Mungkin orang akan menjawab bahwa dengan kuliah di Jepang, kita akan mendapatkan ilmu yang lebih luas. Nyatanya saya tidak.
Ilmu tentang bidang saya, saya dapatkan sedikit. Kenapa? Karena saya Nihongo zenzen tabenai (translasi: Tidak bisa ‘termakan’ bahasa Jepun) alias saya tidak mahir berbahasa Jepang.
Namun terlepas dari kendala bahasa yang terbata-bata, di Jepang saya bisamendapatkan fasilitas yang luar biasa untuk ilmu. Misalkan saja, akses ke jurnal-penyedia paper ilmiah gratis,penggunaan alat laboratorium yang bebas tapi bertanggung-jawab, dan biaya-penelitian yang sepenuhnya ditanggung universitas. Tiga akses penting itulah yang kita belum bisa dapatkan secara cuma-cuma di Indonesia.
Kemudian, beasiswa di Jepang itu cukup besar. Bisa membantu orang tua kalau kuliah di Jepang. Pun untuk yang arubaito (bekerja paruh waktu), kadang gajinya lebih tinggi dari pekerja full time di Jepang, dan itu tanpa pajak. Tapi, biaya hidup di Jepang juga besar, maka itu berbanding lurus, sehingga kita harus banyak berhemat jika kita ingin menyisihkan banyak uang.
Dari sinilah, kita mempunyai banyak keuntungan belajar bagaimana bertahan hidup dengan serba keterbatasan. Terbatas uang, terbatas keluarga (untungnya saya sambil ditemani dan menemani istri selama di sini), dan terbatas bahasa.heheeh
Selain itu, selama berkelana di tanah Jepang, saya dan istri bisa mengunjungi tempat-tempat wisata, budaya, wisata kuliner halal, ke museum spesimen, dll. (Tujuannya) Untuk melihat negeri "ini". Untuk berbelanja semangat. Agar setidaknya diri saya sendiri tidak malas dan tidak mudah berdalih (karena kok bisa ya negeri kita yang SDA-nya buuuanyak bisa kalah dengan negeri 'ini', miskin SDA). Ya semua itu pakai biaya sendiri, eh...beasiswa. Bukan dari pemerentah Wakanda ehh...India...ehk. Tidak bisa pula dipungkiri jikalau saat mem-posting foto-foto di IG atau pesbuk maka netijen-netijen akan nyinyir berkata:”jalan-jalan mulu…”. Saya beritahu: postingan itu hanya segelintir part of happiness yang saya bagikan, sedangkan banyaaaaaaaak sekali part of sadness yang tidak saya bagikan. Lagian kagak ada manfaatnya posting yang sedih-sedih. Saya sebisa mungkin hanya mmbagikan post beraura positif, aura bahagia saja,.
--------------------------------------------------------
Pada akhirnya kita akan selalu mencari ketenangan. Menikmati waktu, me time semaunya. Berkumpul dengan orang-orang terdekat, keluarga. Tidak terikat oleh apa pun. Dan kapitalisme tidak akan membiarkan hal itu karena kapitalisme akan membuat kita kehilangan waktu yang banyak, bahkan kurang tidur! Ujung-ujungnya nanti akan bermuara pada uang! Jikalau matahari sebagai inti SDA, maka uang adalah inti SDM. Tapi kita perlu uang untuk hidup. Di sinilah ironinya.
Maka kita perlu menyadari dan kembali ke tujuan akhir: untuk bahagia dan bebas. Tentu ‘ini’ hanya bisa enteng diucapkan oleh orang yang sudah ‘merasa’ mendapatkan apa-apa yang dia inginkan dan dia cari. Tentu ‘ini’ akan bermuara pula pada kesyukuran.
_-----------------------------------------
Saya punya satu mantra, yaitu:
“Mereka (kamu) boleh pintar, saya (kita) tidak boleh bodoh".
Mantra yang saya beri tanda kutip itu baiknya dipegang oleh siapa saja. Jangan pernah salahkan mereka yang pintar itu. Tapi kita juga harus ingat: kita jangan bodoh! Mantra ini saya wariskan dari sensei saya dulu. Waktu itu konteksnya beliau membicarakan bahwa wabah ‘ini’ harus dirunut baik-baik, dari mana asalnya, bagaimana dan mengapa bisa terjadi. (Berita) Jangan ditelan bulat-bulat. Tidak semua yang kamu dengar itu benar tapi semua yang benar harus didengar. Sensei juga bilang:"This pandemic did not broke a system. It exposed a broken system".
Meski sudah lebih setahun ‘menderita’, tetap saja generasi yang sekarang lebih beruntung dibanding generasi yang lalu: menderita berkepanjangan. Dulu ada perang dunia pertama (1914-18). Disusul pandemi flu Spanyol (1920). Kemudian depresi ekonomi dunia. Disusul perang dunia ke-2 (1939-45). Beruntunglah yang lahir setelah tahun 1965. Tidak pernah ada gejolak besar – kecuali gejolak di hati masing-masing.
-----------------------------------------------------------------
As retirement is a time for feeling luck and glad to be alive
I would like to express my heartfelt and my deepest sympathy for the retirement of Prof. Jun-ichi Kojima (Kojima sensei) of Graduate School of Science and Engineering, Ibaraki University. During my study under his supervision in Japan, Kojima sensei always supervised the whole work eagerly, advised critically and gave constructive comments on my research and thesis. He has a warm heart, constant encouragement and keen interest throughout this study. As for his retirement, I think Kojima sensei deserves the best retirement ever because of all dedication and hard work. I am so grateful to have met him and learned from him. Moreover, I regarded Kojima sensei as my father in Japan. Hopefully Kojima sensei’s retirement is perfectly grand with lots of good luck.
----------------------------
Alan Handru (32 y/o - Indonesia), Doctoral student, Major in Complex System Science, Graduate School of Science and Engineering, Ibaraki University (class of 2018).
----------------------------