Tampilkan postingan dengan label 1989. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1989. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 April 2024

今度は今度。今は今 [Next time is next time. Now is now]

Sejak kecil, kita belajar. Lalu kita bekerja. Kita terus mengembangkan diri. Namun, akhirnya, kita harus sakit, menua dan kemudian meninggal. Bukankah ini absurd?

Semua usaha kita lenyap, ketika kita mati. Semua perjuangan kita menjadi sia-sia, ketika kita dijemput ajal. Uang, kuasa dan kecerdasan, yang diperjuangkan selama bertahun-tahun, lenyap dalam sekejap mata. Seolah hidup ini pun menjadi percuma???

Kita berusaha berbuat baik. Namun, orang jahat dan korup justru semakin kaya dan berkuasa. Kita berusaha bekerja dengan jujur. Namun, rezeki tak kunjung datang. Kita perlu menikmati semua proses. Kita perlu menjadi orang yang bertekun di dalam usaha. Hasil bukan di tangan kita. Bahkan, seringkali, walaupun disertai usaha keras, hasil juga tak kunjung tiba. Lalu, apa tujuan saya hidup?

_________________________________________

Pemikiran seperti itulah, dahulu pernah terlintas di otak saya. Berkali-kali terlintas malah, dan saya cari jawabnya. Namun kembali --- sebagai muslim --- jawabannya ada dalam Al-Qur'an, surat Az Zariyat ayat 56:


وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ


Arab Latin: Wa mā khalaqtul-jinna wal-insa illā liya'budụn

Artinya: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku."


Lebih jauh dalam Tafsir Al-Azhar oleh Buya HAMKA dikatakan surat Az Zariyat ayat 56 menerangkan bahwa jika seorang telah mengakui beriman kepada Allah SWT, dia tidak akan ingin hidupnya di dunia kosong. Lebih lanjut Buya HAMKA menguraikan, ibadah itu harus diawali dengan iman yang mana percaya bahwa ada Allah SWT yang menjamin. Percaya akan adanya Allah SWT menjadi dasar dari hidup itu sendiri, karenanya iman yang telah tumbuh wajib dibuktikan dengan amal yang saleh.


-Hamba Allah yang dhoif dan hina, pengharap surga-

Malam takbiran Raya Idul Fitri 1445 H/2024 M, Jogja, Sleman, Maguwoharjo, Pasekan, RT 40. 




Kamis, 04 Januari 2024

Then and Now

Now and Then by the BEATLES

I know it's true

It's all because of you

And if I make it through
It's all because of you

And now and then
If we must start again
Well, we will know for sure
That I will love you

Now and then
I miss you
Oh, now and then
I want you to be there for me
Always to return to me

I know it's true
It's all because of you
And if you go away
I know you'll never stay

Now and then
I miss you
Oh, now and then
I want you to be there for me

I know it's true
It's all because of you
And if I make it through
It's all because of you

_______________________




Senin, 22 Agustus 2022

Dopamine attack good

 "Setelah punya gelar Doctor (PhD) terus pulang mau bikin apa?"


Bahwa gelar akademis seseorang tidak ada pengaruh pada kemampuan untuk bertahan hidup alias menciptakan kesejahteraan bagi dirinya dan keluarganya. Singkatnya: pergi jauh berkelana kuliah -> mengerjakan disertasi di bawah tekanan -> ditambah pula pandemi melanda -> pulang bawa ijazah, tidak tahu mau bikin apa -> lalu daftar sembarang kerja kanan-kiri, kalau beruntung dapat kerja, kalau tidak, kemudian menganggur (sigh!). Orang bilang, setidaknya dengan bergelar tinggi maka akan tinggi pula kesempatan hidup dengan layak.

