Tampilkan postingan dengan label You'll never walk alone. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label You'll never walk alone. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Juni 2024

先ず隗より始めよ - mazu kai yori hajime yo

Begin Japanology. Kisah perjalanan kami -saya dan istri- di Jepang bermula dari pertemuan di Universitas Andalas (UNAND), Padang, ketika kami sedang menempuh studi S-2. Interaksi kami kian intens saat satu lab, di Laboratorium Taksonomi Hewan Invertebrata, sub-bagian Entomologi.  Bahkan sebelum menikah, kami memiliki impian yang sama untuk melanjutkan pendidikan tinggi ke jenjang S-3. 

“Sejak dulu, kami bersepakat berusaha menaikkan skor bahasa Inggris, mencari supervisor yang cocok, dan apply ke berbagai universitas di luar negeri.“ 

Sampailah kami di Jepang. Di Jepang, kami berkuliah di universitas yang berbeda dari tahun 2017 sampai tahun 2022. Saya di Ibaraki University di Mito, prefektur Ibaraki, sementara istri di Tokyo Metropolitan University di Hachioji, prefektur Tokyo. Karena dipisah oleh jarak, kami bertemu terkadang dalam dua minggu sekali atau satu bulan sekali. Tapi semenjak wabah covid, kami berdiam di Mito. Selama di Jepang, kami menaruh fokus pada penelitian tentang biologi serangga: biodiversitas tawon dan semut invasif di kepulauan Pasifik. 

Bagi kami yang mendalami ilmu biologi serangga yang masih jarang digunakan di Indonesia, rasanya masih banyak pengetahuan yang belum saya dapatkan meski telah melewati jenjang pendidikan S-1 dan S-2. Pada jenjang doktoral inilah kami berkesempatan memperdalam topik yang kami geluti. Kalau di jenjang S-1 dan S-2 kami diwajibkan mengikuti kelas sebagai bagian kegiatan perkuliahan, di jenjang doktoral ini kami tidak diwajibkan untuk mengambil kelas, jadi kursus doktoral kami research based

Sebagai mahasiswa doktoral, kami dilatih untuk mengatur waktu sebaik mungkin. Walau tidak ada kuliah secara berkala, kami berusaha untuk memanfaatkan waktu yang ada untuk membaca literatur terkait riset setiap harinya. Tiap satu minggu sekali, laboratorium kami sama-sama mengadakan seminar (セミナー) untuk mahasiswa yang tergabung di lab. 

Selain itu, waktu saya dan istri juga digunakan untuk menulis paper. Menjadi mahasiswa doktoral sebenarnya secara singkat dapat digambarkan dalam dua kata: membaca dan menulis. Setelah semua data dan bacaan kita dapatkan, langkah berikutnya adalah menulis paper untuk dipublikasikan dalam jurnal ilmiah. Berapa banyak paper yang perlu dipublikasikan di jurnal ilmiah? Dalam beberapa kasus yang saya temui, semua tergantung syarat dari jurusan dan pembimbing. Saya sendiri diminta untuk memublikasikan minimal 1 paper di jurnal internasional dan 1 conference proceeding, plus disertasi yang akan diserahkan ke jurusan untuk proses sidang doktoral, sementara istri diminta supervisor-nya untuk menerbitkan minimal 2 paper + 1 conference proceeding (waktu itu istri saya mengikuti konferensi Animal Behaviour di Illinois, Chicago, Amerika Serikat pada Juli tahun 2019) + disertasi.

Sungguh, jika terkenang masa-masa studi doktoral bersama istri, saya merasa sangat bersyukur kehadirat Allah SWT, karena kami diberi kesempatan untuk belajar di negeri orang, melihat budaya mereka, tinggal bersama dengan mereka untuk waktu yang cukup lama, dan menjadi minoritas. Urasawa Naoki pernah menulis di manga-nya, 20th Century Boys: "Akan ada masa saat kamu harus melakukan sesuatu padahal enggan, tapi justru pada saat seperti itulah kamu harus benar-benar bersungguh-sungguh!". Hal ini merujuk pada situasi dan kondisi kami ketika menjalani studi doktoral di Jepang yang bagaikan menaiki roller coaster namun mengasyikkan. Seperti itu... .


