! Beruntunglah turnamen PS sepakbola kali ini masih memakai format PES tahun 2013, karena saya kurang paham bermain PES keluaran terbaru, yaitu yang 2014 atau 2015. Format kompetisinya sendiri memakai sistem Knock Out (K.O), yang terdiri dari 4 pool, dan juara masing-masing pool akan maju memperebutkan juara 1, juara 2, juara harapan 1, dan juara harapan 2.

Saya masuk Pool D. Berkat keyakinan yang sangat tinggi, maka saya putuskan memberi nama BERKAT YAQIN sebagai nama peserta turnamen. Filosofinya sudah jelas karena saya yakin, maka saya insya Allah menang. 

Pertandingan dimulai setelah Ashar, saya memakai tim Italia JUVENTUS F.C sebagai jagoan. Lawan pertama saya, mahasiswa fakultas Pertanian semester 6. Dia memakai tim Manchester City. Permainan dimulai. Bola dioper dari kaki ke kaki, kadang bola disambut kepala pemain virtual di layar LCD. Tiktak sana sini. Passing-shooting... Skor 3-0! Saya kena bantai. Menyedihkan, rupanya selama ini saya telah menilai diri terlalu tinggi, overvalued. Namun, tidak mengapa. Kekalahan saya tidak lantas membuat surut langkah. Malah saya berterima kasih karena saya dapatkan hikmah yang begitu banyak agar saya lebih berpikir, lebih bersemangat, dapat mengendalikan emosi, belajar dari pengalaman, melatih kesabaran, dan agar selalu menghargai orang lain.

Akhirnya, saya pulang ke kosan. Makan sore (kalau ada yang namanya makan sore), shalat, dan membaca buku. Lalu dilanjutkan mengisi teka-teki silang. Tidak lupa, malamnya, saya minum Indomilk rasa coklat.

Kamis, 09 April 2015

You know what they've done to boys like us in jail cause nothing on earth can hold Houdini a prisoner.

--------------------------------------------------------------------------
Assalamualaikum, 


Sengaja saya tuliskan surat, ini dari masa depan! Saya adalah dirimu yang berusia lebih tua darimu dan berada beberapa tahun dari waktu sekarang. Saya baik-baik saja, tapi saya tidak ingin memberitahukanmu apa pekerjaan dan bagaimana kondisi kehidupan kita sekarang. Saya tidak ingin membuatmu malas-malasan dan berserah pada keadaan.

Melalui surat ini saya memberikan sedikit kesan dan pesan sebagai panduan sekaligus mencegahmu melakukan kebodohan. Kita memang kepala batu, bahkan nasihat orang tua hanya akan mampir sejenak di telinga. Namun, semoga rangkaian kalimat yang tertuang di surat saya ini bisa melunakkan kerasnya kepalamu dan semoga kamu percaya apa yang saya katakan. Semoga juga kamu bisa berjuang hingga akhir supaya tidak akan ada yang akan kamu sesali setelah dewasa. Camkan!

Alejamaoelaj, memang di usiamu yang sekarang kamu sudah mulai mengenal banyak pilihan, namun ketahuilah bahwa ada konsekuensi besar yang datang sepaket bersamanya. Paman dari Peter Parker, si Spider-man itu, pernah bilang:"With great power comes great responsibility". Usia muda yang baru kamu jalani sekarang memang akan mengantarkanmu kepada banyaknya pilihan hidup. Bahkan, kamu sudah memiliki hak untuk memutuskan mana yang akan kamu jalani kemudian.

Jangan sampai hal yang kamu anggap baik di masa sekarang ternyata akan berpengaruh buruk bagi masa depan. Sebaiknya kamu memikirkan ulang segala langkahmu, supaya tidak termakan ego dan nafsu sesaat. Iya, saya paham, haqqul yaqin saya, usiamu sekarang ini membuatmu dipenuhi rasa ingin tahu berkat gelegak darah muda. Namun, sekali lagi, pikirkanlah apa yang akan kamu lakukan, gunakan masa depan sebagai pijakan dan pertimbangan. Jangan biarkan ego dan rasa ingin tahu melahapmu, menggerogoti, dan menghancurkan dirimu secara perlahan.