Sewajarnya bahwa bergelar doktor harus juga dibarengi dengan kemampuan kewirausahaan, karena tentunya itu akan membantu para pemegang titel akademis ini untuk menciptakan kesejahteraan bagi dia dan keluarganya. Berjualan sate ayam pinggir jalan, membuka toko pakaian, on-line shop, ojek onlen, jasa sewa motor, buka warung pecel lele & pecel ayam, ternak puyuh, ngangon sapi, bertani porang, beli saham pabrik nikel, misalnya. 
ち く し ょ う


<from: google. com>

Intermezzo, faktanya: empat setengah tahun berjumpalitan belajar sampai kepala pening dan mata terasa juling, tiga tahun jungkir balik banting tulang mencari beasiswa yang ditanggung penuh, itupun belum dihitung sewaktu tunggang langgang mencari profesor-profesor yang sudi menerima mahasiswa. Namun setelahnya, setelah kembali ke Wakanda: bahkan menjadi tukang parkir pun tak ada yang menerima. Sementara di Jepang sana, saya bertanggung jawab dan punya wewenang penuh menggunakan instrumen-instrumen penelitian bernilai multijutaan yen dengan kebebasan akses masuk ke database penelitian. Sedangkan 'nun jauh di Wakanda', duduk bedebah-bedebahh yang ada orang tuanya sampai rela menggadaikan SK demi bisa meminjam uang untuk dipakai menyuap pejabat korup supaya anaknya lolos PNS. Saban hari si bedebah itu terlihat menyetiri mobil melintas di depan rumah, melengos melihat kawan yang 'dihimpit nasib'. Menyesakkan, dikalahkan oleh nepotisme orang berduit!!! Vaffanculo.


source: instagram. com



Pelajaran yang dapat dipetik adalah: menjalani dan menikmati proses hingga memperoleh gelar doktor tentunya adalah sebuah investasi yang baik yang tidak akan sia-sia. Anda akan memiliki pola berpikir tajam dan matang. Akan tetapi, jangan membatasi diri.

by: Sirajudin

Rabu, 09 Desember 2020

di Storia Naturale del evolution

Untuk sampai di titik ini, di ujung masa studi, saya harus bersusah payah mengerjakan riset; pontang panting dalam membagi waktu antara Tokyo - Mito untuk mengunjungi istri tercinta karena kami berkuliah di kampus berbeda; begadang hingga larut malam untuk mengobservasi spesimen di bawah mikroskop sampai-sampai badan terasa penat karena masuk angin. Namun, saya puas dan tidak gentar walau ujian disertasi menghadang di depan mata! Ini sama sekali bukan karena saya pandai, bukan, bukan, sama sekali bukan… melainkan karena saya telah jauh-jauh hari --- bahkan sudah sejak awal musim gugur --- menyiapkan diri untuk sidang ini. Saya bersusah payah agar, setidaknya, bisa lulus dengan nilai cukup. hehehe

Pernah saya tanyakan perihal mahasiswa terakhir bimbingan Profesor Kojima kepada salah seorang kolega beliau, seorang associate professor yang dulu juga mahasiswa bimbingan Kojima-sensei: Morooka-san. Dengan rasa percaya diri yang overvalued, saya tanyakan:

“Morooka-san, jika tidak berkeberatan, tolong beritahu saya bagaimana kesan Kojima-sensei tentang saya? Maksud saya, karena saya adalah mahasiswa terakhir bimbingan beliau sebelum beliau masuk masa pensiun, apakah Sensei tampak senang?”

Morooka-san menatap saya lama. Lama. Mungkin dia mencari kata-kata yang pas untuk menjawabnya, lalu dia melengos seperti gaya orang pasrah berkali-kali tlah kehilangan sandal di masjid sambil menghela nafas agak berat. Saat itulah saya mahfum bahwa Kojima- sensei tidak terlalu bangga pada saya.

Biarlah tak bangga, namun saya sudah bertekad agar Prof. Kojima ---yang sudah saya anggap sebagai ayah saya selama di Jepang--- pensiun dengan satu kenangan nan elok tentang saya. Satu kenangan yang manis untuk menutup tiga puluh lima tahun pengabdiannya sebagai dosen Ibaraki Univ. Ganbaru!