つづく。




Sabtu, 25 Juni 2022

Kuramae West and Youth Ueno journey

Alhamdulillah, istri saya telah diwisuda (23 Maret 2022, tepat satu tahun dengan tanggal saya wisuda) di Building 1 room 107 Tokyo Metropolitan University, Minami Osawa campus, Hachioji city, Tokyo, Jepang. Perjuangannya empat setengah tahun!!! Kami menginjakkan kaki di bandara Haneda tanggal 27 September 2017 di waktu Jepang baru memasuki musim gugur. Suhu di luar ruangan bisa sampai 10° C saat itu. Kemudian segera setelahnya hari-hari dilalui berjibaku dengan aktifitas riset: pergi ke kampus jam 9 pagi - bekerja di lab sampai jam 5 sore - kadang harus lembur sampai jam 11 malam - pulang ke apato. Saat weekend, kami berdua biasanya saling mengunjungi karena saya dan istri berbeda universitas. Tidak terasa kami sekarang sudah lulus dengan menyandang gelar Ph.D. --yang bahkan duluuuu sekaliii kami tidak 'berani' memimpikannya! 😂

Namun sebelum benar-benar "angkat kaki" dari Jepang, kami (saya) harus tinggal di hostel karena saya harus isolasi mandiri sebelum pulang ke tanah air. Bukan main! Kami harus berpindah-pindah penginapan dengan membawa tiga koper Samsonite. Menjeret-jeretnya di belantara hutan beton Tokyo. Lelah sekali. Tapi tidak mengapa, sebab pengalaman ini akan terus kami ingat; pengalaman susah senang ini akan kami ceritakan ke anak-anak kami di masa depan. Aamiiin


kota Tokyo [Shinjuku] (source: google. com)


________________________________


Setelah bermacam kesulitan selama menempuh kuliah doktoral, apakah semua yang ada di dunia ini masih terlihat menakutkan?

Setelah direnung-renungkan, bukankah pendidikan yang telah saya tempuh ini bisa dikatakan tidak buruk?


Rabu, 14 Juli 2021

Open your eyes, tell me your own politic

Sebagai anak kampung yang lahir di Kerinci ---sekepal tanah Surga yang tercampak ke bumi--- dan menuntut ilmu di Padang, saya awalnya menikmati keseharian hidup di Mito, prefektur Ibaraki, Jepang selama menjadi research student (6 bulan (Oktober 2017-Maret 2018)). Saya tinggal di asrama mahasiswa internasional (国際交流会館- kokusai koryu kaikan) yang memang diperuntukkan bagi mahasiswa asing dan beruntungnya saya karena sebagai penerima beasiswa MEXT, maka tidak perlu repot pindah kaikan pada tahun kedua-ketiga perkuliahan. Selama magang itu, saya mencoba mengenali sistem kerja dan pembelajaran orang-orang Jepang ini sebagai bekal memulai perkuliahan yang sebenarnya yang dimulai April 2018.  Per enam bulan pertama itu saya diliputi rasa tidak percaya bisa tinggal di negara yang saya impikan. Tapi semua itu berubah setelah Negara Api menyerang saya dipukul kenyataan bahwa kemampuan akademik saya tidak mencerminkan seorang penerima beasiswa MEXT. Di situ seteres mulai muncul. Ketika udara makin dingin dan sinar matahari mulai redup imbas pergantian musim, stres itu makin menjadi. Pelaporan riset yang saya susun tiap bulan saat seminar mingguan terkerjakan, tapi hasilnya bisa dibilang sangaaat sedikit. Tiga huruf 'a' berjejer pada kata 'sangat' itu merupakan penegasan. Sampai-sampai sensei saya pernah bilang:

Tolong bekerja lebih keras lagi jika kamu benar-benar ingin lulus dari universitas ini, Aran.”

 


Foto: pohon berselimut salju di depan kos istri di Tokyo, Februari 2018 (dok. pribadi)


Beruntung ---saya selalu merasa beruntung dan mencari celah keberuntungan dari setiap kesukaran--- saya ditemani istri selama berkuliah, jadi tidak perlu sedih-sedih. Kebiasaan orang Jepang yang jarang berinteraksi dengan orang lain dan hidup dalam kesunyian tidak membantu sama sekali --kalau pun ada secuil-- karena saya perlu bertanya sana-sini pada senior mengenai riset saya. Terlebih lagi orang-orang Jepang ini sangat sedikit yang paham bahasa Inggris (hanya yang kuliah yang cukup cakap berbahasa Inggris, ya salah sendiri kenapa berbahasa Inggris di negeri Jepang!?), jadilah saya hanya berinteraksi dengan Sensei, melulu dengan sensei. Memang ada teman satu ruangan, ---tahun pertama ada: Konno (Master tahun 1), Tsukada dan Kitazawa (Undergraduate tahun 4), tahun kedua: Konno (M2), Hanawa dan Tojo (U4), tahun ketiga: tidak ada teman satu ruangan (mereka work from home) karena wabah melanda, kecuali saya yang diberi kebebasan mengakses lab, ruang spesimen, dan ruang belajar sebagai mahasiswa doktoral tahun terakhir yang dituntut segera publikasi dan mengikuti konferensi!--- tapi mereka tidak banyak membantu.