Kamu memang masih muda, tapi pada saatnya nanti kamu akan menua. Jagalah kesehatanmu mulai dari sekarang, selagi masih bisa. Apalah merokok itu???? Saya tahu, dulu kamu itu hanya ingin sok-sokan dengan bergaya macam pria yang kamu lihat di papan iklan rokok ---- saya beritahu, pria di papan iklan itu sebenarnya menyaru sebagai lelaki gagah, namun sudah impoten karena kegemarannya menghisap-isap asap.

 

Mungkin saat ini kamu masih muda dan dipenuhi dengan tenaga. Hal ini jangan membuatmu lengah. Esok saat waktunya tiba, kamu akan menua. Kesehatan yang kamu miliki sekarang tidak patut untuk disia-siakan.

Habiskanlah waktumu untuk menjelajah dunia dan berkarya. Ingat kamu hanya menjalani masa muda ini satu kali saja. Satu kali saja!

 

Pandai-pandailah memilih kawan karena mereka berpotensi membuatmu salah jalan, namun ada juga dari mereka yang justru dapat menuntunmu ke rute yang benar.

 

 

Saya paham, haqqul yaqin saya, usiamu yang sekarang sedang gemar-gemarnya merasa paling benar dan beradu pendapat dengan orangtua, tapi bahagiakanlah mereka selagi kamu masih bisa. Usia manusia ada pada Allah SWT dan tidak ada satupun manusia yang mengetahuinya. Ya, habiskan waktumu untuk membahagiakan orangtuamu selagi masih ada kesempatan dan jangan pernah menundanya. Tidak usah menunggu usiamu menua dan kamu lebih mapan dalam segi keuangan. Kamu bisa membahagiakan mereka mulai dari sekarang, selama mereka masih bisa menghela nafas. Bahagiakan mereka dengan limpahan waktu dan tenaga yang kamu punyai.

 

 

Camkan benar kata-kata saya ini, bro!

 

at Hipweee City, 23.04 p.m

--- berbaring malas di kasur empuk ---

Alejamaoelaj

dirimu yang tersayang, xxx

---------------------------------------------------------

Jumat, 15 Agustus 2014

the expedition of :^D


(foto: dokumen pribadi)
Kerinci, on August 2014 (Cassiavera landscape like an Autumn forest)


Autumn, Forest, Japan HD wallpaper for Standard 4:3 5:4 Fullscreen UXGA XGA SVGA QSXGA SXGA ; Wide 16:10 5:3 Widescreen WHXGA WQXGA WUXGA WXGA WGA ; HD 16:9 High Definition WQHD QWXGA 1080p 900p 720p QHD nHD ; Other 3:2 DVGA HVGA HQVGA devices ( Apple PowerBook G4 iPhone 4 3G 3GS iPod Touch ) ; Mobile VGA WVGA iPhone iPad PSP Phone - VGA QVGA Smartphone ( PocketPC GPS iPod Zune BlackBerry HTC Samsung LG Nokia Eten Asus ) WVGA WQVGA Smartphone ( HTC Samsung Sony Ericsson LG Vertu MIO ) HVGA Smartphone ( Apple iPhone iPod BlackBerry HTC Samsung Nokia ) Sony PSP Zune HD Zen ; Tablet 2 ; 
(courtesy by google.com)
Autumn forest at four season countries
_________________________________________

Kerinci, July 30th 2014
_________________________________________


Berakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian.
Bersakit dahulu, bersenang kemudian



Kalau saya harus membuat suatu karangan yang mencerminkan pribahasa tersebut di atas, maka saya akan menulis pengalaman seorang sahabat, sebaris duduknya dengan saya ketika sekolah dulu. Orang yang menginspirasi saya.

Tidak dapat saya lupakan dulu, ---sejak kehadirannya--- selalu saja saya menyampir-nyampirkan buku pelajaran Matematika di dekat meja belajarnya. Maksudnya agar saya dapat dengan mudah melihat pengerjaan aljabar, persamaan linier/non-linier, dan ilmu-ilmu ukur lain yang dikerjakannya karena jelas sekali saya tidak paham dengan pelajaran berhitung. Masih pula saya ingat bagaimana teman saya itu menulis jawaban soal-soal aljabar secara rapi, tanpa coretan atau hapusan. Suatu pertanda bahwa sewaktu menjawab soal, pikirannya sudah jauh melihat ke mana arah jawaban harus dicari. Itu berarti daya nalarnya secara abstrak begitu tinggi.