-----



Jumat, 22 Mei 2020

japan tateyoko

----------------------------------------------------------------------------

Sebagian besar orang berpikir bahwa Jepang adalah pusat futuristik yang menakjubkan yang menampilkan teknologi paling mutakhir. Hal ini mungkin terjadi beberapa waktu yang lalu, namun saat ini Jepang ---setidaknya menurut pengamatan saya setelah tinggal di Jepang--- terlihat agak tertinggal di bidang tekhnologi. Cobalah berjalan di kawasan modern Tokyo dan kita akan menemukan jawabannya. Semuanya terasa seperti tahun 90-an, pun di Mito tempat saya bermukim. Tidak dipungkiri Jepang pernah menjadi cikal bakal penemuan tekhnologi baru, tetapi setelah menikmati puncak teratas yang mereka miliki, sejak itulah mereka tertinggal (Bubble Era). Tekhnologi di sini terlihat kuno dan tidak mengesankan. Salah satu musababnya adalah selama tekhnologi sekelilingnya bekerja dengan sangat baik, mereka merasa tidak perlu menggantinya.


---------------------------------------
Pasangan ini mewakili anak muda Indonesia yang aspirasinya tidak hanya sekedar membangun keluarga tradisional yang stabil, yang didambakan generasi orang tua mereka dulu. Ada puluhan juta orang seperti mereka di Indonesia, yang telah memperoleh gelar dan sertifikat pendidikan namun siap kerja di tengah kelambanan ekonomi dan bersaing dengan banyak lulusan lainnya, yang jumlahnya melebihi lapangan pekerjaan bergaji layak yang tersedia. mereka agak sedikit galau, tapi jalan masih terbentang dan kesempatan terbuka luas.

----
Desember 2016. Setelah hampir 2 tahun saling berbalas e-mail, akhirnya datang kabar yang saya tunggu-tunggu: pendaftaran beasiswa. Sensei (supervisor) saya sekarang mengatakan agar segera mempersiapkan dokumen penting dan agar bersiap untuk tes wawancara.  (Calon) Istri saya pun begitu (waktu itu istri sedang "magang" di Jepang selama 1 bulan). Kami berdua saling bahu-membahu dalam menyiapkan syarat2 beasiswa. Alhamdulillah, kami lulus! Kami pun menikah. 

Saya merasa sangat beruntung bisa "terpilih" karena dengan kualitas yg pas-pasan begini, sya bisa melangkah sejauh ini. Saya harus mensyukuri dan berjuang untuk mmbuktikan hal itu! "Itu" itu adalah motivasi saya sejauh ini hehehe.

September 2017. Teringat ketika di bandara, kami berpamitan kepada orang tua dan memohon doa agar berhasil dalam studi. Kedua orang tua kami memang bukan siapa-siapa, mereka hanya pedagang kecil dan guru biasa, namun berkat doa-doa mereka-lah kami bisa seperti sekarang: mewujudkan mimpi kami bersekolah ke LN (yang bahkan 8 atau 10 tahun yang lalu tidak berani kami impikan!). Saat itu pula Ayah berkata bahwa beliau bangga saya mampu mencapai apa yang tidak pernah dicapainya. Saya terharu.




27 September 2017. Jepang hampir memasuki musim gugur sewaktu kami datang. Angin dingin menggigit sampai terasa ke tulang-tulang. 

"ようこそ、アランとドナ"

Yōkoso, Aran to  Dona!" (Selamat datang, Alan dan Dona!), begitu mungkin anginnya menyapa. Saya harus "berpisah sementara" dengan istri karena istri berkuliah di Tokyo sedangkan saya di Ibaraki. Jarak tempuh antar keduanya kira-kira ditempuh dalam 3 jam perjalanan dengan kereta.


つづく~

-----------------------------------------------

Minggu, 03 Juli 2016

Borborygmus





NEVER FORGET the 3 TYPES of people in your life
1. those who HELP you in difficult times
2. those who LEAVE you in difficult times
3. those who PUT you in difficult times




---
Alejamaoelaj berusaha agar tidak terjangkit penyakit jiwa miskin. Karena ketika kemiskinan tidak lagi jadi gejala, maka sangat wajar ketika krisis datang ada lima status merah yang akan disandang. Pengangguran akan bertambah, kriminalitas akan meningkat, perceraian akan membuncah, Rumah Sakit Jiwa akan kelebihan kuota, dan jumlah orang yang bunuh diri akibat frustasi akan merangkak naik.