Pergi keluar dan melihat sisi lain Jepang adalah jalan keluar. Daripada bosan dengan rutinitas yang itu-itu saja. Orang-orang Jepang ini workaholic. Mereka benci hari libur. Saya membenci hari kerja, wkwkwk. Diberi pun jatah libur atau cuti kerja, mereka tetap akan masuk kerja. Halah!

 

Foto di taman Kairakuen bersama istri, Diyona.




Kesimpulan:

1. Tetaplah bersemangat. 

2. Jaga kesehatan baik-baik.

3. Banyaklah baca buku dan/atau baca situasi.

4. Pemerentah negara Wakandaa itu hanya sekumpulan orang2 yang mikir untuk perutnya sendiri & perut anak bininya. Kenapa takut sekali dengan nenek-nenek janda yang hanya mendompleng nama bapaknya? Inilah akibat terlalu sering berdebat dengan orang-orang ...tiiiiiit SENSOR.... sehingga punya banyak waktu untuk meng...tiiiit SENSOR... .

5. Cita-cita berubah: presiden ke-11 Power ranger merah asal kau bahagia.


Minggu, 30 Mei 2021

Brother at your side

Mungkin orang akan menjawab bahwa dengan kuliah di Jepang, kita akan mendapatkan ilmu yang lebih luas. Nyatanya saya tidak.


Ilmu tentang bidang saya, saya dapatkan sedikit. Kenapa? Karena saya Nihongo zenzen tabenai (translasi: Tidak bisa ‘termakan’ bahasa Jepun) alias saya tidak mahir berbahasa Jepang.


Namun terlepas dari kendala bahasa yang terbata-bata, di Jepang saya bisamendapatkan fasilitas yang luar biasa untuk ilmu. Misalkan saja, akses ke jurnal-penyedia paper ilmiah gratis,penggunaan alat laboratorium yang bebas tapi bertanggung-jawab, dan biaya-penelitian yang sepenuhnya ditanggung universitas. Tiga akses penting itulah yang kita belum bisa dapatkan secara cuma-cuma di Indonesia.


Kemudian, beasiswa di Jepang itu cukup besar. Bisa membantu orang tua kalau kuliah di Jepang. Pun untuk yang arubaito (bekerja paruh waktu), kadang gajinya lebih tinggi dari pekerja full time di Jepang, dan itu tanpa pajak. Tapi, biaya hidup di Jepang juga besar, maka itu berbanding lurus, sehingga kita harus banyak berhemat jika kita ingin menyisihkan banyak uang.

Dari sinilah, kita mempunyai banyak keuntungan belajar bagaimana bertahan hidup dengan serba keterbatasan. Terbatas uang, terbatas keluarga (untungnya saya sambil ditemani dan menemani istri selama di sini), dan terbatas bahasa.heheeh

Selain itu, selama berkelana di tanah Jepang, saya dan istri bisa mengunjungi tempat-tempat wisata, budaya, wisata kuliner halal, ke museum spesimen, dll. (Tujuannya) Untuk melihat negeri "ini". Untuk berbelanja semangat. Agar setidaknya diri saya sendiri tidak malas dan tidak mudah berdalih (karena kok bisa ya negeri kita yang SDA-nya buuuanyak bisa kalah dengan negeri 'ini', miskin SDA). Ya semua itu pakai biaya sendiri, eh...beasiswa. Bukan dari pemerentah Wakanda ehh...India...ehk. Tidak bisa pula dipungkiri jikalau saat mem-posting foto-foto di IG atau pesbuk maka netijen-netijen akan nyinyir berkata:”jalan-jalan mulu…”. Saya beritahu: postingan itu hanya segelintir part of happiness yang saya bagikan, sedangkan banyaaaaaaaak sekali part of sadness yang tidak saya bagikan. Lagian kagak ada manfaatnya posting yang sedih-sedih. Saya sebisa mungkin hanya mmbagikan post beraura positif, aura bahagia saja,.



--------------------------------------------------------

Pada akhirnya kita akan selalu mencari ketenangan. Menikmati waktu, me time semaunya. Berkumpul dengan orang-orang terdekat, keluarga. Tidak terikat oleh apa pun. Dan kapitalisme tidak akan membiarkan hal itu karena kapitalisme akan membuat kita kehilangan waktu yang banyak, bahkan kurang tidur! Ujung-ujungnya nanti akan bermuara pada uang! Jikalau matahari sebagai inti SDA, maka uang adalah inti SDM. Tapi kita perlu uang untuk hidup. Di sinilah ironinya.


Maka kita perlu menyadari dan kembali ke tujuan akhir: untuk bahagia dan bebas. Tentu ‘ini’ hanya bisa enteng diucapkan oleh orang yang sudah ‘merasa’ mendapatkan apa-apa yang dia inginkan dan dia cari. Tentu ‘ini’ akan bermuara pula pada kesyukuran.


