April (Lavigne) bangsat! Gw terlunta-lunta di bulan penuh kekejaman ini. Duit gw amblas, gw ngutang ke temen-temen gw.
Kebangkrutan (yang telah biasa) tersebut diakibatkan karena gw berlagak dan bertingkah laku layaknya anak kawasan Menteng. Biaya makan sehari sampai Rp. 20.000, padahal pada hari-hari biasa makan tak lebih dari Rp. 10.000! Tapi hal itu hanya sampai tanggal 15. Setelah itu gw minta diutangi. Awal bulan nanti akan kaya lagi. Payah sekali memutus siklus!
Gw tak sendiri dalam menghadapi kejamnya April. Fadli, temen sekost gw, bernasib sama. Jadilah ada 2 orang anak udik Kerinci yang bertahan menghadapi keras hidup.
Bukan keluhan, bukan pula agar kisah derita ini diangkat ke layar lebar. Hanya sebagai pengingat dan pedoman.
---
Gw paling suka pagi hari. Terbangun mendengar pengajian menjelang Subuh dari masjid Al-Akbar di belakang rumah. Setelah Subuh, biasanya telah tersedia susu hangat dan teh manis panas di meja makan.
Susu dan teh tidak hadir sendiri. Akan ada 6 piring nasi goreng bawang untuk masing-masing orang. Jika bukan nasi goreng, maka serabi dari kedai kelontong di depan rumah sebagai pengganti sarapan.
Gw juga paling suka ba'da Maghrib. Semua berkumpul. Saatnya makan malam. Gw menyukai lauk sambal ikan puyuh goreng pete. Gw lihai merobek daging punggung ikan puyuh goreng.
Gw menyukai senyap menjelang Isya. Paling suka mendengar adzan shalat Isya. Gw lebih suka lagi jalan-jalan malam untuk sekedar membeli mie ayam.
Ah, seperti dulu ketika masih sekolah.
---
apakah hidup hanya sekedar lelucon saja?
seperti yang kau lakukan setelah membuang tahi matamu di kedai kopi
peraturan dibuat, kau tertawakan....
tunggu saja jika punishment sudah terjadi, merenung tiada guna kau dibalik jeruji
apakah hidup hanya sekedar lelucon saja?
setelah semalaman kau gambar pantat orang, atas nama seni
sedang anak-anak ngeri dan jijik melihatnya
akhirnya mereka pun terbiasa pula menggambar pantat, bahkan membuat pantat...
apakah hidup hanya lelucon saja?
saat kau setubuhi hukum dengan pengacaramu yang narsis itu
atau ketika kau sulam kain lap dari bulu anjing, menghapus darah perawan kebenaran....
pantas saja pentas ini tak pernah benar orangnya, karena orang yang benar tak laku untuk dijual di TeVe
bos media pengadu domba!
apakah hidup hanya lelucon saja?
kau tertawa terbahak sambil makan roti isi mentega basi
padahal baru semenit lalu kalian berantem di acara debat
pandai berakting pula kalian ya?, kenapa nggak ikut main sinetronnya Dedi Corbuzier saja...?
apakah hidup hanya sekedar lelucon saja?
orang berzina kalian lindungi, dianggap gentleman karena brani ngaku setelah ternyata anaknya mirip 'bapak haram'-nya
orang homo dan banci boleh bikin konferensi, se-Asia pula tu... gila
sedang orang nikah siri kalian penjarakan, sementara KUA tak pernah beres ngurus surat nikah
dan yang poligami kalian bilang tak punya perasaan, kalian yang tak berotak!!!
apakah hidup hanya sekedar lelucon saja?
kau terlelap enak di ruangan ber-AC, sementara orang yang tak punya rumah kepanasan di bawah jembatan
kau makan enak buatan perusahaan catering, sedang orang-orang itu makan nasi aking
kau tertawa menertawakan orang yang sedang tertawa, tak sadar kau bahwa dia sedang menertawakanmu
menertawakan tingkahmu yang tertawa-tawa setelah menang taruhan dengan si MarKus...
apakah hidup hanya sekedar lelucon saja?
lelucon, saling menertawai...
saling beradu akting,
mending nggak usah ada televisi, cukup siaran radio RRI...
biar kita tak banyak pasang aksi
#thanx to Mas Adi III (for inspiration)