Seperti kebanyakan kisah-kisah ironi, tidak disangka-sangka di saat kenaikan kelas berikutnya teman saya itu tidak hadir. Pun untuk beberapa hari kemudian. Berhari-hari ditunggui guru, tidak juga dia muncul. Tanpa salam perpisahan, teman saya itu pergi. Namun, beberapa bulan kemudian baru ada kabar ternyata dia dan keluarganya yang keturunan Tionghoa telah pindah. Sekolah tidak dilanjutkan lagi. Dia mesti cepat-cepat mendapat pekerjaan untuk mencari nafkah demi membantu menghidupi keluarga. Keterhentian karier teman saya itu bukan terjadi karena pencapaian ketidakmampuan oleh kecerdasan ---sebab saya tahu betul kapasitas intelektualnya--- atau karena diburu batas umur, melainkan karena dia tidak mampu secara ekonomi. Melalui akun media sosial, saya akhirnya berjumpa dengannya setelah tidak bersua selama beberapa tahun. Dia telah sukses ---tergantung apapun arti sukses itu (yang relatif)--- menjadi saudagar.

Ibarat dalam suatu pertandingan atletik, teman saya itu sebenarnya telah bertanding dalam pertandingan loncat tinggi dan mampu melewati semua letak mistar yang dihadapkan kepadanya. Akan tetapi sebelum letak mistar maksimum yang dapat dilompatinya itu dicobakan kepadanya, ia sudah berhenti bertanding. No chance but keep moving forward...

Dapatlah dibayangkan bagaimana dia melaksanakan pertandingan loncat tinggi itu. Setelah melewati mistar pendidikan dasar, ternyata ‘mistar’  tantangan itu diangkatnya sendiri ke tingkat yang lebih tinggi, dan dia ‘bertanding untuk mencapai rekor tanpa kehadiran dan tepuk tangan penonton’. Saya telah yakin, dia tidak akan berhenti pada ketinggian itu. Menurut hemat saya, dia masih jauh di atas tingkat ketidakcakapannya, sehingga mistar loncat tingginya masih dapat diangkat lebih tinggi lagi tanpa harus takut jatuh karena tersentuh tubuhnya sendiri sewaktu dia melompati. Dia telah dipakaikan ‘baju kehidupan’ yang ternyata sempit. Namun tingkat kecerdasannya pula yang pada akhirnya membuat dirinya berhasil memperbesar ukuran baju kehidupannya itu, tanpa meminta bantuan orang lain. Sederhana. Tuhan akan menolong orang yang mau menolong dirinya sendiri.

You have inspired me, dude!


Jumat, 25 Januari 2013

Both of wet catched packets

 ---- Friday, 25 January 2013 ----
Selepas wisuda dan menerima ijazah, maka gw masuk ke fase hidup gw yang berikut. Menjadi seorang sarjana. Lantas gw pulang kampung, mengelola perniagaan (baca: perusahaan keluarga/family corporation). Niatnya gw mau jadi berguna sebagai anak dan sebagai abang, tapi kenyataan di lapangan gw emang kagak bakat jadi pedagang. Gak apa-apa, bakat gw itu memang di bidang perfilman: bagian katering Production House, huahahaha…

Ya, disinilah gw sekarang. Berusaha membujuk diri sendiri karena nyatanya sekarang gw tak lebih adalah bagian dari jutaan orang muda berijazah perguruan tinggi yang ketar-ketir menghadapi masa depan. Karena itu supaya gw ada gunanya, saban pagi, siang dan petang gw membantu Bapak --- menaik-turunkan kasur pegas yang beratnya hampir dua kali berat seluruh badan --- di toko, sepuluh kasur gw angkat bolak-balik. Tak mengapa, sekalian untuk membentuk body gw supaya lebih atletis, hehehe. Setelah menimbang-nimbang, semua itu paling lebih baik daripada telinga panas karena mendengar cibiran tetangga bahwa gw tak lebih dari seorang pemalas yang tak berguna.

Sembari memberdayakan tenaga muda serta dengan semangat tidak ingin menyusahkan orangtua, gw mencari kesempatan beasiswa S-2 dan meng-apply lowongan kerja yang tersebar di internet. Pelbagai jenis pekerjaan yang gw minati gw kirimkan berkas lamarannya berikut CV. Beberapa minggu kemudian ada panggilan interview dengan salah satu bank pemerintah. Ketika gw beritahukan bahwa gw lulus wawancara awal sebagai calon pegawai bank, Bapak merasa sangat bangga. Tak terkira bahagianya Bapak waktu itu, berseri-seri wajahnya. Selanjutnya gw menghadapi tes penerimaan.