_-----------------------------------------


Saya punya satu mantra, yaitu:


Mereka (kamu) boleh pintar, saya (kita) tidak boleh bodoh".


Mantra yang saya beri tanda kutip itu baiknya dipegang oleh siapa saja. Jangan pernah salahkan mereka yang pintar itu. Tapi kita juga harus ingat: kita jangan bodoh! Mantra ini saya wariskan dari sensei saya dulu. Waktu itu konteksnya beliau membicarakan bahwa wabah ‘ini’ harus dirunut baik-baik, dari mana asalnya, bagaimana dan mengapa bisa terjadi. (Berita) Jangan ditelan bulat-bulat. Tidak semua yang kamu dengar itu benar tapi semua yang benar harus didengar. Sensei juga bilang:"This pandemic did not broke a system. It exposed a broken system".


Meski sudah lebih setahun ‘menderita’, tetap saja generasi yang sekarang lebih beruntung dibanding generasi yang lalu: menderita berkepanjangan. Dulu ada perang dunia pertama (1914-18). Disusul pandemi flu Spanyol (1920). Kemudian depresi ekonomi dunia. Disusul perang dunia ke-2 (1939-45). Beruntunglah yang lahir setelah tahun 1965. Tidak pernah ada gejolak besar – kecuali gejolak di hati masing-masing.



-----------------------------------------------------------------


As retirement is a time for feeling luck and glad to be alive


I would like to express my heartfelt and my deepest sympathy for the retirement of Prof. Jun-ichi Kojima (Kojima sensei) of Graduate School of Science and Engineering, Ibaraki University. During my study under his supervision in Japan, Kojima sensei always supervised the whole work eagerly, advised critically and gave constructive comments on my research and thesis. He has a warm heart, constant encouragement and keen interest throughout this study. As for his retirement, I think Kojima sensei deserves the best retirement ever because of all dedication and hard work. I am so grateful to have met him and learned from him. Moreover, I regarded Kojima sensei as my father in Japan. Hopefully Kojima sensei’s retirement is perfectly grand with lots of good luck.


----------------------------

Alan Handru (32 y/o - Indonesia), Doctoral student, Major in Complex System Science, Graduate School of Science and Engineering, Ibaraki University (class of 2018).

----------------------------

Kamis, 08 April 2021

japan tateyoko part 2

Juni, 2017. Teringat saat menerima kabar melalui e-mail itu, bahwa saya lulus beasiswa itu ---yang saking senangnya saya mendapat kabarnya di sore hari bulan Ramadhan 1438 H, adik saya memanjat-manjat punggung saya, sampai kami terjengkang ke belakang sama-sama---, bersyukur kehadirat Allah SWT karena Dia tahu, tentu melalui doa sepanjang usai sholat, bahwa saya butuh pertolongan: wajah ini penuh dengan siratan “penderitaan”, hehehe. Seberes pengurusan visa student dan pengurusan dokumen penting lainnya, satu hal lagi yang harus dibereskan: menikah. 


11 September, 2017. Teringat, waktu penghulu membimbing saya untuk akad nikah, baru satu-dua kata penghulu bersabda langsung saya sambar. Cepat sekali, macam tukang dadu cangkir menyambar duit lima ribu. Saya mengucap akad sekali saja, cerdas, fasih, dan lancar. Salah seorang kerabat bertanya bagaimana bisa begitu hebat.


“Saya sudah hapal ucapan nikah pada Dona sejak kami tingkat akhir kuliah pasca sarjana”, jawab saya dengan tenang. Itu berarti dua tahun sebelum pernikahan dilangsungkan.


April, 2018. Pertama kali perkuliahan dimulai. Semua dimulai dari nol, dari yang tidak tahu apa-apa sampai sekarang juga belum tahu apa-apa. Mudah2an yang saya lakukan ini adalah juga dihitung sebagai cara saya “mencicil” untuk membahagiakan orang tua. Aamiiin.


Maret, 2021. Setelah perjuangan nan panjang berliku tajam, akhirnya… yattaALHAMDULILLAH…. Saya lulus kuliah tingkat doktoral. Syukur kehadirat Allah SWT. Berkat doa dan dukungan dari istri tercinta (semangaat sayaang… ❤☺), kedua orang tua, keluarga besar, dan lain – lain. Tidak lupa, saya sangat berterimakasih pada guru-guru saya yang telah mengajar, membimbing dan menunjukkan patok-patok jalan untuk sampai meraih ekspektasi; yang menunjukkan dari sudut-sudut mana saja saya harus mulai mendaki, sehingga dengan begitu saya bisa memetakan peluang, akan menjadi apakah saya: sebagai akademisi, peneliti, konsultan ataukah decision maker?





"He ends up a crossroad. Unsure of where to go next the rest of his life wide open to be explored in any direction he chooses. Let see."

