Tampilkan postingan dengan label Back to college. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Back to college. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Juni 2022

Kuramae West and Youth Ueno journey

Alhamdulillah, istri saya telah diwisuda (23 Maret 2022, tepat satu tahun dengan tanggal saya wisuda) di Building 1 room 107 Tokyo Metropolitan University, Minami Osawa campus, Hachioji city, Tokyo, Jepang. Perjuangannya empat setengah tahun!!! Kami menginjakkan kaki di bandara Haneda tanggal 27 September 2017 di waktu Jepang baru memasuki musim gugur. Suhu di luar ruangan bisa sampai 10° C saat itu. Kemudian segera setelahnya hari-hari dilalui berjibaku dengan aktifitas riset: pergi ke kampus jam 9 pagi - bekerja di lab sampai jam 5 sore - kadang harus lembur sampai jam 11 malam - pulang ke apato. Saat weekend, kami berdua biasanya saling mengunjungi karena saya dan istri berbeda universitas. Tidak terasa kami sekarang sudah lulus dengan menyandang gelar Ph.D. --yang bahkan duluuuu sekaliii kami tidak 'berani' memimpikannya! 😂

Namun sebelum benar-benar "angkat kaki" dari Jepang, kami (saya) harus tinggal di hostel karena saya harus isolasi mandiri sebelum pulang ke tanah air. Bukan main! Kami harus berpindah-pindah penginapan dengan membawa tiga koper Samsonite. Menjeret-jeretnya di belantara hutan beton Tokyo. Lelah sekali. Tapi tidak mengapa, sebab pengalaman ini akan terus kami ingat; pengalaman susah senang ini akan kami ceritakan ke anak-anak kami di masa depan. Aamiiin


kota Tokyo [Shinjuku] (source: google. com)


________________________________


Setelah bermacam kesulitan selama menempuh kuliah doktoral, apakah semua yang ada di dunia ini masih terlihat menakutkan?

Setelah direnung-renungkan, bukankah pendidikan yang telah saya tempuh ini bisa dikatakan tidak buruk?


Kamis, 08 April 2021

japan tateyoko part 2

Juni, 2017. Teringat saat menerima kabar melalui e-mail itu, bahwa saya lulus beasiswa itu ---yang saking senangnya saya mendapat kabarnya di sore hari bulan Ramadhan 1438 H, adik saya memanjat-manjat punggung saya, sampai kami terjengkang ke belakang sama-sama---, bersyukur kehadirat Allah SWT karena Dia tahu, tentu melalui doa sepanjang usai sholat, bahwa saya butuh pertolongan: wajah ini penuh dengan siratan “penderitaan”, hehehe. Seberes pengurusan visa student dan pengurusan dokumen penting lainnya, satu hal lagi yang harus dibereskan: menikah. 


11 September, 2017. Teringat, waktu penghulu membimbing saya untuk akad nikah, baru satu-dua kata penghulu bersabda langsung saya sambar. Cepat sekali, macam tukang dadu cangkir menyambar duit lima ribu. Saya mengucap akad sekali saja, cerdas, fasih, dan lancar. Salah seorang kerabat bertanya bagaimana bisa begitu hebat.


“Saya sudah hapal ucapan nikah pada Dona sejak kami tingkat akhir kuliah pasca sarjana”, jawab saya dengan tenang. Itu berarti dua tahun sebelum pernikahan dilangsungkan.


April, 2018. Pertama kali perkuliahan dimulai. Semua dimulai dari nol, dari yang tidak tahu apa-apa sampai sekarang juga belum tahu apa-apa. Mudah2an yang saya lakukan ini adalah juga dihitung sebagai cara saya “mencicil” untuk membahagiakan orang tua. Aamiiin.


Maret, 2021. Setelah perjuangan nan panjang berliku tajam, akhirnya… yattaALHAMDULILLAH…. Saya lulus kuliah tingkat doktoral. Syukur kehadirat Allah SWT. Berkat doa dan dukungan dari istri tercinta (semangaat sayaang… ❤☺), kedua orang tua, keluarga besar, dan lain – lain. Tidak lupa, saya sangat berterimakasih pada guru-guru saya yang telah mengajar, membimbing dan menunjukkan patok-patok jalan untuk sampai meraih ekspektasi; yang menunjukkan dari sudut-sudut mana saja saya harus mulai mendaki, sehingga dengan begitu saya bisa memetakan peluang, akan menjadi apakah saya: sebagai akademisi, peneliti, konsultan ataukah decision maker?





