Jumat, 14 Maret 2025

Barba non facit philosophum

Saya pernah ditanyai: apa pelajaran hidup/cerita unik kamu ketika S-3 di luar negeri yang sekiranya membuatmu menjadi pribadi yang lebih baik?

------------------------------------------------------------------------------------------------------

1. Berkonfliklah!

Bagi saya yang culun, saya selalu diajarkan oleh nenek saya bahwa "menghindari konflik itu baik, marah itu berdosa," dsb. Gara-gara prinsip itu saya selalu dimanfaatkan oleh orang lain. Saat saya S-3, saya diajari oleh Sensei saya untuk mengekspresikan ketidaksukaan saya akan suatu hal. Jadi ketika saya tidak menyukai suatu hal, saya perlu mengekspresikannya via 5W + 1H (what, where, when, who, why + how) sehingga gerutuan saya lebih terstruktur dan orang lain tahu letak kekecewaan saya. Terakhir, saya belajar untuk tidak meminta maaf kalau saya marah karena dikecewakan oleh seseorang. 😅


2. Orang normal meng-agama-kan sains, orang cerdas memahami agama dan sains

Salah satu penyakit orang-orang yang gagap pengetahuan atau baru kenal filosofi adalah membuang semua hal berbau agama karena dianggap "ketinggalan zaman" dan "tidak kompatibel dengan sains." Mereka mereduksi Tuhan sebagai "bualan orang-orang bodoh yang tidak kenal modernitas dan metode ilmiah," serta mengejek agama sebagai "candu untuk orang-orang malas yang ogah maju." Orang-orang yang gagap pengetahuan mengganti Rasulullah مُحَمَّد dengan Charles Darwin, Nabi Isa/Yesus dengan Newton, atau Al-Quran dengan Brief History of Time. Mereka memamerkan kutipan dari artikel Elsevier atau MDPI layaknya kutipan kitab suci — dan siapapun yang berseberangan dengan kutipan ayat-ayat Kitab Elsevier ini, perlu dilabeli sebagai "jahil tak terdidik, tak tahu pengetahuan, bahlul tidak ilmiah."Tidakkah mereka ingat bahwa sains itu hidup dengan dialektika & diskusi pandangan-pandangan yang berbeda? Lupakah mereka kalau banyak ilmuwan peletak dasar-dasar sains (misal kalkulus, astronomi, genetika, dan kimia) yang merupakan agamawan di masanya?"

Ketika saya dan istri mengalami lockdown di Jepang (2020), saya melihat semua rencana rapi yang saya buat untuk menuntaskan secara cepat S-3 berantakan. Di situlah saya makin mengenal Tuhan, Dia adalah energi yang bekerja di luar kendali saya sebagai seorang individu. Sepaham-pahamnya saya dengan semua teori yang bisa menjelaskan lockdown itu, saya tidak punya daya buat membatalkannya. Tawakkal, bersyukur, zikir dan shalawat adalah upaya saya untuk meyakinkan bahwa Tuhan selalu bersama hamba-Nya yang mengingat-Nya, dan itu menenangkan saya. Bagi saya, sains dan semua teorinya adalah ikhtiar/usaha manusia buat mengenal karya-karya Tuhannya. Pengetahuan material dari sains tidak bisa menggantikan pengetahuan irasional yang ditawarkan agama.

Satu lagi, hikmah yang saya dapatkan dari tinggal lama di luar negeri, yaitu: menurut saya, di Indonesia ini tidak ada insentif buat menjadi cerdas atau profesional di bidangnya. Di Jepang, kalau Anda profesional di bidangnya, sebelum lulus Anda sudah ditawari ruangan di lembaga penelitian plus rumah dinas yang bisa Anda miliki setelah sekian tahun bekerja. Sementara itu, di Indonesia, insentif diberikan ke ahli drama, tukang kibustukang egol-egolan di media sosial, dan artis tukang selingkuh! (Sigh!). Tidak ada solusi dari saya.


Saya dan istri di Gunung Takao, Tokyo, Oktober 2021




Hokkaido University, February 2019

Minggu, 28 Juli 2024

The Wasp Effect

Tanggal 4 Desember 2016. Jika saja saya mengabaikan e-mail dari Prof. Kojima, seorang ahli tawon sosial dari Universitas Ibaraki, Jepang, maka saya tidak akan melanjutkan kuliah ke tingkat paling tinggi: doktoral. Saya ingat, hari itu hari Minggu karena segera setelah saya membaca pemberitahuan untuk menyiapkan dokumen beasiswa dari Profesor Kojima saya langsung memesan tiket travel ke Padang, bergegas untuk hari Senin paginya bertemu dengan Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas. Dekan tidak dapat saya temui tapi saya mendapat surat rekomendasi dari Wakil Dekan 1. Berbekal surat rekomendasi itulah saya mengirimkan paket dengan fotokopi transkrip nilai dan ijazah ke Jepang via EMS atau Express Mail Service. Beberapa bulan setelahnya, Prof. Kojima berkunjung ke Pusat Penelitan dan Pengembangan/Puslitbang Biologi LIPI di Cibinong.  Saya dibayari ongkosnya untuk ke sana dari Kerinci. Betapa murah hatinya Prof. Kojima. Semoga Kojima-sensei sehat wal afiat walau beliau terkadang galak kepada saya selama menempuh studi doktoral di Jepang kurun waktu 3.5 tahun. 




