Tanggal 4 Desember 2016. Jika saja saya mengabaikan e-mail dari Prof. Kojima, seorang ahli tawon sosial dari Universitas Ibaraki, Jepang, maka saya tidak akan melanjutkan kuliah ke tingkat paling tinggi: doktoral. Saya ingat, hari itu hari Minggu karena segera setelah saya membaca pemberitahuan untuk menyiapkan dokumen beasiswa dari Profesor Kojima saya langsung memesan tiket travel ke Padang, bergegas untuk hari Senin paginya bertemu dengan Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas. Dekan tidak dapat saya temui tapi saya mendapat surat rekomendasi dari Wakil Dekan 1. Berbekal surat rekomendasi itulah saya mengirimkan paket dengan fotokopi transkrip nilai dan ijazah ke Jepang via EMS atau Express Mail Service. Beberapa bulan setelahnya, Prof. Kojima berkunjung ke Pusat Penelitan dan Pengembangan/Puslitbang Biologi LIPI di Cibinong. Saya dibayari ongkosnya untuk ke sana dari Kerinci. Betapa murah hatinya Prof. Kojima. Semoga Kojima-sensei sehat wal afiat walau beliau terkadang galak kepada saya selama menempuh studi doktoral di Jepang kurun waktu 3.5 tahun.
Minggu, 28 Juli 2024
Jumat, 07 Juni 2024
先ず隗より始めよ - mazu kai yori hajime yo
Begin Japanology. Kisah perjalanan kami -saya dan istri- di Jepang bermula dari pertemuan di Universitas Andalas (UNAND), Padang, ketika kami sedang menempuh studi S-2. Interaksi kami kian intens saat satu lab, di Laboratorium Taksonomi Hewan Invertebrata, sub-bagian Entomologi. Bahkan sebelum menikah, kami memiliki impian yang sama untuk melanjutkan pendidikan tinggi ke jenjang S-3.
“Sejak dulu, kami bersepakat berusaha menaikkan skor bahasa Inggris, mencari supervisor yang cocok, dan apply ke berbagai universitas di luar negeri.“
Sampailah kami di Jepang. Di Jepang, kami berkuliah di universitas yang berbeda dari tahun 2017 sampai tahun 2022. Saya di Ibaraki University di Mito, prefektur Ibaraki, sementara istri di Tokyo Metropolitan University di Hachioji, prefektur Tokyo. Karena dipisah oleh jarak, kami bertemu terkadang dalam dua minggu sekali atau satu bulan sekali. Tapi semenjak wabah covid, kami berdiam di Mito. Selama di Jepang, kami menaruh fokus pada penelitian tentang biologi serangga: biodiversitas tawon dan semut invasif di kepulauan Pasifik.
Bagi kami yang mendalami ilmu biologi serangga yang masih jarang digunakan di Indonesia, rasanya masih banyak pengetahuan yang belum saya dapatkan meski telah melewati jenjang pendidikan S-1 dan S-2. Pada jenjang doktoral inilah kami berkesempatan memperdalam topik yang kami geluti. Kalau di jenjang S-1 dan S-2 kami diwajibkan mengikuti kelas sebagai bagian kegiatan perkuliahan, di jenjang doktoral ini kami tidak diwajibkan untuk mengambil kelas, jadi kursus doktoral kami research based.
Sebagai mahasiswa doktoral, kami dilatih untuk mengatur waktu sebaik mungkin. Walau tidak ada kuliah secara berkala, kami berusaha untuk memanfaatkan waktu yang ada untuk membaca literatur terkait riset setiap harinya. Tiap satu minggu sekali, laboratorium kami sama-sama mengadakan seminar (セミナー) untuk mahasiswa yang tergabung di lab.
Selain itu, waktu saya dan istri juga digunakan untuk menulis paper. Menjadi mahasiswa doktoral sebenarnya secara singkat dapat digambarkan dalam dua kata: membaca dan menulis. Setelah semua data dan bacaan kita dapatkan, langkah berikutnya adalah menulis paper untuk dipublikasikan dalam jurnal ilmiah. Berapa banyak paper yang perlu dipublikasikan di jurnal ilmiah? Dalam beberapa kasus yang saya temui, semua tergantung syarat dari jurusan dan pembimbing. Saya sendiri diminta untuk memublikasikan minimal 1 paper di jurnal internasional dan 1 conference proceeding, plus disertasi yang akan diserahkan ke jurusan untuk proses sidang doktoral, sementara istri diminta supervisor-nya untuk menerbitkan minimal 2 paper + 1 conference proceeding (waktu itu istri saya mengikuti konferensi Animal Behaviour di Illinois, Chicago, Amerika Serikat pada Juli tahun 2019) + disertasi.
Sungguh, jika terkenang masa-masa studi doktoral bersama istri, saya merasa sangat bersyukur kehadirat Allah SWT, karena kami diberi kesempatan untuk belajar di negeri orang, melihat budaya mereka, tinggal bersama dengan mereka untuk waktu yang cukup lama, dan menjadi minoritas. Urasawa Naoki pernah menulis di manga-nya, 20th Century Boys: "Akan ada masa saat kamu harus melakukan sesuatu padahal enggan, tapi justru pada saat seperti itulah kamu harus benar-benar bersungguh-sungguh!". Hal ini merujuk pada situasi dan kondisi kami ketika menjalani studi doktoral di Jepang yang bagaikan menaiki roller coaster namun mengasyikkan. Seperti itu... .
つづく。
Selasa, 09 April 2024
今度は今度。今は今 [Next time is next time. Now is now]
Sejak kecil, kita belajar. Lalu kita bekerja. Kita terus mengembangkan diri. Namun, akhirnya, kita harus sakit, menua dan kemudian meninggal. Bukankah ini absurd?
