Kita sama tuanya dengan umur Alam Semesta karena materi tidak dapat diciptakan atau dihancurkan. Pada level paling terdalam, kita adalah Semesta itu sendiri.
--------------------------------------------------------
"Hidup itu menunggu mati, dan bekerja untuk menunggu waktu sholat...”
Selintas postingan video singkat dari seorang mualaf yang telah almarhum bernama Ko Steven mampir di instagram pribadi. Setelah bermenung dan memikirkan sekian lama, saya memutuskan ---bahwa bagi saya--- perspektif ini saya setujui dan saya tambahi. Karena sejarah, karya-karya atau pencapaian besar selalu tercipta dari kesungguh-sungguhan (مَنْ جَدَّ وَجَدَ), keseriusan dan fokus yang tinggi yang seharusnya dijalani oleh manusia selama masa tunggu.
Hidup itu tidaklah sementara. Hidup di dunia yang sementara, dan kita akan hidup lagi di akhirat, kelak. Hidup kita di akhirat 'kan tergantung bagaimana di dunianya. Jadi kalau melakukan hal-hal besar di dunia, pasti akan berdampak ke akhiratnya. Perhatikan saja, bukankah sebagian besar orang dengan karya atau prestasi besar biasanya akan lebih banyak manfaatnya buat orang lain??? Dan biasanya jikalau manfaatnya banyak, rezekinya juga bisa jadi banyak. Akhirnya bisa sedekah lebih besar, bisa naik haji, dan bisa lebih banyak lagi membantu orang. Rasulullah
مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pun berpesan, sebaik-baik orang itu orang yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain. Saya berpikir seperti itu.
Allah اللّٰه SWT berfirman:
"Maka apabila kamu telah selesai dari sesuatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain...”
(QS. 94:7).
Jelas sekali perintah-Nya, KERJAKAN dengan SUNGGUH-SUNGGUH pekerjaan kita, bukan cuman sekedarnya saja. Ayat yang ini lebih “kena” lagi:
“Apabila TELAH kamu tunaikan SHALAT, maka BERTEBARANLAH kamu di muka bumi, dan CARILAH KARUNIA Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung...” (QS. 62:10).
Jikalau sudah sholat, ya menyebar dong kemana-mana, cari karunia Allah. Bentuknya bisa ilmu, bisa rejeki, bisa peluang, atau amal-amal baik lainnya. Sholat tanpa perlu dibilang penting pun memang sudah penting dan jadi KEWAJIBAN dari dahulunya. Bahkan kalau sudah sampai pada tingkatan tertentu malah jadi KEBUTUHAN. Lagipula kita telah diberikan raga oleh Allah, sang Pencipta, agar digunakan, diberdayakan, dipakai untuk beribadah kepada-Nya sebelum nanti kembali lagi kepada-Nya.
Demikian.
_____
Mito-shi, Ibaraki-ken, 28 June 2020, 19.14 JST