Jumat, 07 Juni 2024

先ず隗より始めよ - mazu kai yori hajime yo

Begin Japanology. Kisah perjalanan kami -saya dan istri- di Jepang bermula dari pertemuan di Universitas Andalas (UNAND), Padang, ketika kami sedang menempuh studi S-2. Interaksi kami kian intens saat satu lab, di Laboratorium Taksonomi Hewan Invertebrata, sub-bagian Entomologi.  Bahkan sebelum menikah, kami memiliki impian yang sama untuk melanjutkan pendidikan tinggi ke jenjang S-3. 

“Sejak dulu, kami bersepakat berusaha menaikkan skor bahasa Inggris, mencari supervisor yang cocok, dan apply ke berbagai universitas di luar negeri.“ 

Sampailah kami di Jepang. Di Jepang, kami berkuliah di universitas yang berbeda dari tahun 2017 sampai tahun 2022. Saya di Ibaraki University di Mito, prefektur Ibaraki, sementara istri di Tokyo Metropolitan University di Hachioji, prefektur Tokyo. Karena dipisah oleh jarak, kami bertemu terkadang dalam dua minggu sekali atau satu bulan sekali. Tapi semenjak wabah covid, kami berdiam di Mito. Selama di Jepang, kami menaruh fokus pada penelitian tentang biologi serangga: biodiversitas tawon dan semut invasif di kepulauan Pasifik. 

Bagi kami yang mendalami ilmu biologi serangga yang masih jarang digunakan di Indonesia, rasanya masih banyak pengetahuan yang belum saya dapatkan meski telah melewati jenjang pendidikan S-1 dan S-2. Pada jenjang doktoral inilah kami berkesempatan memperdalam topik yang kami geluti. Kalau di jenjang S-1 dan S-2 kami diwajibkan mengikuti kelas sebagai bagian kegiatan perkuliahan, di jenjang doktoral ini kami tidak diwajibkan untuk mengambil kelas, jadi kursus doktoral kami research based

Sebagai mahasiswa doktoral, kami dilatih untuk mengatur waktu sebaik mungkin. Walau tidak ada kuliah secara berkala, kami berusaha untuk memanfaatkan waktu yang ada untuk membaca literatur terkait riset setiap harinya. Tiap satu minggu sekali, laboratorium kami sama-sama mengadakan seminar (セミナー) untuk mahasiswa yang tergabung di lab. 

Selain itu, waktu saya dan istri juga digunakan untuk menulis paper. Menjadi mahasiswa doktoral sebenarnya secara singkat dapat digambarkan dalam dua kata: membaca dan menulis. Setelah semua data dan bacaan kita dapatkan, langkah berikutnya adalah menulis paper untuk dipublikasikan dalam jurnal ilmiah. Berapa banyak paper yang perlu dipublikasikan di jurnal ilmiah? Dalam beberapa kasus yang saya temui, semua tergantung syarat dari jurusan dan pembimbing. Saya sendiri diminta untuk memublikasikan minimal 1 paper di jurnal internasional dan 1 conference proceeding, plus disertasi yang akan diserahkan ke jurusan untuk proses sidang doktoral, sementara istri diminta supervisor-nya untuk menerbitkan minimal 2 paper + 1 conference proceeding (waktu itu istri saya mengikuti konferensi Animal Behaviour di Illinois, Chicago, Amerika Serikat pada Juli tahun 2019) + disertasi.

Sungguh, jika terkenang masa-masa studi doktoral bersama istri, saya merasa sangat bersyukur kehadirat Allah SWT, karena kami diberi kesempatan untuk belajar di negeri orang, melihat budaya mereka, tinggal bersama dengan mereka untuk waktu yang cukup lama, dan menjadi minoritas. Urasawa Naoki pernah menulis di manga-nya, 20th Century Boys: "Akan ada masa saat kamu harus melakukan sesuatu padahal enggan, tapi justru pada saat seperti itulah kamu harus benar-benar bersungguh-sungguh!". Hal ini merujuk pada situasi dan kondisi kami ketika menjalani studi doktoral di Jepang yang bagaikan menaiki roller coaster namun mengasyikkan. Seperti itu... .