Ada beberapa macam tes yang harus dikerjakan, mulai dari tes IQ, tes penalaran, tes Paulli sampai tes menggambar pohon. Sebanyak 350-an para pencari kerja yang sama harus gw saingi demi dapat mengisi sepotong kolom pekerjaan kelak sebagai Pegawai Bank. Dari setidaknya 37 bentuk tes penerimaan pegawai yang telah terdaftar, yang model tes IQ inilah yang paling berbahaya. Gw tidak lulus tes dan memulai dari awal kembali. Gw coba lagi ikut tes penerimaan pegawai pada sebuah badan usaha milik negara, hasilnya: Anda belum beruntung. Okeh, that’s fine. Jika salah perbaiki, jika gagal coba lagi.




Gw beritahu, saat-saat seperti inilah gw sempat menjadi rentan galau, wkwkwk. Berupaya gw maklumi dan dengan sedikit culas bahwa sistem keseimbangan ekonomi milik negeri ini belum bisa menampung orang-orang seperti kami. Sempit sekali lapangan kerja itu! Gw belum menjadi siapa-siapa. Pernah terpikir untuk menjadi bintang pilem, menjadi aktor, heheh. Tapi, sedikit banyak gw menimbang-nimbang kadar tampang (Dan kalo pun benar gw jadi aktor, gw akan menolak prosedur operasi plastik seperti fenomena ‘permak wajah’ artis zaman sekarang. Lagian, buat apa pake operasi plastik sgala!? Sayang aja udah ganteng-ganteng kayak gini dikasih plastik, ntar di jidat gw ada cap “MADE IN JAPAN” pula, kayak di baskom kamar mandi!!! wkwkwk). Hahaha, gw hanya mencoba menghibur diri. Bagaimanapun juga gw akan terus mengejar kebahagiaan.


Gw bimbang mengubah mindset. Umpama koloni rayap, orang macam gw ini termasuk kasta rayap pekerja. Bukan kasta prajurit bukan pula alates. Hampir sinkron dengan itu, dulu gw ingat Bapak pernah bilang: lebih baik kecil jadi bos daripada besar jadi kuli. Untuk menghibur, Bapak juga bilang bahwa batasan bekerja itu di dalam agama bukanlah harus menjadi pegawai, insinyur atau profesi lain. Sebenarnya pekerjaan itu banyak, cuma kita sudah salah desain. Bekerja itu definisinya lebih kepada mendayagunakan potensi dan tidak merugikan orang lain serta halal. Yang penting bekerja secara senang dan bergembira. Kata Bapak pula, dalam menjalani kehidupan itu tergantung mau jadi apa kita: apakah mau mengabdi atau mau jadi kaya? Kalau ingin kaya ya dagang. Sekarang karena usahanya, Bapak jadi bos (baca: pengusaha kecil di wilayah pertokoan yang sedang berkembang di Kerinci) di toko seantero jalan Pasar Koya. Bapak jadi bos karena Bapak membuka peluang untuk dirinya sendiri. Tetap saja, keinginan dalam diri menggebu-gebu agar menjadi anak yang berguna dengan cara bekerja untuk membantu-bantu ekonomi keluarga karena gw adalah anak pertama.

Gw mengheningkan cipta sambil bertafakur. Bahwa gw, satu dari jutaan sarjana yang sedang gugup itu, memiliki cita-cita sedemikian tinggi bahkan tinggi sekali. Gw tidak mau menyalahkan sistem, nepotisme, kolusi apalagi menyalahkan kondisi alam. Alam kerap dipersalahkan. Sementara kalo Alam selalu disalahkan, kasihan kakaknya… Vetty Vera. Hehehe…

Oh, Ya Allah…
Hamba tahu Engkau-lah sang Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan segala doa, segala kata, segala bisikan.
Perkenankanlah cita-cita hamba. Aamiin.