"He ends up a crossroad. Unsure of where to go next the rest of his life wide open to be explored in any direction he chooses. Let see."

-----------------------------------------------------------------------

Dia tak pernah takluk menghadapi kenyataan bahwa dirinya selalu diremehkan atas keadaan, dicurangi oleh lawan bahkan kawan. Dia itu bagai huruf nun (ن) mati diantara idgham bigunnah: ada tapi dianggap tidak ada. Walau berkali-kali dibohongi atau diperlakukan secara tidak adil oleh lingkungan tapi dia selalu beruntung, karena dia baik hati.” 

--- Buya Yahni, guru ngaji Mesjid Al-Akbar. 

-----------------------------------------------------------------------

I want that feeling. The feeling that comes over from a man when he gets what he most desired”. 
-Kumar, direktur pabrik baja (2004)-


“Semakin banyak orang yang mengakui kemampuanmu, semakin banyak pula orang yang memusuhimu atau yang ingin memanfaatkanmu. Kau harus siap mental! Camkan itu, bro”.
-Chan Maekawa, pengajar kung fu kuil Dairin (2010)-


“Sejak sampai di Negara ini, di kota metropolitan dunia ini, dia terus tercengang-cengang. Kalau untuk meluaskan pandangan, wawasan dan pengalaman seperti kata Ayah-nya, ini betul-betul di luar dugaan. Tapi tak enak juga kalau tercengang terus, mulai sekarang harus siap untuk tidak tercengang lagi”.
-Badrun-


“Saya menyadari kalau saya tidak cemerlang di sekolah. Namun saya memiliki tekad, semangat dan cita-cita tinggi. Saya ingin menjadi orang yang tangguh, pantang menyerah dan pekerja keras. Saya ingin menjadi orang yang dapat menerima pukulan paling keras, lalu bangkit dan terus bergerak maju”.
-kang cilok depan gerbang SD Pertiwi-

-----------------------------------------------------------------------

つづく

Rabu, 09 Desember 2020

di Storia Naturale del evolution

Untuk sampai di titik ini, di ujung masa studi, saya harus bersusah payah mengerjakan riset; pontang panting dalam membagi waktu antara Tokyo - Mito untuk mengunjungi istri tercinta karena kami berkuliah di kampus berbeda; begadang hingga larut malam untuk mengobservasi spesimen di bawah mikroskop sampai-sampai badan terasa penat karena masuk angin. Namun, saya puas dan tidak gentar walau ujian disertasi menghadang di depan mata! Ini sama sekali bukan karena saya pandai, bukan, bukan, sama sekali bukan… melainkan karena saya telah jauh-jauh hari --- bahkan sudah sejak awal musim gugur --- menyiapkan diri untuk sidang ini. Saya bersusah payah agar, setidaknya, bisa lulus dengan nilai cukup. hehehe

Pernah saya tanyakan perihal mahasiswa terakhir bimbingan Profesor Kojima kepada salah seorang kolega beliau, seorang associate professor yang dulu juga mahasiswa bimbingan Kojima-sensei: Morooka-san. Dengan rasa percaya diri yang overvalued, saya tanyakan:

“Morooka-san, jika tidak berkeberatan, tolong beritahu saya bagaimana kesan Kojima-sensei tentang saya? Maksud saya, karena saya adalah mahasiswa terakhir bimbingan beliau sebelum beliau masuk masa pensiun, apakah Sensei tampak senang?”

Morooka-san menatap saya lama. Lama. Mungkin dia mencari kata-kata yang pas untuk menjawabnya, lalu dia melengos seperti gaya orang pasrah berkali-kali tlah kehilangan sandal di masjid sambil menghela nafas agak berat. Saat itulah saya mahfum bahwa Kojima- sensei tidak terlalu bangga pada saya.