つづく。




Selasa, 09 April 2024

今度は今度。今は今 [Next time is next time. Now is now]

Sejak kecil, kita belajar. Lalu kita bekerja. Kita terus mengembangkan diri. Namun, akhirnya, kita harus sakit, menua dan kemudian meninggal. Bukankah ini absurd?

Semua usaha kita lenyap, ketika kita mati. Semua perjuangan kita menjadi sia-sia, ketika kita dijemput ajal. Uang, kuasa dan kecerdasan, yang diperjuangkan selama bertahun-tahun, lenyap dalam sekejap mata. Seolah hidup ini pun menjadi percuma???

Kita berusaha berbuat baik. Namun, orang jahat dan korup justru semakin kaya dan berkuasa. Kita berusaha bekerja dengan jujur. Namun, rezeki tak kunjung datang. Kita perlu menikmati semua proses. Kita perlu menjadi orang yang bertekun di dalam usaha. Hasil bukan di tangan kita. Bahkan, seringkali, walaupun disertai usaha keras, hasil juga tak kunjung tiba. Lalu, apa tujuan saya hidup?

_________________________________________

Pemikiran seperti itulah, dahulu pernah terlintas di otak saya. Berkali-kali terlintas malah, dan saya cari jawabnya. Namun kembali --- sebagai muslim --- jawabannya ada dalam Al-Qur'an, surat Az Zariyat ayat 56:


وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ


Arab Latin: Wa mā khalaqtul-jinna wal-insa illā liya'budụn

Artinya: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku."


Lebih jauh dalam Tafsir Al-Azhar oleh Buya HAMKA dikatakan surat Az Zariyat ayat 56 menerangkan bahwa jika seorang telah mengakui beriman kepada Allah SWT, dia tidak akan ingin hidupnya di dunia kosong. Lebih lanjut Buya HAMKA menguraikan, ibadah itu harus diawali dengan iman yang mana percaya bahwa ada Allah SWT yang menjamin. Percaya akan adanya Allah SWT menjadi dasar dari hidup itu sendiri, karenanya iman yang telah tumbuh wajib dibuktikan dengan amal yang saleh.


-Hamba Allah yang dhoif dan hina, pengharap surga-

Malam takbiran Raya Idul Fitri 1445 H/2024 M, Jogja, Sleman, Maguwoharjo, Pasekan, RT 40. 




Kamis, 04 Januari 2024

Then and Now

Now and Then by the BEATLES

I know it's true

It's all because of you

And if I make it through
It's all because of you

And now and then
If we must start again
Well, we will know for sure
That I will love you

Now and then
I miss you
Oh, now and then
I want you to be there for me
Always to return to me

I know it's true
It's all because of you
And if you go away
I know you'll never stay

Now and then
I miss you
Oh, now and then
I want you to be there for me

I know it's true
It's all because of you
And if I make it through
It's all because of you

_______________________




Kamis, 18 Mei 2023

Stupidity and Luck is on me

Per Mei tahun 2023, orang terkaya atau keluarga terkaya di Indonesia masih dipegang Grup Djarum, perusahaan rokok itu. Prinsip hidup keluarga Djarum, menurut salah satu pakar konstitusi keluarga, hanya dua: Pertama, bagaimana bisa bertahan hidup. Kedua, jangan sampai hidup sengsara.


Bahwa mereka menjadi keluarga terkaya di Indonesia itu, katanya, karena tidak mau berhenti bekerja. Tujuan untuk terus bekerja itu adalah: agar bisa bertahan hidup dan jangan sampai hidup sengsara. Bukan untuk menjadi yang terkaya.

Keluarga Djarum, katanya, juga mementingkan sikap jangan arogan dan sombong. Lalu jangan memanjakan anak. Harus tahu tata krama. Juga harus bisa tepo seliro –ungkapan Jawa yang berarti tahu diri. Artinya: ''jangan melakukan sesuatu yang Anda tidak mau orang lain melakukan itu terhadap Anda''.


===================

(dok. pribadi)


Sabtu, 06 Mei 2023

The Guy of Lucky & Stupid

 No Surprises by RADIOHEAD


A heart that's full up like a landfill
A job that slowly kills you
Bruises that won't heal

You look so tired, unhappy
Bring down the government
They don't, they don't speak for us

I'll take a quiet life
A handshake of carbon monoxide

And no alarms and no surprises
No alarms and no surprises
No alarms and no surprises
Silent, silent

This is my final fit
My final bellyache with

No alarms and no surprises
No alarms and no surprises
No alarms and no surprises, please

Such a pretty house
And such a pretty garden

No alarms and no surprises (get me out of here)
No alarms and no surprises (get me out of here)
No alarms and no surprises, please (get me out of here)

===================================

Hachioji, Tokyo, on January 6th 2022
==============================

"Lebih baik hidup satu hari sebagai serigala, daripada seribu hari sebagai domba. Dan apapun yang kamu lakukan, pastikan itu membuatmu bahagia."