O iyah, apa kabarnya teman-teman gw yang lain? Walo pun kami udah berpencar-pencar merantau tapi komunikasi tetap berjalan, ‘kan ada fesbuk. Salah seorang teman SMA gw, Dapin (still dreaming's blog), sekarang di Medan. Dia ikutan semacam program profesi. Dia udah jadi guru, seorang pahlawan tanpa tanda jasa. Kalo gw, pahlawan tanpa tanda lahir, wkwkwk. Dari awal masuk kuliah ampe sekarang, karena masih sama-sama di Padang, gw sering ketemu ama sebagian temen-temen SMA gw dulu, kami ngumpul sambil maen futsal. Si Dapin seh berusaha bwt ketemu ama gw n’ temen-temen, tapi cuman kami-nya menghilang, baru pas dibacain ayat Kursi si Dapin-nya muncul. hehehe... Peace~

---------------------------------------------------------------------------------------------____
Gw mau bikin SIM (bahasa Inggris-nya: draiver lisens). Iseng-iseng, mumpung gw lagi di kampung dan lagi sibuk ngurus surat-surat penting bwt persiapan “berkelana”. Yeah, sebenernya (awalnya) gw pikir kagak penting-penting amatlah bikin SIM itu, soalnya gw lebih banyak dan lebih suka dibonceng ke mana-mana pake motor. Naik sepeda roda tiga aja gw jatuh, nah inih mau pakai naik motor pula, heheh. Di kantor polisi gw dites soal rambu-rambu lalu lintas.

Ck, ini mah kecil, Pak!




---> “Terserah mau ngapain aja!”  SALAH

Jawaban yang benar: Ditutup untuk semua kendaraan dari segala arah.





--->  “Dilarang masuk” BENAR

Jawaban yang benar: Dilarang masuk




---> “Kawasan tegangan listrik tinggi/SUTET”  SALAH

Jawaban yang benar: Reparasi




---> “Dilarang stop” BENAR

Jawaban yang benar: Dilarang Stop/Berhenti


---> ”Dilarang mengeluarkan Pantat?” SALAH

Jawaban yang benar: Dilarang Parkir




---> “Kawasan pedofil baru akil baligh.” SALAH

Jawaban yang benar: Jalan yang diwajibkan untuk pejalan kaki.







---> ”Orang jelek dilarang lewat!!!” SALAH

Jawaban yang benar: Pejalan kaki dilarang masuk.







 ---> ”Jualan sendok  dan garpu” SALAH
Jawaban yang benar : Rumah makan







--->  “Tempat pacuan kuda” SALAH

Jawaban yang benar: Jalan yang diwajibkan untuk penunggang kuda.


 --->  “Orang iseng ngebolongin jalan” SALAH

Jawaban yang benar: Perbaikan jalan.




---> "Kawasan main anak play-group". SALAH

Jawaban yang benar: Awas! Anak anak.





---> "Boleh muter-muter?". SALAH

Jawaban yang benar: Arah yang diwajibkan.




---> "Kagak boleh jualan bakso n' siomay keliling di kawasan ini kali yak!? heheh". SALAH

Jawaban yang benar: Semua kendaraan tidak bermotor dilarang masuk.




 ---> "Jual gulali". SALAH

Jawaban yang benar: Angin dari samping.




---> "Jangan diraba, ntar digampar!!!". SALAH

Jawaban yang benar: Jalan tidak rata.




---> "Jualan sapi qurban". SALAH

Jawaban yang bnar: Awas ternak!




Oh, I have no idea ngejawab soal-soal rambu lalu lintas.

Nah, sejak terinspirasi gagahnya profesi pulisi waktu gw di Polres kemarin, gw terobsesi pengen masuk Densus. Fufufu... dari dulu gw emang udah ngerasa pantas ikut kesatuan polisi. Gw rela mengorbankan diri gw demi perdamaian! Tapi sayang, belum mendaftar aja gw udah ditolak. Akhirnya gw maen game perang-peranmgan di PS. Gw ceritain nih yak… minggu lalu, gw mergokin dua orang berantem di pasar. Gw coba lerai, ehk, malah gw kena gebukin ama mereka. Gw coba lerai lagi, gw digampar lagi. Gak apa-apa, gak pa-pa… demi perdamaian.……………............................................................................................................... Buseet! Anak-anak SD itu kuat sekali.