-----------------------------------------------------------------------

Dia tak pernah takluk menghadapi kenyataan bahwa dirinya selalu diremehkan atas keadaan, dicurangi oleh lawan bahkan kawan. Dia itu bagai huruf nun (ن) mati diantara idgham bigunnah: ada tapi dianggap tidak ada. Walau berkali-kali dibohongi atau diperlakukan secara tidak adil oleh lingkungan tapi dia selalu beruntung, karena dia baik hati.” 

--- Buya Yahni, guru ngaji Mesjid Al-Akbar. 

-----------------------------------------------------------------------

I want that feeling. The feeling that comes over from a man when he gets what he most desired”. 
-Kumar, direktur pabrik baja (2004)-


“Semakin banyak orang yang mengakui kemampuanmu, semakin banyak pula orang yang memusuhimu atau yang ingin memanfaatkanmu. Kau harus siap mental! Camkan itu, bro”.
-Chan Maekawa, pengajar kung fu kuil Dairin (2010)-


“Sejak sampai di Negara ini, di kota metropolitan dunia ini, dia terus tercengang-cengang. Kalau untuk meluaskan pandangan, wawasan dan pengalaman seperti kata Ayah-nya, ini betul-betul di luar dugaan. Tapi tak enak juga kalau tercengang terus, mulai sekarang harus siap untuk tidak tercengang lagi”.
-Badrun-


“Saya menyadari kalau saya tidak cemerlang di sekolah. Namun saya memiliki tekad, semangat dan cita-cita tinggi. Saya ingin menjadi orang yang tangguh, pantang menyerah dan pekerja keras. Saya ingin menjadi orang yang dapat menerima pukulan paling keras, lalu bangkit dan terus bergerak maju”.
-kang cilok depan gerbang SD Pertiwi-

-----------------------------------------------------------------------

つづく

Minggu, 03 Juli 2016

Borborygmus





NEVER FORGET the 3 TYPES of people in your life
1. those who HELP you in difficult times
2. those who LEAVE you in difficult times
3. those who PUT you in difficult times




---
Alejamaoelaj berusaha agar tidak terjangkit penyakit jiwa miskin. Karena ketika kemiskinan tidak lagi jadi gejala, maka sangat wajar ketika krisis datang ada lima status merah yang akan disandang. Pengangguran akan bertambah, kriminalitas akan meningkat, perceraian akan membuncah, Rumah Sakit Jiwa akan kelebihan kuota, dan jumlah orang yang bunuh diri akibat frustasi akan merangkak naik.


Persembahkan yang terbaik pada semuanya. 
Belajarlah untuk baik sangka pada semuanya. 
Selebihnya, pasrahkanlah semuanya pada Allah. 
Tak usah terlalu bangga ketika dipuja, tak usah terlalu sedih jika disia-siakan. 
Sebagaimana bulan muncul pada malam hari, matahari muncul siang hari. 
Matahari terbit pagi hari di arah timur dan tenggelam sore hari di arah barat. 
Semua ada waktu dan tempat secara bergiliran.  
Ingat! 
Siapa bersungguh-sungguh akan sukses!
-------------------------------------------------------------------------------------------










Jumat, 05 Juni 2015

Ganymede and Dione




the BERKAT YAQIN (foto: dokumen pribadi)




Pamflet yang menyiarkan akan diadakannya turnamen game PlayStation Pro Evolution Soccer  2013 (PES 2013) membuat hari-hari saya menjadi bergairah. Total hadiah yang diimingkan adalah sebesar dua setengah juta rupiah, dengan insert sebesar tiga puluh lima ribu. Lumayan sekali untuk menambal uang makan selama, kira-kira, dua bulan jika menang. Sudah satu minggu persiapan dilakukan dengan latih-tanding bersama anak tetangga sebelah kosan yang masih duduk di bangku kelas 6 SD. Bermodal kepercayaan diri yang membuncah tinggi karena hasil uji coba yang memihak 75% kemenangan berada di tangan, ---haaalaaaah… --- paling tidak, satu kaki sudah bisa di semifinal-lah.

Hari Minggu adalah hari perhelatan turnamen. Orang yang namanya disamarkan ini mendapat jadwal tanding sekitar ba’da Ashar, pukul setengah empat! Beruntunglah turnamen PS sepakbola kali ini masih memakai format PES tahun 2013, karena saya kurang paham bermain PES keluaran terbaru, yaitu yang 2014 atau 2015. Format kompetisinya sendiri memakai sistem Knock Out (K.O), yang terdiri dari 4 pool, dan juara masing-masing pool akan maju memperebutkan juara 1, juara 2, juara harapan 1, dan juara harapan 2.

