Tampilkan postingan dengan label i'm really want to change. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label i'm really want to change. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 April 2024

今度は今度。今は今 [Next time is next time. Now is now]

Sejak kecil, kita belajar. Lalu kita bekerja. Kita terus mengembangkan diri. Namun, akhirnya, kita harus sakit, menua dan kemudian meninggal. Bukankah ini absurd?

Semua usaha kita lenyap, ketika kita mati. Semua perjuangan kita menjadi sia-sia, ketika kita dijemput ajal. Uang, kuasa dan kecerdasan, yang diperjuangkan selama bertahun-tahun, lenyap dalam sekejap mata. Seolah hidup ini pun menjadi percuma???

Kita berusaha berbuat baik. Namun, orang jahat dan korup justru semakin kaya dan berkuasa. Kita berusaha bekerja dengan jujur. Namun, rezeki tak kunjung datang. Kita perlu menikmati semua proses. Kita perlu menjadi orang yang bertekun di dalam usaha. Hasil bukan di tangan kita. Bahkan, seringkali, walaupun disertai usaha keras, hasil juga tak kunjung tiba. Lalu, apa tujuan saya hidup?

_________________________________________

Pemikiran seperti itulah, dahulu pernah terlintas di otak saya. Berkali-kali terlintas malah, dan saya cari jawabnya. Namun kembali --- sebagai muslim --- jawabannya ada dalam Al-Qur'an, surat Az Zariyat ayat 56:


وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ


Arab Latin: Wa mā khalaqtul-jinna wal-insa illā liya'budụn

Artinya: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku."


Lebih jauh dalam Tafsir Al-Azhar oleh Buya HAMKA dikatakan surat Az Zariyat ayat 56 menerangkan bahwa jika seorang telah mengakui beriman kepada Allah SWT, dia tidak akan ingin hidupnya di dunia kosong. Lebih lanjut Buya HAMKA menguraikan, ibadah itu harus diawali dengan iman yang mana percaya bahwa ada Allah SWT yang menjamin. Percaya akan adanya Allah SWT menjadi dasar dari hidup itu sendiri, karenanya iman yang telah tumbuh wajib dibuktikan dengan amal yang saleh.


-Hamba Allah yang dhoif dan hina, pengharap surga-

Malam takbiran Raya Idul Fitri 1445 H/2024 M, Jogja, Sleman, Maguwoharjo, Pasekan, RT 40. 




Kamis, 08 April 2021

japan tateyoko part 2

Juni, 2017. Teringat saat menerima kabar melalui e-mail itu, bahwa saya lulus beasiswa itu ---yang saking senangnya saya mendapat kabarnya di sore hari bulan Ramadhan 1438 H, adik saya memanjat-manjat punggung saya, sampai kami terjengkang ke belakang sama-sama---, bersyukur kehadirat Allah SWT karena Dia tahu, tentu melalui doa sepanjang usai sholat, bahwa saya butuh pertolongan: wajah ini penuh dengan siratan “penderitaan”, hehehe. Seberes pengurusan visa student dan pengurusan dokumen penting lainnya, satu hal lagi yang harus dibereskan: menikah. 


11 September, 2017. Teringat, waktu penghulu membimbing saya untuk akad nikah, baru satu-dua kata penghulu bersabda langsung saya sambar. Cepat sekali, macam tukang dadu cangkir menyambar duit lima ribu. Saya mengucap akad sekali saja, cerdas, fasih, dan lancar. Salah seorang kerabat bertanya bagaimana bisa begitu hebat.


“Saya sudah hapal ucapan nikah pada Dona sejak kami tingkat akhir kuliah pasca sarjana”, jawab saya dengan tenang. Itu berarti dua tahun sebelum pernikahan dilangsungkan.


April, 2018. Pertama kali perkuliahan dimulai. Semua dimulai dari nol, dari yang tidak tahu apa-apa sampai sekarang juga belum tahu apa-apa. Mudah2an yang saya lakukan ini adalah juga dihitung sebagai cara saya “mencicil” untuk membahagiakan orang tua. Aamiiin.


Maret, 2021. Setelah perjuangan nan panjang berliku tajam, akhirnya… yattaALHAMDULILLAH…. Saya lulus kuliah tingkat doktoral. Syukur kehadirat Allah SWT. Berkat doa dan dukungan dari istri tercinta (semangaat sayaang… ❤☺), kedua orang tua, keluarga besar, dan lain – lain. Tidak lupa, saya sangat berterimakasih pada guru-guru saya yang telah mengajar, membimbing dan menunjukkan patok-patok jalan untuk sampai meraih ekspektasi; yang menunjukkan dari sudut-sudut mana saja saya harus mulai mendaki, sehingga dengan begitu saya bisa memetakan peluang, akan menjadi apakah saya: sebagai akademisi, peneliti, konsultan ataukah decision maker?