-----------------------------------------------------------------------------------------------___
Inter-Universal Systemic Theory III (An Introducing of Hodge-Arakelov-Theoretic Evaluation for Better Life Forward)

Oleh : Alejamaoelaj, M.Sc
disampaikan pada peringatan Hari Anak Nasional



Penjabaran atas rumus dari hipotesis saya adalah sebagai berikut:


Bila suatu benda diberi gaya, maka benda tersebut akan memberi gaya yang besarnya sama dengan gaya yang diterimanya (aksi = reaksi). Selama tidak ada gaya dari luar yang mempengaruhi gaya pertama maka gaya itu tetap konstan. Gaya yang diterima (S) akan bertambah besar jika dan hanya jika gaya yang menyertainya ditambah (P dan D diperbesar). Karena menurut Hukum Newton I:


berlaku:
Θ͇  v  = {q −1͞8 v •  Σ n∈Z (−1)n • q 1/2 (n+1/2 )₂ v • ʃU n+1/2 v }−1ɫ   
                                                   
(x+ s)(n [log_1 1]8 . 1 ) = (k=0)ʃ n 0 [(n¦k) [9,76].3k a(n-k) ]
                                      dengan H0 = 1


Singkatnya, jika theta fungsi tersebut diatas kita konversikan maka didapat bahwa (P) berbanding terbalik dengan (S) dan (D). Dengan mengubah nilai theta awal dan membandingkan dengan Θ͇  hasil algoritma multiradial maka dapat ditelaah sebagai: Keberhasilan berbanding lurus dengan Ketekunan dan Ikhtiar doa. Berikut adalah penjelasan mengenai hipotesis saya diatas yang dianalogikan dengan pencapaian hidup.

Berusaha untuk tekun. Orang Jawa bilang: sopo tekun maka tekan (siapa yang tekun maka ia akan mendapatkan). Bila kita tekun terus-menerus akhirnya kita akan menerima (hasil). Jadi kita harus optimis! Bagi Anda yang belum punya pasangan, santai saja karena saya punya tips untuk Anda. Terapkan metode saya, yaitu metode 3 B. “B” yang pertama, yaitu Berdoa, minta kepada Tuhan agar Anda didekatkan dengan calon istri Anda. Kemudian “B” yang kedua: Ber-usaha. Yaitu Anda berusaha untuk mencari kenalan sebanyak-banyaknya agar nanti banyak peluang mendapatkan calon istri. Nah, kalo “B” yang pertama dan “B” yang kedua tetap tidak sukses, maka terapkanlah “B” yang ketiga, yaitu: Bercermin. Mungkin Anda jarang bercermin sehingga Anda sering ditolak cewek dimana-mana.hehehe

Saya sangat setuju dengan pendapat dari Prof. Dr. H. Rionaldo Stockberas, DEA, KLMM,  M.Sc, M.Eng yang menyatakan bahwa Tuhan itu Maha Oke. Jadi, misalnya kita berpikir: “Ya Tuhan, aku kok kelihatannya bisa beli motor itu ya…” Oke! Kamu bisa beli. “Ya Tuhan, aku kelihatannya kok bisa jadi pemain bola kayak di tipi…” Oke! Kamu jadi pemain bola. “Ya Tuhan, aku kelihatannya kok ganteng ya…” Oke! Kamu jadi ganteng. Apapun yang kita pikirkan itu yang kita dapatkan. Di dalam Al-Qur’an dan hadits qudsi termaktub bahwa Allah SWT sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Maka adalah tidak salah kalau kita  berprasangka yang baik-baik kepada Tuhan. Meski terkadang prasangka kita tidak tepat, setidaknya masih ada kebaikan yang kita tidak tahu yang diberikan Tuhan kepada kita.

Kemudian yang tidak kalah penting adalah bersyukur. Kita harus bersyukur dengan apa-apa yang telah diberikan Tuhan. Karena apa-apa yang diberikan-Nya itulah yang paling baik. Misalnya:“Kenapa Tuhan memberikan saya badan yang kurus kerempeng kayak gini. Tinggal kasih benang aja udah kayak arku layangan…!?”. O..… itu mungkin biar saya bisa berhemat. Hemat kain pakaian bwt badan saya yang kecil. Atau ada orang yang berhidung pesek, ya syukuri saja. O… mungkin Tuhan memberikan yang seperti itu agar lebih panjang umur, karena kalo hidungnya kecil ‘kan nafasnya juga irit (♪♪♪ ♪♪♪ SRIIIT… SRIIIT… SRIIIT… ♪♪♪). Terkadang keterbatasan adalah ideal, maka syukurilah.