Persembahkan yang terbaik pada semuanya. 
Belajarlah untuk baik sangka pada semuanya. 
Selebihnya, pasrahkanlah semuanya pada Allah. 
Tak usah terlalu bangga ketika dipuja, tak usah terlalu sedih jika disia-siakan. 
Sebagaimana bulan muncul pada malam hari, matahari muncul siang hari. 
Matahari terbit pagi hari di arah timur dan tenggelam sore hari di arah barat. 
Semua ada waktu dan tempat secara bergiliran.  
Ingat! 
Siapa bersungguh-sungguh akan sukses!
-------------------------------------------------------------------------------------------










Jumat, 05 Juni 2015

Ganymede and Dione




the BERKAT YAQIN (foto: dokumen pribadi)




Pamflet yang menyiarkan akan diadakannya turnamen game PlayStation Pro Evolution Soccer  2013 (PES 2013) membuat hari-hari saya menjadi bergairah. Total hadiah yang diimingkan adalah sebesar dua setengah juta rupiah, dengan insert sebesar tiga puluh lima ribu. Lumayan sekali untuk menambal uang makan selama, kira-kira, dua bulan jika menang. Sudah satu minggu persiapan dilakukan dengan latih-tanding bersama anak tetangga sebelah kosan yang masih duduk di bangku kelas 6 SD. Bermodal kepercayaan diri yang membuncah tinggi karena hasil uji coba yang memihak 75% kemenangan berada di tangan, ---haaalaaaah… --- paling tidak, satu kaki sudah bisa di semifinal-lah.

Hari Minggu adalah hari perhelatan turnamen. Orang yang namanya disamarkan ini mendapat jadwal tanding sekitar ba’da Ashar, pukul setengah empat! Beruntunglah turnamen PS sepakbola kali ini masih memakai format PES tahun 2013, karena saya kurang paham bermain PES keluaran terbaru, yaitu yang 2014 atau 2015. Format kompetisinya sendiri memakai sistem Knock Out (K.O), yang terdiri dari 4 pool, dan juara masing-masing pool akan maju memperebutkan juara 1, juara 2, juara harapan 1, dan juara harapan 2.

Saya masuk Pool D. Berkat keyakinan yang sangat tinggi, maka saya putuskan memberi nama BERKAT YAQIN sebagai nama peserta turnamen. Filosofinya sudah jelas karena saya yakin, maka saya insya Allah menang. 

Pertandingan dimulai setelah Ashar, saya memakai tim Italia JUVENTUS F.C sebagai jagoan. Lawan pertama saya, mahasiswa fakultas Pertanian semester 6. Dia memakai tim Manchester City. Permainan dimulai. Bola dioper dari kaki ke kaki, kadang bola disambut kepala pemain virtual di layar LCD. Tiktak sana sini. Passing-shooting... Skor 3-0! Saya kena bantai. Menyedihkan, rupanya selama ini saya telah menilai diri terlalu tinggi, overvalued. Namun, tidak mengapa. Kekalahan saya tidak lantas membuat surut langkah. Malah saya berterima kasih karena saya dapatkan hikmah yang begitu banyak agar saya lebih berpikir, lebih bersemangat, dapat mengendalikan emosi, belajar dari pengalaman, melatih kesabaran, dan agar selalu menghargai orang lain.

Akhirnya, saya pulang ke kosan. Makan sore (kalau ada yang namanya makan sore), shalat, dan membaca buku. Lalu dilanjutkan mengisi teka-teki silang. Tidak lupa, malamnya, saya minum Indomilk rasa coklat.

Jumat, 15 Agustus 2014

the expedition of :^D


(foto: dokumen pribadi)
Kerinci, on August 2014 (Cassiavera landscape like an Autumn forest)


Autumn, Forest, Japan HD wallpaper for Standard 4:3 5:4 Fullscreen UXGA XGA SVGA QSXGA SXGA ; Wide 16:10 5:3 Widescreen WHXGA WQXGA WUXGA WXGA WGA ; HD 16:9 High Definition WQHD QWXGA 1080p 900p 720p QHD nHD ; Other 3:2 DVGA HVGA HQVGA devices ( Apple PowerBook G4 iPhone 4 3G 3GS iPod Touch ) ; Mobile VGA WVGA iPhone iPad PSP Phone - VGA QVGA Smartphone ( PocketPC GPS iPod Zune BlackBerry HTC Samsung LG Nokia Eten Asus ) WVGA WQVGA Smartphone ( HTC Samsung Sony Ericsson LG Vertu MIO ) HVGA Smartphone ( Apple iPhone iPod BlackBerry HTC Samsung Nokia ) Sony PSP Zune HD Zen ; Tablet 2 ; 
(courtesy by google.com)
Autumn forest at four season countries
_________________________________________