Saya masuk Pool D. Berkat keyakinan yang sangat tinggi, maka saya putuskan memberi nama BERKAT YAQIN sebagai nama peserta turnamen. Filosofinya sudah jelas karena saya yakin, maka saya insya Allah menang. 

Pertandingan dimulai setelah Ashar, saya memakai tim Italia JUVENTUS F.C sebagai jagoan. Lawan pertama saya, mahasiswa fakultas Pertanian semester 6. Dia memakai tim Manchester City. Permainan dimulai. Bola dioper dari kaki ke kaki, kadang bola disambut kepala pemain virtual di layar LCD. Tiktak sana sini. Passing-shooting... Skor 3-0! Saya kena bantai. Menyedihkan, rupanya selama ini saya telah menilai diri terlalu tinggi, overvalued. Namun, tidak mengapa. Kekalahan saya tidak lantas membuat surut langkah. Malah saya berterima kasih karena saya dapatkan hikmah yang begitu banyak agar saya lebih berpikir, lebih bersemangat, dapat mengendalikan emosi, belajar dari pengalaman, melatih kesabaran, dan agar selalu menghargai orang lain.

Akhirnya, saya pulang ke kosan. Makan sore (kalau ada yang namanya makan sore), shalat, dan membaca buku. Lalu dilanjutkan mengisi teka-teki silang. Tidak lupa, malamnya, saya minum Indomilk rasa coklat.

Kamis, 09 April 2015

You know what they've done to boys like us in jail cause nothing on earth can hold Houdini a prisoner.

--------------------------------------------------------------------------
Assalamualaikum, 


Sengaja saya tuliskan surat, ini dari masa depan! Saya adalah dirimu yang berusia lebih tua darimu dan berada beberapa tahun dari waktu sekarang. Saya baik-baik saja, tapi saya tidak ingin memberitahukanmu apa pekerjaan dan bagaimana kondisi kehidupan kita sekarang. Saya tidak ingin membuatmu malas-malasan dan berserah pada keadaan.

Melalui surat ini saya memberikan sedikit kesan dan pesan sebagai panduan sekaligus mencegahmu melakukan kebodohan. Kita memang kepala batu, bahkan nasihat orang tua hanya akan mampir sejenak di telinga. Namun, semoga rangkaian kalimat yang tertuang di surat saya ini bisa melunakkan kerasnya kepalamu dan semoga kamu percaya apa yang saya katakan. Semoga juga kamu bisa berjuang hingga akhir supaya tidak akan ada yang akan kamu sesali setelah dewasa. Camkan!

Alejamaoelaj, memang di usiamu yang sekarang kamu sudah mulai mengenal banyak pilihan, namun ketahuilah bahwa ada konsekuensi besar yang datang sepaket bersamanya. Paman dari Peter Parker, si Spider-man itu, pernah bilang:"With great power comes great responsibility". Usia muda yang baru kamu jalani sekarang memang akan mengantarkanmu kepada banyaknya pilihan hidup. Bahkan, kamu sudah memiliki hak untuk memutuskan mana yang akan kamu jalani kemudian.

Jangan sampai hal yang kamu anggap baik di masa sekarang ternyata akan berpengaruh buruk bagi masa depan. Sebaiknya kamu memikirkan ulang segala langkahmu, supaya tidak termakan ego dan nafsu sesaat. Iya, saya paham, haqqul yaqin saya, usiamu sekarang ini membuatmu dipenuhi rasa ingin tahu berkat gelegak darah muda. Namun, sekali lagi, pikirkanlah apa yang akan kamu lakukan, gunakan masa depan sebagai pijakan dan pertimbangan. Jangan biarkan ego dan rasa ingin tahu melahapmu, menggerogoti, dan menghancurkan dirimu secara perlahan.

Kamu memang masih muda, tapi pada saatnya nanti kamu akan menua. Jagalah kesehatanmu mulai dari sekarang, selagi masih bisa. Apalah merokok itu???? Saya tahu, dulu kamu itu hanya ingin sok-sokan dengan bergaya macam pria yang kamu lihat di papan iklan rokok ---- saya beritahu, pria di papan iklan itu sebenarnya menyaru sebagai lelaki gagah, namun sudah impoten karena kegemarannya menghisap-isap asap.

 

Mungkin saat ini kamu masih muda dan dipenuhi dengan tenaga. Hal ini jangan membuatmu lengah. Esok saat waktunya tiba, kamu akan menua. Kesehatan yang kamu miliki sekarang tidak patut untuk disia-siakan.

Habiskanlah waktumu untuk menjelajah dunia dan berkarya. Ingat kamu hanya menjalani masa muda ini satu kali saja. Satu kali saja!

 

Pandai-pandailah memilih kawan karena mereka berpotensi membuatmu salah jalan, namun ada juga dari mereka yang justru dapat menuntunmu ke rute yang benar.