Biarlah tak bangga, namun saya sudah bertekad agar Prof. Kojima ---yang sudah saya anggap sebagai ayah saya selama di Jepang--- pensiun dengan satu kenangan nan elok tentang saya. Satu kenangan yang manis untuk menutup tiga puluh lima tahun pengabdiannya sebagai dosen Ibaraki Univ. Ganbaru!




-----



Jumat, 15 Agustus 2014

the expedition of :^D


(foto: dokumen pribadi)
Kerinci, on August 2014 (Cassiavera landscape like an Autumn forest)


Autumn, Forest, Japan HD wallpaper for Standard 4:3 5:4 Fullscreen UXGA XGA SVGA QSXGA SXGA ; Wide 16:10 5:3 Widescreen WHXGA WQXGA WUXGA WXGA WGA ; HD 16:9 High Definition WQHD QWXGA 1080p 900p 720p QHD nHD ; Other 3:2 DVGA HVGA HQVGA devices ( Apple PowerBook G4 iPhone 4 3G 3GS iPod Touch ) ; Mobile VGA WVGA iPhone iPad PSP Phone - VGA QVGA Smartphone ( PocketPC GPS iPod Zune BlackBerry HTC Samsung LG Nokia Eten Asus ) WVGA WQVGA Smartphone ( HTC Samsung Sony Ericsson LG Vertu MIO ) HVGA Smartphone ( Apple iPhone iPod BlackBerry HTC Samsung Nokia ) Sony PSP Zune HD Zen ; Tablet 2 ; 
(courtesy by google.com)
Autumn forest at four season countries
_________________________________________

Kerinci, July 30th 2014
_________________________________________


Berakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian.
Bersakit dahulu, bersenang kemudian



Kalau saya harus membuat suatu karangan yang mencerminkan pribahasa tersebut di atas, maka saya akan menulis pengalaman seorang sahabat, sebaris duduknya dengan saya ketika sekolah dulu. Orang yang menginspirasi saya.

Tidak dapat saya lupakan dulu, ---sejak kehadirannya--- selalu saja saya menyampir-nyampirkan buku pelajaran Matematika di dekat meja belajarnya. Maksudnya agar saya dapat dengan mudah melihat pengerjaan aljabar, persamaan linier/non-linier, dan ilmu-ilmu ukur lain yang dikerjakannya karena jelas sekali saya tidak paham dengan pelajaran berhitung. Masih pula saya ingat bagaimana teman saya itu menulis jawaban soal-soal aljabar secara rapi, tanpa coretan atau hapusan. Suatu pertanda bahwa sewaktu menjawab soal, pikirannya sudah jauh melihat ke mana arah jawaban harus dicari. Itu berarti daya nalarnya secara abstrak begitu tinggi.

Seperti kebanyakan kisah-kisah ironi, tidak disangka-sangka di saat kenaikan kelas berikutnya teman saya itu tidak hadir. Pun untuk beberapa hari kemudian. Berhari-hari ditunggui guru, tidak juga dia muncul. Tanpa salam perpisahan, teman saya itu pergi. Namun, beberapa bulan kemudian baru ada kabar ternyata dia dan keluarganya yang keturunan Tionghoa telah pindah. Sekolah tidak dilanjutkan lagi. Dia mesti cepat-cepat mendapat pekerjaan untuk mencari nafkah demi membantu menghidupi keluarga. Keterhentian karier teman saya itu bukan terjadi karena pencapaian ketidakmampuan oleh kecerdasan ---sebab saya tahu betul kapasitas intelektualnya--- atau karena diburu batas umur, melainkan karena dia tidak mampu secara ekonomi. Melalui akun media sosial, saya akhirnya berjumpa dengannya setelah tidak bersua selama beberapa tahun. Dia telah sukses ---tergantung apapun arti sukses itu (yang relatif)--- menjadi saudagar.

Ibarat dalam suatu pertandingan atletik, teman saya itu sebenarnya telah bertanding dalam pertandingan loncat tinggi dan mampu melewati semua letak mistar yang dihadapkan kepadanya. Akan tetapi sebelum letak mistar maksimum yang dapat dilompatinya itu dicobakan kepadanya, ia sudah berhenti bertanding. No chance but keep moving forward...