"He ends up a crossroad. Unsure of where to go next the rest of his life wide open to be explored in any direction he chooses. Let see."

-----------------------------------------------------------------------

Dia tak pernah takluk menghadapi kenyataan bahwa dirinya selalu diremehkan atas keadaan, dicurangi oleh lawan bahkan kawan. Dia itu bagai huruf nun (ن) mati diantara idgham bigunnah: ada tapi dianggap tidak ada. Walau berkali-kali dibohongi atau diperlakukan secara tidak adil oleh lingkungan tapi dia selalu beruntung, karena dia baik hati.” 

--- Buya Yahni, guru ngaji Mesjid Al-Akbar. 

-----------------------------------------------------------------------

I want that feeling. The feeling that comes over from a man when he gets what he most desired”. 
-Kumar, direktur pabrik baja (2004)-


“Semakin banyak orang yang mengakui kemampuanmu, semakin banyak pula orang yang memusuhimu atau yang ingin memanfaatkanmu. Kau harus siap mental! Camkan itu, bro”.
-Chan Maekawa, pengajar kung fu kuil Dairin (2010)-


“Sejak sampai di Negara ini, di kota metropolitan dunia ini, dia terus tercengang-cengang. Kalau untuk meluaskan pandangan, wawasan dan pengalaman seperti kata Ayah-nya, ini betul-betul di luar dugaan. Tapi tak enak juga kalau tercengang terus, mulai sekarang harus siap untuk tidak tercengang lagi”.
-Badrun-


“Saya menyadari kalau saya tidak cemerlang di sekolah. Namun saya memiliki tekad, semangat dan cita-cita tinggi. Saya ingin menjadi orang yang tangguh, pantang menyerah dan pekerja keras. Saya ingin menjadi orang yang dapat menerima pukulan paling keras, lalu bangkit dan terus bergerak maju”.
-kang cilok depan gerbang SD Pertiwi-

-----------------------------------------------------------------------

つづく

Rabu, 09 Desember 2020

di Storia Naturale del evolution

Untuk sampai di titik ini, di ujung masa studi, saya harus bersusah payah mengerjakan riset; pontang panting dalam membagi waktu antara Tokyo - Mito untuk mengunjungi istri tercinta karena kami berkuliah di kampus berbeda; begadang hingga larut malam untuk mengobservasi spesimen di bawah mikroskop sampai-sampai badan terasa penat karena masuk angin. Namun, saya puas dan tidak gentar walau ujian disertasi menghadang di depan mata! Ini sama sekali bukan karena saya pandai, bukan, bukan, sama sekali bukan… melainkan karena saya telah jauh-jauh hari --- bahkan sudah sejak awal musim gugur --- menyiapkan diri untuk sidang ini. Saya bersusah payah agar, setidaknya, bisa lulus dengan nilai cukup. hehehe

Pernah saya tanyakan perihal mahasiswa terakhir bimbingan Profesor Kojima kepada salah seorang kolega beliau, seorang associate professor yang dulu juga mahasiswa bimbingan Kojima-sensei: Morooka-san. Dengan rasa percaya diri yang overvalued, saya tanyakan:

“Morooka-san, jika tidak berkeberatan, tolong beritahu saya bagaimana kesan Kojima-sensei tentang saya? Maksud saya, karena saya adalah mahasiswa terakhir bimbingan beliau sebelum beliau masuk masa pensiun, apakah Sensei tampak senang?”

Morooka-san menatap saya lama. Lama. Mungkin dia mencari kata-kata yang pas untuk menjawabnya, lalu dia melengos seperti gaya orang pasrah berkali-kali tlah kehilangan sandal di masjid sambil menghela nafas agak berat. Saat itulah saya mahfum bahwa Kojima- sensei tidak terlalu bangga pada saya.

Biarlah tak bangga, namun saya sudah bertekad agar Prof. Kojima ---yang sudah saya anggap sebagai ayah saya selama di Jepang--- pensiun dengan satu kenangan nan elok tentang saya. Satu kenangan yang manis untuk menutup tiga puluh lima tahun pengabdiannya sebagai dosen Ibaraki Univ. Ganbaru!




-----