Sebagai intermezzo, baru-baru ini beredar konstatir yang dikemukakan oleh seorang sarjana lulusan salah satu perguruan tinggi. Klaim yang dikemukakan nyaris menarik sehingga diperlukan pikiran jernih untuk menganalisisnya. Dimana dia menjabarkan sebuah persamaan linear sebagai berikut:



-----------------------------------------------------------------------------------------------___
SIAP MAJU DI PILPRES 2013




MENATA BANGSA menuju jalan Mardhotillah.
BERSAMA KITA MAJU!!!


Dr. Nicholas Syahroni, M.Si

Sekilas Sepak terjang dan Perjalanan Karier:
* Pernah hampir D.O saat TK karena nilai ujian Perosotan kurang memuaskan.
* Bekerja di perusahaan di bidang pengemasan salep koreng.
* Kepala cabang kantor penitipan sepeda.
* Mantan atlet maen dingdong.
* Konsultan pada perusahaan di bidang ekspor-impor kardus bekas.
* Penggagas dan penasehat utama sinetron Cinta Fitra season 1 & 2 (tayang setiap hari pukul 17.00 WIB di CCTV).
* Ketua fans club Soneta grup tingkat kabupaten.
* Direktur CV. Tjap Tiga Anak yang bergerak di bidang industri minyak bulus & minyak lintah (perusahaan kontributor obat kuat).
* Pimpinan Orkes Melayu Nyiur Melambai.


VISI:
Mewujudkan bangsa dan negara yang berbudi luhur dan bermartabat dengan terwujudnya masyarakat berakhlaq moral mulia, kecukupan, sehat lahir bathin dan makmur secara ekonomi, situasi aman damai tenteram, terjaga keutuhan, dan berpolitik luar negeri yang berwibawa.

MISI:
. Mewujudkan sistem pendidikan nasional yang formal dan non formal dengan materi pembelajaran agama Islam yang intensif demi terwujudnya pemuda-pemudi bangsa berakhlaq mulia.
. Mewujudkan semua aparatur pemerintah dari pusat sampai desa memiliki kepribadian yang dapat menjadi teladan bagi masyarakat.
. Mewujudkan kedaulatan pengelolaan sumber daya alam secara mandiri.
. Mewujudkan situasi dan kondisi keamanan masyarakat yang aman damai dan tenteram.


“Walau berasal dari kalangan independen dan tanpa dukungan partai, tidak menyurutkan niat Nicholas Syahroni untuk maju sebagai calon presiden. Pernah menyelamatkan nenek-nenek yang jatuh ke kali merupakan salah satu jasanya. Dia bahkan tak menjadi jumawa dengan aksi gemilangnya itu. Dia mengaku masih terus belajar dan berlatih keras untuk mencapai performa terbaik. Sikap rendah hati seperti itu justru menjadi jaminan tersendiri bahwa dia bakal terus berkembang menjadi lebih baik.” --- Agung Gumelaar (mantan Ketua Persatuan Kerukunan Tetangga Seluruh Indonesia / peraih Pak RT Nasional Awards 2006)

“Ada pepatah bilang, kalau mau melawan seseorang, ukur dulu kekuatan lawan dan diri sendiri. Begitu juga Nicholas Syahroni, ia memulai dengan menghitung-hitung titik lemahnya. Dia kurang dikenal massa. Tapi dengan rasa optimistis yang tinggi setinggi puncak giginya, dengan senyum selalu menghiasi wajah dan penuh rasa humor, bulatlah tekadnya untuk menjadi aktor dalam permainan politik.” --- Syaukani  (pembimbing spiritual)

“Nicholas itu berasal dari bahasa Yunani artinya kemenangan rakyat. Rionaldo berasal dari bahasa Teutonic yang artinya murni dan berani. Secara harfiah, duet pasangan ini dapat berarti kemenangan rakyat yang murni berazaskan keberanian. Cocok bukan buatan. Pasangan capres dan cawapres ini sungguh sangat serasi. Diantara mereka saling isi-mengisi, seolah diantara keduanya ada telepati. Pantas memimpin bangsa inih! Berima.”
---  Jakob Pras (wartawan KOMPOS dan pemimpin redaksi majalah TEMPA)

"Oh... Makanan apa yang ia makan. Ia begitu bersinar. Ia pasti makan kacang badam. Ia begitu mempesona. Aihhh..." --- Zarkawi (pegawai pemerintah)

"Track record dan kapabilitas keduanya jangan diragukan lagi! Saya miris.... . Demikian dari saya. Terima kasih." --- Badrianto (juru azan mushalla)