 

 

Saya paham, haqqul yaqin saya, usiamu yang sekarang sedang gemar-gemarnya merasa paling benar dan beradu pendapat dengan orangtua, tapi bahagiakanlah mereka selagi kamu masih bisa. Usia manusia ada pada Allah SWT dan tidak ada satupun manusia yang mengetahuinya. Ya, habiskan waktumu untuk membahagiakan orangtuamu selagi masih ada kesempatan dan jangan pernah menundanya. Tidak usah menunggu usiamu menua dan kamu lebih mapan dalam segi keuangan. Kamu bisa membahagiakan mereka mulai dari sekarang, selama mereka masih bisa menghela nafas. Bahagiakan mereka dengan limpahan waktu dan tenaga yang kamu punyai.

 

 

Camkan benar kata-kata saya ini, bro!

 

at Hipweee City, 23.04 p.m

--- berbaring malas di kasur empuk ---

Alejamaoelaj

dirimu yang tersayang, xxx

---------------------------------------------------------

Jumat, 14 November 2014

We sold what you thought we did not


"As a kid, I was top of my class. Not because I liked studying, but because I realized that an education was my best shot at getting out" --- Sles GN'R (1962- ...)
 

Surat dari Alejamaoelaj ---rupanya dia tidak ingin bertemu muka dengan aku, awas!---  tertanggal hari kesebelas bulan ini telah aku terima. Memasuki minggu kedua November, hawa terasa dingin dan banyak hujan. Basah. Burung manyar telah selesai membuat sarang. Buah Manggis mulai masak. Tidak biasanya memang, karena aku dan Alejamaoelaj seringkali saling berpacu memanjat batang manggis pada saat-saat seperti sekarang. Aku rindu padanya.
 



_______________________________________                    
11 November , 05.04 A.M GMT + 7 (Bangkok, Jakarta, Hanoi)

Assalamualaikum, bang Bojes.

Saya berteman dengan abang, telah mengaku bersaudara dengan abang karena saya tahu abang adalah teman yang akan mengajak saya menuju jalan kebaikan. Saya berkumpul, bergaul, dan bertanya hal-hal yang belum saya tahu pada abang. Melalui surat elektronik ini saya layangkan kabar bahwa adikmu ini baik-baik saja di rantau. Sengaja saya tak beritahu abang perihal alamat rumah saya sekarang karena saya khawatir abang akan mampir sesekali.

Di rantau ini, bang, sering sekali saya menyimak berita-berita dari kampung halaman. Saya juga tak lupa memantau karier abang yang lambat menanjak. Bang, di rantau sini, saya temukan orang yang rasanya pernah saya temui dulu, di Lauful Mahfudz. Seorang wanita yang mau menerima saya sebagai lelaki udik yang saya sendiri pun tidak bisa membasuh-basuhnya. Tekun sekali saya memperhatikannya. Saya
I’m in love, bang…I’m in love.


Saya beritahu, bang! Sejak kecil saya bercita-cita tinggi ingin membahagiakan keluarga. Saya menyambung kuliah. Saya cari beasiswa sampai setengah mati. Belajar sampai jungkir balik, dan akhirnya saya mendapat beasiswa dari pemerintah provinsi untuk melanjutkan sekolah ke jenjang strata 2. Saya sadar apa yang telah saya alami selama ini bukanlah saya sebagai diri saya. Beasiswa itu menawarkan semacam vantage point, sebuah kesempatan yang mungkin didapat oleh orang yang selalu mengembangkan dirinya sendiri. Alhamdulillah, ini berkat doa-doa nan panjang dari orangtua saya. Ibu dan Bapak adalah dua insan yang paling saya sayangi di muka bumi.

[Screenshoot SMS]

 
         Pesan pendek elektronik/SMS di saat Ayah mengirim uang


 

Bagaimana kabar, abang? ---(seharusnya inilah yang pertama dahulu harus kamu sampaikan, Lay!!!)--- Semoga abang Bojes baik-baik saja dan sehat wal ‘afiat. Aamiin. Bang, sekian dulu saya menulis surat ini. Saya mesti cepat-cepat kembali ke pasar, sekarang tampaknya giliran saya yang menjaga kios ikan. Wassalam.

_____________________________________



Bagi si Dungu, perjalanan panjang menuju ke atas dimulai dari penyadaran kekurangan dirinya. Sudahlah keluar banyak biaya kuliah, jatuh tempo lulus terlambat, prestasi kuliah tidak ada, pun setelah lulus bekerja membantu-bantu Bapak. Tapi biarpun begitu, semangat untuk merubah diri tidak pernah padam. 