Dapatlah dibayangkan bagaimana dia melaksanakan pertandingan loncat tinggi itu. Setelah melewati mistar pendidikan dasar, ternyata ‘mistar’  tantangan itu diangkatnya sendiri ke tingkat yang lebih tinggi, dan dia ‘bertanding untuk mencapai rekor tanpa kehadiran dan tepuk tangan penonton’. Saya telah yakin, dia tidak akan berhenti pada ketinggian itu. Menurut hemat saya, dia masih jauh di atas tingkat ketidakcakapannya, sehingga mistar loncat tingginya masih dapat diangkat lebih tinggi lagi tanpa harus takut jatuh karena tersentuh tubuhnya sendiri sewaktu dia melompati. Dia telah dipakaikan ‘baju kehidupan’ yang ternyata sempit. Namun tingkat kecerdasannya pula yang pada akhirnya membuat dirinya berhasil memperbesar ukuran baju kehidupannya itu, tanpa meminta bantuan orang lain. Sederhana. Tuhan akan menolong orang yang mau menolong dirinya sendiri.

You have inspired me, dude!


Rabu, 10 Februari 2010

Thanks for the GEN!

E. Dan gw (terpaksa) harus terima. Nilai hasil study semester gw untuk mata kuliah Genetika dapet E. Gw bilang E, bukan A!

Kayaknya gw bakalan lama terdampar di kampus. Kemarin pas terima KRS (Kartu Rencana Studi), ketawa aja gw udah kayak orang stres! Hambar. Gw ketawa di luar, di dalam gw remuk. Kalo ibarat liga sepakbola, gw berada di zona degradasi.

Gw terlalu meremehkan Genetika sampe-sampe karena terlalu gw remehkan, baca buku bersampul kuning berjudul Modul Soal Genetika dan buku putih cabik lusuh berjudul Diktat Kuliah Genetika gw malas. Percuma. Gw kagak ngerti isi kuliah teorinya pas hadir kuliah. Karena itu gw selalu duduk di belakang, nyari kesempatan bwt tidur bentar.hehehe Black Community. Error.

---
i'm at Kerinci now. Kerinci masih sering mati listrik. Sehari giliran mati listrik jalur ke rumah gw, sehari lagi mati jalur listrik ke rumah nenek gw (_ah...gimana nih!? Katanya, udah kotamadya! Kok masih sering mati lampu?... Kagak keren, broooo_). Dan, masih sama. Gw melewatkan hari dengan berbengong ria, ngeliatin orang-orang pada jalan di depan sambil 'menjaga' perusahaan a.k.a toko.

Black in News - Hot NEWS: 'Burung'-nya si Edo [my little brada] udah sembuh. Liburan sekolah kemaren dia bersunat (khitan). Semoga 'burung' si Edo dapat menunaikan tugas sebaik-baiknya (!?).

Selasa, 10 Februari 2009

Tutttutara (Ketutu Nanggu' Tiara)

---
Begitu banyak harapan dan kenangan yang gw tinggalkan di kampung halaman, Kerinci. Tempat dimana gw akan selalu pulang. Tempat dimana gw selalu menandai cerah pagi di ufuk timur. Tempat dimana lidah gw ketagihan masakannya yang khas.
*mulai ngawur*

---

Gw adalah Hamid dalam roman Di Bawah Lindungan Ka'bah-HAMKA; gw adalah bola bowling yang harus menjatuhkan 2 pin bowling tersisa pada sisi yang berseberangan; gw manusia yang selalu tolol, bodoh, dan moron pada saat penting dan situasi terhormat.

---
Waktu zaman gw TK, gw punya temen (anak tetangga sebelah rumah) yg sering gw jahilin.hehehe. Dari mulai gw jitak kalo lagi kalah maen boncet (petak umpet) hingga sarang tawon yg gw lempar pake batu ampe ntu anak tetangga lari-lari kesakitan kena serbu disengat tawon ngamuk!hahaha.*senyum kemenangan*

Sekarang, gw malu n' segan berat kalo ketemu ama dia (si anak tetangga tersebut.RED). Maapkan aku. Itu semua kulakukan karena waktu itu aku belom dijampi-jampi.