Semua usaha kita lenyap, ketika kita mati. Semua perjuangan kita menjadi sia-sia, ketika kita dijemput ajal. Uang, kuasa dan kecerdasan, yang diperjuangkan selama bertahun-tahun, lenyap dalam sekejap mata. Seolah hidup ini pun menjadi percuma???
Kita berusaha berbuat baik. Namun, orang jahat dan korup justru semakin kaya dan berkuasa. Kita berusaha bekerja dengan jujur. Namun, rezeki tak kunjung datang. Kita perlu menikmati semua proses. Kita perlu menjadi orang yang bertekun di dalam usaha. Hasil bukan di tangan kita. Bahkan, seringkali, walaupun disertai usaha keras, hasil juga tak kunjung tiba. Lalu, apa tujuan saya hidup?
_________________________________________
Pemikiran seperti itulah, dahulu pernah terlintas di otak saya. Berkali-kali terlintas malah, dan saya cari jawabnya. Namun kembali --- sebagai muslim --- jawabannya ada dalam Al-Qur'an, surat Az Zariyat ayat 56:
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Arab Latin: Wa mā khalaqtul-jinna wal-insa illā liya'budụn
Artinya: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku."
Lebih jauh dalam Tafsir Al-Azhar oleh Buya HAMKA dikatakan surat Az Zariyat ayat 56 menerangkan bahwa jika seorang telah mengakui beriman kepada Allah SWT, dia tidak akan ingin hidupnya di dunia kosong. Lebih lanjut Buya HAMKA menguraikan, ibadah itu harus diawali dengan iman yang mana percaya bahwa ada Allah SWT yang menjamin. Percaya akan adanya Allah SWT menjadi dasar dari hidup itu sendiri, karenanya iman yang telah tumbuh wajib dibuktikan dengan amal yang saleh.
-Hamba Allah yang dhoif dan hina, pengharap surga-
Malam takbiran Raya Idul Fitri 1445 H/2024 M, Jogja, Sleman, Maguwoharjo, Pasekan, RT 40.
Kamis, 04 Januari 2024
Then and Now
Now and Then by the BEATLES
I know it's true
It's all because of you
And if I make it throughIt's all because of you
And now and then
If we must start again
Well, we will know for sure
That I will love you
Now and then
I miss you
Oh, now and then
I want you to be there for me
Always to return to me
I know it's true
It's all because of you
And if you go away
I know you'll never stay
Now and then
I miss you
Oh, now and then
I want you to be there for me
I know it's true
It's all because of you
And if I make it through
It's all because of you
Kamis, 18 Mei 2023
Stupidity and Luck is on me
Per Mei tahun 2023, orang terkaya atau keluarga terkaya di Indonesia masih dipegang Grup Djarum, perusahaan rokok itu. Prinsip hidup keluarga Djarum, menurut salah satu pakar konstitusi keluarga, hanya dua: Pertama, bagaimana bisa bertahan hidup. Kedua, jangan sampai hidup sengsara.
===================
Sabtu, 06 Mei 2023
The Guy of Lucky & Stupid
Kamis, 20 April 2023
The Guy of Stupid & Lucky
Selintas postingan video singkat dari seorang mualaf yang telah almarhum bernama Ko Steven mampir di instagram pribadi. Setelah bermenung dan memikirkan sekian lama, saya memutuskan ---bahwa bagi saya--- perspektif ini saya setujui dan saya tambahi. Karena sejarah, karya-karya atau pencapaian besar selalu tercipta dari kesungguh-sungguhan (مَنْ جَدَّ وَجَدَ), keseriusan dan fokus yang tinggi yang seharusnya dijalani oleh manusia selama masa tunggu.
Hidup itu tidaklah sementara. Hidup di dunia yang sementara, dan kita akan hidup lagi di akhirat, kelak. Hidup kita di akhirat 'kan tergantung bagaimana di dunianya. Jadi kalau melakukan hal-hal besar di dunia, pasti akan berdampak ke akhiratnya. Perhatikan saja, bukankah sebagian besar orang dengan karya atau prestasi besar biasanya akan lebih banyak manfaatnya buat orang lain??? Dan biasanya jikalau manfaatnya banyak, rezekinya juga bisa jadi banyak. Akhirnya bisa sedekah lebih besar, bisa naik haji, dan bisa lebih banyak lagi membantu orang. Rasulullah
Allah اللّٰه SWT berfirman:
"Maka apabila kamu telah selesai dari sesuatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain...”
(QS. 94:7).
Jelas sekali perintah-Nya, KERJAKAN dengan SUNGGUH-SUNGGUH pekerjaan kita, bukan cuman sekedarnya saja. Ayat yang ini lebih “kena” lagi:
“Apabila TELAH kamu tunaikan SHALAT, maka BERTEBARANLAH kamu di muka bumi, dan CARILAH KARUNIA Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung...” (QS. 62:10).
Jikalau sudah sholat, ya menyebar dong kemana-mana, cari karunia Allah. Bentuknya bisa ilmu, bisa rejeki, bisa peluang, atau amal-amal baik lainnya. Sholat tanpa perlu dibilang penting pun memang sudah penting dan jadi KEWAJIBAN dari dahulunya. Bahkan kalau sudah sampai pada tingkatan tertentu malah jadi KEBUTUHAN. Lagipula kita telah diberikan raga oleh Allah, sang Pencipta, agar digunakan, diberdayakan, dipakai untuk beribadah kepada-Nya sebelum nanti kembali lagi kepada-Nya.