Jumat, 15 Agustus 2014

the expedition of :^D


(foto: dokumen pribadi)
Kerinci, on August 2014 (Cassiavera landscape like an Autumn forest)


Autumn, Forest, Japan HD wallpaper for Standard 4:3 5:4 Fullscreen UXGA XGA SVGA QSXGA SXGA ; Wide 16:10 5:3 Widescreen WHXGA WQXGA WUXGA WXGA WGA ; HD 16:9 High Definition WQHD QWXGA 1080p 900p 720p QHD nHD ; Other 3:2 DVGA HVGA HQVGA devices ( Apple PowerBook G4 iPhone 4 3G 3GS iPod Touch ) ; Mobile VGA WVGA iPhone iPad PSP Phone - VGA QVGA Smartphone ( PocketPC GPS iPod Zune BlackBerry HTC Samsung LG Nokia Eten Asus ) WVGA WQVGA Smartphone ( HTC Samsung Sony Ericsson LG Vertu MIO ) HVGA Smartphone ( Apple iPhone iPod BlackBerry HTC Samsung Nokia ) Sony PSP Zune HD Zen ; Tablet 2 ; 
(courtesy by google.com)
Autumn forest at four season countries
_________________________________________

Kerinci, July 30th 2014
_________________________________________


Berakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian.
Bersakit dahulu, bersenang kemudian



Kalau saya harus membuat suatu karangan yang mencerminkan pribahasa tersebut di atas, maka saya akan menulis pengalaman seorang sahabat, sebaris duduknya dengan saya ketika sekolah dulu. Orang yang menginspirasi saya.

Tidak dapat saya lupakan dulu, ---sejak kehadirannya--- selalu saja saya menyampir-nyampirkan buku pelajaran Matematika di dekat meja belajarnya. Maksudnya agar saya dapat dengan mudah melihat pengerjaan aljabar, persamaan linier/non-linier, dan ilmu-ilmu ukur lain yang dikerjakannya karena jelas sekali saya tidak paham dengan pelajaran berhitung. Masih pula saya ingat bagaimana teman saya itu menulis jawaban soal-soal aljabar secara rapi, tanpa coretan atau hapusan. Suatu pertanda bahwa sewaktu menjawab soal, pikirannya sudah jauh melihat ke mana arah jawaban harus dicari. Itu berarti daya nalarnya secara abstrak begitu tinggi.

Seperti kebanyakan kisah-kisah ironi, tidak disangka-sangka di saat kenaikan kelas berikutnya teman saya itu tidak hadir. Pun untuk beberapa hari kemudian. Berhari-hari ditunggui guru, tidak juga dia muncul. Tanpa salam perpisahan, teman saya itu pergi. Namun, beberapa bulan kemudian baru ada kabar ternyata dia dan keluarganya yang keturunan Tionghoa telah pindah. Sekolah tidak dilanjutkan lagi. Dia mesti cepat-cepat mendapat pekerjaan untuk mencari nafkah demi membantu menghidupi keluarga. Keterhentian karier teman saya itu bukan terjadi karena pencapaian ketidakmampuan oleh kecerdasan ---sebab saya tahu betul kapasitas intelektualnya--- atau karena diburu batas umur, melainkan karena dia tidak mampu secara ekonomi. Melalui akun media sosial, saya akhirnya berjumpa dengannya setelah tidak bersua selama beberapa tahun. Dia telah sukses ---tergantung apapun arti sukses itu (yang relatif)--- menjadi saudagar.

Ibarat dalam suatu pertandingan atletik, teman saya itu sebenarnya telah bertanding dalam pertandingan loncat tinggi dan mampu melewati semua letak mistar yang dihadapkan kepadanya. Akan tetapi sebelum letak mistar maksimum yang dapat dilompatinya itu dicobakan kepadanya, ia sudah berhenti bertanding. No chance but keep moving forward...

Dapatlah dibayangkan bagaimana dia melaksanakan pertandingan loncat tinggi itu. Setelah melewati mistar pendidikan dasar, ternyata ‘mistar’  tantangan itu diangkatnya sendiri ke tingkat yang lebih tinggi, dan dia ‘bertanding untuk mencapai rekor tanpa kehadiran dan tepuk tangan penonton’. Saya telah yakin, dia tidak akan berhenti pada ketinggian itu. Menurut hemat saya, dia masih jauh di atas tingkat ketidakcakapannya, sehingga mistar loncat tingginya masih dapat diangkat lebih tinggi lagi tanpa harus takut jatuh karena tersentuh tubuhnya sendiri sewaktu dia melompati. Dia telah dipakaikan ‘baju kehidupan’ yang ternyata sempit. Namun tingkat kecerdasannya pula yang pada akhirnya membuat dirinya berhasil memperbesar ukuran baju kehidupannya itu, tanpa meminta bantuan orang lain. Sederhana. Tuhan akan menolong orang yang mau menolong dirinya sendiri.

You have inspired me, dude!