Kerinci, July 30th 2014
_________________________________________


Berakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian.
Bersakit dahulu, bersenang kemudian



Kalau saya harus membuat suatu karangan yang mencerminkan pribahasa tersebut di atas, maka saya akan menulis pengalaman seorang sahabat, sebaris duduknya dengan saya ketika sekolah dulu. Orang yang menginspirasi saya.

Tidak dapat saya lupakan dulu, ---sejak kehadirannya--- selalu saja saya menyampir-nyampirkan buku pelajaran Matematika di dekat meja belajarnya. Maksudnya agar saya dapat dengan mudah melihat pengerjaan aljabar, persamaan linier/non-linier, dan ilmu-ilmu ukur lain yang dikerjakannya karena jelas sekali saya tidak paham dengan pelajaran berhitung. Masih pula saya ingat bagaimana teman saya itu menulis jawaban soal-soal aljabar secara rapi, tanpa coretan atau hapusan. Suatu pertanda bahwa sewaktu menjawab soal, pikirannya sudah jauh melihat ke mana arah jawaban harus dicari. Itu berarti daya nalarnya secara abstrak begitu tinggi.

Seperti kebanyakan kisah-kisah ironi, tidak disangka-sangka di saat kenaikan kelas berikutnya teman saya itu tidak hadir. Pun untuk beberapa hari kemudian. Berhari-hari ditunggui guru, tidak juga dia muncul. Tanpa salam perpisahan, teman saya itu pergi. Namun, beberapa bulan kemudian baru ada kabar ternyata dia dan keluarganya yang keturunan Tionghoa telah pindah. Sekolah tidak dilanjutkan lagi. Dia mesti cepat-cepat mendapat pekerjaan untuk mencari nafkah demi membantu menghidupi keluarga. Keterhentian karier teman saya itu bukan terjadi karena pencapaian ketidakmampuan oleh kecerdasan ---sebab saya tahu betul kapasitas intelektualnya--- atau karena diburu batas umur, melainkan karena dia tidak mampu secara ekonomi. Melalui akun media sosial, saya akhirnya berjumpa dengannya setelah tidak bersua selama beberapa tahun. Dia telah sukses ---tergantung apapun arti sukses itu (yang relatif)--- menjadi saudagar.

Ibarat dalam suatu pertandingan atletik, teman saya itu sebenarnya telah bertanding dalam pertandingan loncat tinggi dan mampu melewati semua letak mistar yang dihadapkan kepadanya. Akan tetapi sebelum letak mistar maksimum yang dapat dilompatinya itu dicobakan kepadanya, ia sudah berhenti bertanding. No chance but keep moving forward...

Dapatlah dibayangkan bagaimana dia melaksanakan pertandingan loncat tinggi itu. Setelah melewati mistar pendidikan dasar, ternyata ‘mistar’  tantangan itu diangkatnya sendiri ke tingkat yang lebih tinggi, dan dia ‘bertanding untuk mencapai rekor tanpa kehadiran dan tepuk tangan penonton’. Saya telah yakin, dia tidak akan berhenti pada ketinggian itu. Menurut hemat saya, dia masih jauh di atas tingkat ketidakcakapannya, sehingga mistar loncat tingginya masih dapat diangkat lebih tinggi lagi tanpa harus takut jatuh karena tersentuh tubuhnya sendiri sewaktu dia melompati. Dia telah dipakaikan ‘baju kehidupan’ yang ternyata sempit. Namun tingkat kecerdasannya pula yang pada akhirnya membuat dirinya berhasil memperbesar ukuran baju kehidupannya itu, tanpa meminta bantuan orang lain. Sederhana. Tuhan akan menolong orang yang mau menolong dirinya sendiri.

You have inspired me, dude!