Jumat, 22 Mei 2020

japan tateyoko

----------------------------------------------------------------------------

Sebagian besar orang berpikir bahwa Jepang adalah pusat futuristik yang menakjubkan yang menampilkan teknologi paling mutakhir. Hal ini mungkin terjadi beberapa waktu yang lalu, namun saat ini Jepang ---setidaknya menurut pengamatan saya setelah tinggal di Jepang--- terlihat agak tertinggal di bidang tekhnologi. Cobalah berjalan di kawasan modern Tokyo dan kita akan menemukan jawabannya. Semuanya terasa seperti tahun 90-an, pun di Mito tempat saya bermukim. Tidak dipungkiri Jepang pernah menjadi cikal bakal penemuan tekhnologi baru, tetapi setelah menikmati puncak teratas yang mereka miliki, sejak itulah mereka tertinggal (Bubble Era). Tekhnologi di sini terlihat kuno dan tidak mengesankan. Salah satu musababnya adalah selama tekhnologi sekelilingnya bekerja dengan sangat baik, mereka merasa tidak perlu menggantinya.


---------------------------------------
Pasangan ini mewakili anak muda Indonesia yang aspirasinya tidak hanya sekedar membangun keluarga tradisional yang stabil, yang didambakan generasi orang tua mereka dulu. Ada puluhan juta orang seperti mereka di Indonesia, yang telah memperoleh gelar dan sertifikat pendidikan namun siap kerja di tengah kelambanan ekonomi dan bersaing dengan banyak lulusan lainnya, yang jumlahnya melebihi lapangan pekerjaan bergaji layak yang tersedia. mereka agak sedikit galau, tapi jalan masih terbentang dan kesempatan terbuka luas.

----
Desember 2016. Setelah hampir 2 tahun saling berbalas e-mail, akhirnya datang kabar yang saya tunggu-tunggu: pendaftaran beasiswa. Sensei (supervisor) saya sekarang mengatakan agar segera mempersiapkan dokumen penting dan agar bersiap untuk tes wawancara.  (Calon) Istri saya pun begitu (waktu itu istri sedang "magang" di Jepang selama 1 bulan). Kami berdua saling bahu-membahu dalam menyiapkan syarat2 beasiswa. Alhamdulillah, kami lulus! Kami pun menikah. 

Saya merasa sangat beruntung bisa "terpilih" karena dengan kualitas yg pas-pasan begini, sya bisa melangkah sejauh ini. Saya harus mensyukuri dan berjuang untuk mmbuktikan hal itu! "Itu" itu adalah motivasi saya sejauh ini hehehe.

September 2017. Teringat ketika di bandara, kami berpamitan kepada orang tua dan memohon doa agar berhasil dalam studi. Kedua orang tua kami memang bukan siapa-siapa, mereka hanya pedagang kecil dan guru biasa, namun berkat doa-doa mereka-lah kami bisa seperti sekarang: mewujudkan mimpi kami bersekolah ke LN (yang bahkan 8 atau 10 tahun yang lalu tidak berani kami impikan!). Saat itu pula Ayah berkata bahwa beliau bangga saya mampu mencapai apa yang tidak pernah dicapainya. Saya terharu.




27 September 2017. Jepang hampir memasuki musim gugur sewaktu kami datang. Angin dingin menggigit sampai terasa ke tulang-tulang. 

"ようこそ、アランとドナ"

Yōkoso, Aran to  Dona!" (Selamat datang, Alan dan Dona!), begitu mungkin anginnya menyapa. Saya harus "berpisah sementara" dengan istri karena istri berkuliah di Tokyo sedangkan saya di Ibaraki. Jarak tempuh antar keduanya kira-kira ditempuh dalam 3 jam perjalanan dengan kereta.


つづく~

-----------------------------------------------

Tidak ada komentar: