Kamis, 08 April 2021

japan tateyoko part 2

Juni, 2017. Teringat saat menerima kabar melalui e-mail itu, bahwa saya lulus beasiswa itu ---yang saking senangnya saya mendapat kabarnya di sore hari bulan Ramadhan 1438 H, adik saya memanjat-manjat punggung saya, sampai kami terjengkang ke belakang sama-sama---, bersyukur kehadirat Allah SWT karena Dia tahu, tentu melalui doa sepanjang usai sholat, bahwa saya butuh pertolongan: wajah ini penuh dengan siratan “penderitaan”, hehehe. Seberes pengurusan visa student dan pengurusan dokumen penting lainnya, satu hal lagi yang harus dibereskan: menikah. 


11 September, 2017. Teringat, waktu penghulu membimbing saya untuk akad nikah, baru satu-dua kata penghulu bersabda langsung saya sambar. Cepat sekali, macam tukang dadu cangkir menyambar duit lima ribu. Saya mengucap akad sekali saja, cerdas, fasih, dan lancar. Salah seorang kerabat bertanya bagaimana bisa begitu hebat.


“Saya sudah hapal ucapan nikah pada Dona sejak kami tingkat akhir kuliah pasca sarjana”, jawab saya dengan tenang. Itu berarti dua tahun sebelum pernikahan dilangsungkan.


April, 2018. Pertama kali perkuliahan dimulai. Semua dimulai dari nol, dari yang tidak tahu apa-apa sampai sekarang juga belum tahu apa-apa. Mudah2an yang saya lakukan ini adalah juga dihitung sebagai cara saya “mencicil” untuk membahagiakan orang tua. Aamiiin.


Maret, 2021. Setelah perjuangan nan panjang berliku tajam, akhirnya… yattaALHAMDULILLAH…. Saya lulus kuliah tingkat doktoral. Syukur kehadirat Allah SWT. Berkat doa dan dukungan dari istri tercinta (semangaat sayaang… ❤☺), kedua orang tua, keluarga besar, dan lain – lain. Tidak lupa, saya sangat berterimakasih pada guru-guru saya yang telah mengajar, membimbing dan menunjukkan patok-patok jalan untuk sampai meraih ekspektasi; yang menunjukkan dari sudut-sudut mana saja saya harus mulai mendaki, sehingga dengan begitu saya bisa memetakan peluang, akan menjadi apakah saya: sebagai akademisi, peneliti, konsultan ataukah decision maker?





"He ends up a crossroad. Unsure of where to go next the rest of his life wide open to be explored in any direction he chooses. Let see."

-----------------------------------------------------------------------

Dia tak pernah takluk menghadapi kenyataan bahwa dirinya selalu diremehkan atas keadaan, dicurangi oleh lawan bahkan kawan. Dia itu bagai huruf nun (ن) mati diantara idgham bigunnah: ada tapi dianggap tidak ada. Walau berkali-kali dibohongi atau diperlakukan secara tidak adil oleh lingkungan tapi dia selalu beruntung, karena dia baik hati.” 

--- Buya Yahni, guru ngaji Mesjid Al-Akbar. 

-----------------------------------------------------------------------

I want that feeling. The feeling that comes over from a man when he gets what he most desired”. 
-Kumar, direktur pabrik baja (2004)-


“Semakin banyak orang yang mengakui kemampuanmu, semakin banyak pula orang yang memusuhimu atau yang ingin memanfaatkanmu. Kau harus siap mental! Camkan itu, bro”.
-Chan Maekawa, pengajar kung fu kuil Dairin (2010)-


“Sejak sampai di Negara ini, di kota metropolitan dunia ini, dia terus tercengang-cengang. Kalau untuk meluaskan pandangan, wawasan dan pengalaman seperti kata Ayah-nya, ini betul-betul di luar dugaan. Tapi tak enak juga kalau tercengang terus, mulai sekarang harus siap untuk tidak tercengang lagi”.
-Badrun-


“Saya menyadari kalau saya tidak cemerlang di sekolah. Namun saya memiliki tekad, semangat dan cita-cita tinggi. Saya ingin menjadi orang yang tangguh, pantang menyerah dan pekerja keras. Saya ingin menjadi orang yang dapat menerima pukulan paling keras, lalu bangkit dan terus bergerak maju”.
-kang cilok depan gerbang SD Pertiwi-

-----------------------------------------------------------------------

つづく

Rabu, 09 Desember 2020

di Storia Naturale del evolution

Untuk sampai di titik ini, di ujung masa studi, saya harus bersusah payah mengerjakan riset; pontang panting dalam membagi waktu antara Tokyo - Mito untuk mengunjungi istri tercinta karena kami berkuliah di kampus berbeda; begadang hingga larut malam untuk mengobservasi spesimen di bawah mikroskop sampai-sampai badan terasa penat karena masuk angin. Namun, saya puas dan tidak gentar walau ujian disertasi menghadang di depan mata! Ini sama sekali bukan karena saya pandai, bukan, bukan, sama sekali bukan… melainkan karena saya telah jauh-jauh hari --- bahkan sudah sejak awal musim gugur --- menyiapkan diri untuk sidang ini. Saya bersusah payah agar, setidaknya, bisa lulus dengan nilai cukup. hehehe

Pernah saya tanyakan perihal mahasiswa terakhir bimbingan Profesor Kojima kepada salah seorang kolega beliau, seorang associate professor yang dulu juga mahasiswa bimbingan Kojima-sensei: Morooka-san. Dengan rasa percaya diri yang overvalued, saya tanyakan:

“Morooka-san, jika tidak berkeberatan, tolong beritahu saya bagaimana kesan Kojima-sensei tentang saya? Maksud saya, karena saya adalah mahasiswa terakhir bimbingan beliau sebelum beliau masuk masa pensiun, apakah Sensei tampak senang?”

Morooka-san menatap saya lama. Lama. Mungkin dia mencari kata-kata yang pas untuk menjawabnya, lalu dia melengos seperti gaya orang pasrah berkali-kali tlah kehilangan sandal di masjid sambil menghela nafas agak berat. Saat itulah saya mahfum bahwa Kojima- sensei tidak terlalu bangga pada saya.

Biarlah tak bangga, namun saya sudah bertekad agar Prof. Kojima ---yang sudah saya anggap sebagai ayah saya selama di Jepang--- pensiun dengan satu kenangan nan elok tentang saya. Satu kenangan yang manis untuk menutup tiga puluh lima tahun pengabdiannya sebagai dosen Ibaraki Univ. Ganbaru!




-----



Jumat, 22 Mei 2020

japan tateyoko

----------------------------------------------------------------------------

Sebagian besar orang berpikir bahwa Jepang adalah pusat futuristik yang menakjubkan yang menampilkan teknologi paling mutakhir. Hal ini mungkin terjadi beberapa waktu yang lalu, namun saat ini Jepang ---setidaknya menurut pengamatan saya setelah tinggal di Jepang--- terlihat agak tertinggal di bidang tekhnologi. Cobalah berjalan di kawasan modern Tokyo dan kita akan menemukan jawabannya. Semuanya terasa seperti tahun 90-an, pun di Mito tempat saya bermukim. Tidak dipungkiri Jepang pernah menjadi cikal bakal penemuan tekhnologi baru, tetapi setelah menikmati puncak teratas yang mereka miliki, sejak itulah mereka tertinggal (Bubble Era). Tekhnologi di sini terlihat kuno dan tidak mengesankan. Salah satu musababnya adalah selama tekhnologi sekelilingnya bekerja dengan sangat baik, mereka merasa tidak perlu menggantinya.


---------------------------------------
Pasangan ini mewakili anak muda Indonesia yang aspirasinya tidak hanya sekedar membangun keluarga tradisional yang stabil, yang didambakan generasi orang tua mereka dulu. Ada puluhan juta orang seperti mereka di Indonesia, yang telah memperoleh gelar dan sertifikat pendidikan namun siap kerja di tengah kelambanan ekonomi dan bersaing dengan banyak lulusan lainnya, yang jumlahnya melebihi lapangan pekerjaan bergaji layak yang tersedia. mereka agak sedikit galau, tapi jalan masih terbentang dan kesempatan terbuka luas.

----
Desember 2016. Setelah hampir 2 tahun saling berbalas e-mail, akhirnya datang kabar yang saya tunggu-tunggu: pendaftaran beasiswa. Sensei (supervisor) saya sekarang mengatakan agar segera mempersiapkan dokumen penting dan agar bersiap untuk tes wawancara.  (Calon) Istri saya pun begitu (waktu itu istri sedang "magang" di Jepang selama 1 bulan). Kami berdua saling bahu-membahu dalam menyiapkan syarat2 beasiswa. Alhamdulillah, kami lulus! Kami pun menikah. 

Saya merasa sangat beruntung bisa "terpilih" karena dengan kualitas yg pas-pasan begini, sya bisa melangkah sejauh ini. Saya harus mensyukuri dan berjuang untuk mmbuktikan hal itu! "Itu" itu adalah motivasi saya sejauh ini hehehe.

September 2017. Teringat ketika di bandara, kami berpamitan kepada orang tua dan memohon doa agar berhasil dalam studi. Kedua orang tua kami memang bukan siapa-siapa, mereka hanya pedagang kecil dan guru biasa, namun berkat doa-doa mereka-lah kami bisa seperti sekarang: mewujudkan mimpi kami bersekolah ke LN (yang bahkan 8 atau 10 tahun yang lalu tidak berani kami impikan!). Saat itu pula Ayah berkata bahwa beliau bangga saya mampu mencapai apa yang tidak pernah dicapainya. Saya terharu.




27 September 2017. Jepang hampir memasuki musim gugur sewaktu kami datang. Angin dingin menggigit sampai terasa ke tulang-tulang. 

"ようこそ、アランとドナ"

Yōkoso, Aran to  Dona!" (Selamat datang, Alan dan Dona!), begitu mungkin anginnya menyapa. Saya harus "berpisah sementara" dengan istri karena istri berkuliah di Tokyo sedangkan saya di Ibaraki. Jarak tempuh antar keduanya kira-kira ditempuh dalam 3 jam perjalanan dengan kereta.


つづく~

-----------------------------------------------

Kamis, 30 Mei 2019

A glimpse of Flower Box

----------------------------------------------------------------------------
Agak lebih berat bagi Muslim tropis seperti saya selain berpuasa Ramadhan di negeri Jepang yang masuk ke dalam Tropic of Cancer pada awal musim panas. Malam gelap hanya sekejap lalu sekonyong-konyong memuntahkan siang dan lagipula siang betah sekali berlama-lama. Tidak kurang dari tujuh belas jam matahari bercokol di langit Northern Hemisphere. Setelah berbuka seadanya dan tarawih, saya belajar sampai larut lalu tertidur karena letih. Terbangun melangkahi subuh. Hanguslah sahur yang penting itu. Sekarang perut serasa ditinju Manny Pacquiao. Sementara puasa telah menginjak minggu terakhir. Daya tahan kian rontok dan daya penciuman makin tajam, bahkan bisa saya cium bau makanan dari ruang makan bersama lab di sebelah. Ganbareee....


Summer, June 1, 2019
JAPAN


Selesai kuliah S-2 dulu, saya teringat, betapa saya sudah banyak “menyebar” surat lamaran kerja ke berbagai institusi. Saya ingat dulu, ketika saya selesai S-1, juga begitu. Ini bagaikan de javu saja cuma beda strata. Kembali saya ke kampung halaman, membantu Bapak saya di toko, mengangkut-angkut karpet, lemari, dan properti-properti toko lainnya. Di keluarga saya, saya mungkin satu-satunya yang tidak punya jiwa berdagang, hanya tahu soal angkut-mengangkut. Perihal angkut-mengangkut ini, terkadang saya kasihan sekaligus heran pada Bapak, usianya sudah memasuki angka 55 pada tahun ini, namun masih kuat soal angkat-mengangkat beban berat. Di kampung halaman, sembari menunggu panggilan kerja, saya melakukan hal yang sama seperti dulu: melamar beasiswa.

Berhari-hari, berminggu-minggu, dan berbulan-bulan saya jalani aktifitas yang sama: ketika masuk waktu sesudah Dhuha, saya membuka toko --- ketika sudah masuk waktu sebelum Maghrib, saya menutup toko.

Ibunda sekali waktu pernah berujar,”Lay, kau pergilah dari rumah”.

“Kenapa begitu, Bunda?”, jawab saya.

“Sudah pekak telingaku mendengar perkataan mulut orang tentang dirimu. Kuliah sudah tinggi-tinggi, akhirnya jadi kuli jua (maksudnya: membantu-bantu Bapak di toko). Pergilah kau merantau lagi, tinggal di sana, jangan dulu kau pulang sebelum kau mapan”, kata Ibunda.

Akhirnya pergilah saya ke Jepang, melanjutkan kuliah. Beasiswa. Mendapatkan beasiswa pemerintah Jepang ini bukan main panjang prosesnya, rumit soal-soalnya, berkeringat-keringat dingin saat wawancaranya. Saya sudah mengerahkan segenap kekuatan dalam  ‘pertempuran’ ini. Biasanya saya berdoa dengan menengadahkan tangan sebatas dada, tapi kali ini demi mendapatkan beasiswa: kedua tangan saya sedekapkan dan saya angkat tinggi-tinggi di atas ubun-ubun kepala sambil berdoa,”Ya Allah… minta tolonglah hamba, ya Allah… minta tolong Engkau luluskan hamba-Mu ini mendapatkan beasiswa… ”. Rupanya orang yang teraniaya itu doanya makbul... hehehe. Alhamdulillah… berkat doa dan dukungan keluarga, pujaan hati (Alhamdulillah, si dia yang dulu calon istri kini sudah resmi menjadi istri, juga berkesempatan melanjutkan sekolah) dan teman –teman terdekat, saya bisa lulus tes beasiswa untuk kuliah tingkat doktoral.   

Masih pula saya ingat pesan Bapak di bandara sebelum kami berangkat bersekolah ke negeri orang. Bapak berkata bahwa beliau bangga saya bisa mencapai apa yang tidak pernah dicapainya. Saya bangga Bapak mengatakan itu karena itu berarti beliau melihat dirinya dalam diri saya. 



Buatlah visi yang mampu menciptakan dirimu menjadi manusia yang luar biasa dan tangguh. Mampu mengatasi semua masalah yang akan menerpa ketika menjalani hidup nanti. Menurut John C. Maxwell, ada empat kelompok manusia yang didasarkan pada visi mereka:
1. Orang yang tidak memiliki visi (Pengembara)
2. Orang yang memiliki visi, tapi tidak mampu mengejarnya sendiri (Pengikut)
3. Orang yang memiliki visi dan mengejarnya (Peraih Prestasi)
4. Orang yang memiliki visi, mengejarnya, dan membantu orang lain melihatnya (Pemimpin)


Rabu, 04 April 2018

Emen Man & the King of masked singer whistled a memory of wind


--------------------------------------------------------------------
Pesan dan testimoni untukmu wahai adikku yang tampan, Alejamaoelaj.
--------------------------------------------------------------------

- Nicholas Syahroni -
-------

Alejamaoelaj, adikku, ingatlah bahwa tidak ada hal yang sia-sia dalam sebuah usaha untuk belajar. Maknailah bahwa setiap tetes keringat akan dibalas-Nya dengan manfaat yang besar di masa depan dan jangan lupa kau bersyukur!

Banyak orang di luar sana yang memimpikan berlelah-lelah dalam belajar seperti ini, tapi mungkin belum berkesempatan... Nikmatilah, maknailah, bersyukurlah... Lelahmu akan hilang seketika kau sejenak beristirahat, tapi ilmu yang kau dapatkan akan kau bawa sampai nanti. Bila kau ajarkan (ilmu itu) maka akan mengalir pula amal untukmu. Apapun disiplin ilmunya, bersemangatlah, tiada ilmu yang tak berharga selama tidak melanggar syariat.

Imam Syafi'i pernah berkata yang di sini aku kutip:"Jika kau tak tahan lelahnya belajar, maka bersiaplah menanggung perihnya kebodohan". 

------
- Bojes Alaudin -
------

Visi hebatnya, kemauannya untuk terus belajar, dan perubahan-perubahan yang terus dilakukannya sudah seharusnya menjadikan segala omongan buruk tentang dia sebagai salah satu cara bodoh untuk membuang-buang waktu. Kemampuan yang paling luar biasa darinya adalah kehendaknya untuk berhasil, mendorong dirinya melampaui keterbatasan, dan tidak pernah menyerah bahkan ketika peluang ditumpuk terhadap dirinya. 

Alejamaoelaj, camkan kata-kata abangmu ini:"Kamu harus cerdas karena kamu dituntut untuk melewati proses seleksi yang memeras otak dan stamina. Cerdas sekedar pintar saja tak cukup. Kamu harus memiliki stamina intelegensia yang hebat dan emosi yang terkendali. Aku pun tak tahu, pencapaianmu ini mungkin benar adalah suatu keberuntungan atau buah dari jerih payahmu, atau memang takdirmu. Tak pahamlah aku!"

Gunakan saja kesempatan ini untuk dirimu agar bisa menjadi orang yang berubah dan berkelanalah! Sejatinya pengembaraan seringkali terbukti melahirkan banyak pengetahuan dan ilmu baru. Pada intinya banyak yang harus kita pelajari. Do it for a reason.

-----------------------------------------------

Menempuh studi lanjut di negara maju seperti Jepang mungkin menjadi cita-cita sebagian besar peneliti, dosen, atau mahasiswa. Tidak lain karena konon Jepang gudangnya ilmu dan tekhnologi, walaupun negara ini pernah 'mundur' dahulunya oleh sebab kalah perang. Kecuali itu sistem pendidikan di Jepang dirasa cocok dengan tradisi pendidikan di Indonesia. 

Pertengahan tahun 2017, Alejamaoelaj memperoleh beasiswa untuk studi program doktor di Jepang. Beasiswa sebesar ¥146.000-148.000/bulan terasa besar sekali, bagi orang miskin seperti dia. Karena terbiasa hidup sederhana, semangat berhemat pun tertanam dalam dirinya. Setiap minggu Alejamaoelaj mengusahakan agar berbelanja bahan makanan sehemat-hematnya untuk beras, sayuran, telur, daging halal, ikan, dan buah. Setelah dikurangi biaya sewa tempat tinggal (apato), membayar listrik, air atau gas, serta asuransi, Alejamaoelaj masih bisa mengirim sisa uang beasiswa untuk orangtuanya dan istrinya yang juga sedang berkuliah di Tokyo. Walau terpisah kota namun nafkah untuk istri harus tetap dilaksanakan meski bersua istri hanya beberapa kali dalam sebulan. Meski miskin sebenarnya hidup Alejamaoelaj cukup makmur karena di apato tersedia perabot yang kalau di Indonesia hanya dipunyai keluarga berkecukupan seperti kulkas, kompor listrik, AC, mesin cuci, microwave dan shower mandi air panas/dingin.








Di Mito, setiap hari Alejamaoelaj disesaki ilmu-ilmu baru dan --- karena itulah --- terhuyung-huyung mengejar ketertinggalannya. 茨城大学, Ibaraki Daigaku - Ibaraki University - Universitas Ibaraki,  salah satu universitas di negara Jepang, universitas negeri dengan reputasi cukup mentereng dan belum cukup terkenal tapi di sanalah Alejamaoelaj menuntut ilmu biologi serangga-nya di bawah bimbingan Jun-ichi Kojima, profesor enerjik yang amat terhormat. Hanya ada sekitar tujuh profesor dengan spesialisasi social insect of Vespidae (tawon sosial) di dunia, Kojima-sensei salah satunya, dan salah satu yang terbaik. Alejamaoelaj bertekad untuk sungguh-sungguh memanfaatkan kesempatan ini.  

Universitas Ibaraki menawarkan padanya sebuah petualangan intelektualitas dengan kemungkinan dan kesempatan yang amat luas. Dia datang duduk menyimak kuliah dan membaca publikasi ilmiah di perpustakaan dan di lab selama masing-masing dua jam tapi pengetahuan yang didapat senilai kuliah satu semester waktu di tanah air. Di saat mahasiswa-mahasiswi Jepang mem-presentasi-kan paper penelitian yang berbobot dan berkualitas tinggi, Alejamaoelaj hanya diam: antara menyimak dan tidak mengerti sama sekali (inilah salah satu efek tidak diberi ASI ketika bayi). Secara terpaksa, dapat dikatakan bahwa dia menyerap ilmu filsafat, evolusi, biogeografi, dan filogeni sekaligus, dan Al-Biruni (Bapak Bumi Bulat) pasti mengatakan Alejamaoelaj menyerap begitu banyak pelajaran dalam satuan waktu yang relatif singkat. 

Selama beberapa bulan menetap di Jepang, Alejamaoelaj memerhatikan bahwa budaya di Jepang dan Indonesia begitu berbeda, apalagi soal kepercayaan. Orang-orang Jepang memang percaya adanya Tuhan, tapi mereka tidak punya menjalankan agama (agnostik). Sebagian malah atheis. Yang dipikirkan (mayoritas) orang Jepang hanya bagaimana menjalin relasi dengan banyak orang, tanpa memikirkan bagaimana caranya membangun hubungan dengan Tuhan. Mereka --- orang-orang Jepang itu --- memang tampak berhasil secara sosial tapi sebenarnya gagal secara individu. 






----------------------------------------------------------------


Sempat tidak percaya, bagaimana bisa seorang Alejamaoelaj yang biasa-biasa saja mampu mendapatkan kesempatan luar biasa ini, bersekolah ke luar negeri, ke Jepang. Saat kuliah S-1 dan S-2 saja dirinya hampir selalu gagal mendapatkan beasiswa, pun bukan termasuk kategori mahasiswa yang berprestasi, bahkan sering sekali di-underestimate-kan, tetapi bisa juga sampai ke Jepang. Namun setelah sampai di Jepang, Alejamaoelaj semakin sadar kalau dia masih perlu banyak belajar dan Jepang bukanlah akhir dari tujuan. Studi di Jepang hanya salah satu bagian untuk mencapai tujuan itu.



Jikalau ditanya tentang kesan dan nilai apa yang sekarang tertanam pada Alejamoelaj setelah sampai di Jepang yaitu yang pertama mungkin adalah makin percaya diri. Alejamaoelaj merasa makin yakin bahwa tidak ada yang tidak mungkin atau impossible. Kalau ada keinginan dan usaha (keras), jangankan kuliah di universitas di Jepang, kuliah di kampus terbaik Dunia-pun adalah hal yang sangat mungkin. I'm possible.

Menurutnya, budaya Jepang yang perlu dicontoh adalah kedisiplinan. Alejamaoelaj merasakan kalau secara kemampuan berpikir, orang Indonesia tidak kalah dengan orang Jepang, bahkan bisa jadi orang Indonesia lebih cerdas dalam menyelesaikan masalah. Tetapi orang Jepang sangatlah disiplin dan gigih dengan apa yang mereka kerjakan. Terutama soal waktu, mereka sangat menjunjung tinggi disiplin waktu. Alejamaoelaj tidak bilang kalau kehidupan di sini lebih baik dari Indonesia, sama sekali tidak. Alejamoelaj hanya bilang kalau kehidupan di sini berbeda. Terutama tentang ritme kerja yang lebih cepat dan lebih lama dibanding di Indonesia.


"Saya terbiasa mengecek dua kali dalam satu siklus proyek atau penelitian, di titik yang sama. Ini bukan karena kurangnya ‘trust’, tapi sebaliknya untuk memotivasi agar bisa dikerjakan tepat waktu,” katanya tanpa ditanyai dan tanpa ada korelasi.


Selain itu, kerja keras juga salah satu nilai yang Alejamaoelaj coba tanamkan ke dirinya sendiri. Dia sadar diri, kalau dari segi kognitif, Alejamaoelaj jauh tertinggal di bawah teman-temannya yang lain, tetapi dengan usaha yang lebih keras, Alejamaoelaj bisa membalikkan keadaan. Alejamaoelaj bisa mengejar orang-orang yang jauh lebih pintar melebihinya. "Tidak ada yang tidak mungkin bagi orang yang mau berusaha", kata Ibu Alejamaoelaj suatu kali.



"Saya merasa keilmuan di bidang saya masih sangat sedikit sedangkan tantangannya sangat banyak. Maka dari itulah saya berharap bahwa dengan berkuliah di luar negeri saya bisa mendapatkan banyak insight dengan sudut pandang yang berbeda-beda tentang bidang keilmuan saya mengingat kesempatan saya untuk berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai negara pun terbuka lebar. Hal kedua yang memotivasi saya untuk berkuliah di luar negeri adalah kesempatan saya untuk dapat mempelajari nilai-nilai kehidupan yang mungkin akan lebih banyak saya dapatkan ketika saya berada di luar zona nyaman saya (Indonesia). I am going to study at Ibaraki University for three years from now on. When I entered the college, I actually never thought about going abroad.  However, when I discussed with international students, I felt that I want to be in an environment where I can challenge myself and grow, and eventually decided to pursue study abroad".

"Sistem perkuliahan di sini sejujurnya tidak jauh berbeda dengan di Indonesia baik itu suasana belajar di kelas maupun ujiannya. Mungkin yang membedakan dengan di Indonesia terletak di porsi risetnya. Di sini porsi riset lebih banyak dibandingkan dengan kuliahnya (jika ada kuliah). Sebagai contoh dalam satu minggu saya bisa saja hanya memiliki satu kelas namun bukan berarti saya bisa pulang setelah kelas berakhir. Saya masih harus menghabiskan waktu saya di student room/laboratorium minimal 8 jam dalam sehari", ujar Alejamaoelaj saat diwawancarai salah satu reporter majalah anak-anak BOUBOU. 

Lebih dari itu semua, hal ini bisa ia lakukan karena kecintaannya terhadap sains. “Sains itu dasar ilmu. Sains membantu ilmu hilir lain untuk kuat. Kalau mengerti sains, bisa belajar apa saja", kata Alemaoelaj. Kali lain dia pernah berujar:"Biarlah saya menjadi batu pijakan agar orang lain lebih maju, agar lebih termotivasi, (dengan melihat) bahwa saya saja ---bodoh begini--- bisa, apalagi kalian-kalian yang lebih pintar dari saya! Itu".





my Kawasaki NINJA 400 ;^P



@berkuliah.com
-----------------------------------------------------
oleh : @rifnatakusumah a.k.a Arif (wartawan majalah BOLA, diangkat sebagai abang oleh Alejamaoelaj karena neneknya bang Arif dengan neneknya Alejamaoelaj adalah sama-sama nenek-nenek)

Tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan tanpa usaha dan keyakinan. Itulah yang gw percayai setelah gw terkagum-kagum pada satu klub sepakbola. Menjelma menjadi resolusi hidup dan merupakan bukti bekerjanya proses yang benar dalam metamorfosis sebuah kesuksesan. Pada keberhasilan klub sepakbola dari Liga Inggris Swansea City yang menjuarai Piala Liga Inggris yang dihelat tahun 2013.
Padahal, adakah yang kenal pada Swansea City FC sepuluh tahun sebelumnya? Tanpa perubahan, pengorbanan, dan kesabaran, rasanya mata dunia kini tidak akan menoleh pada klub sepakbola yang markasnya ada di selatan Wales ini. Tanpa keberanian menempatkan the right man on the right place, rasanya mustahil mereka bisa sukses sembari bermain enak ditonton.
           Klasemen akhir 2002/03 jadi saksi siapa Swansea, klub yang berusia seratusan tahun lebih. Saat Manchester United menjuarai kasta pertama, Portsmouth lolos ke Premier League usai menjuarai Championship, alias Divisi Satu. Di kasta kedua dari piramida sepakbola Inggris tersebut, sebagai info, nangkring Bradford City di posisi 19. Untuk menegaskan perbandingan, waktu itu Reading bercokol di posisi empat, Norwich City delapan, dan Stoke City di urutan 21!
            Pada saat yang sama, Wigan Athletic juga promosi dari Footbal League One, alias Divisi Dua alias kasta ketiga. Di kasta keempat atau Divisi Tiga atau League Two, Rushden & Diamonds menjuarai liga dan lolos promosi ke League One. Swansea City juga berada di kasta ini dan berada di urutan ke-21! Mereka mujur tak terdegradasi ke Conference National, alias Divisi Empat, alias kasta kelima.
            Jika ditarik garis lurus maka sepuluh tahun sebelumnya, posisi Swansea City itu berselisih 88 level dari Chelsea, yang mereka kalahkan sebelumnya di semifinal  Piala Liga. Kini tengok yang tengah terjadi pada 2012/13. Portsmouth ada di dasar jurang League 1. Bradford di urutan sebelas League 2. Reading, Norwich, Wigan, dan Stoke juga berada di Premier League, tapi semua posisi mereka di bawah Swansea.
            Di dalam sepuluh tahun, Swansea telah memangkas 82 tingkat lantaran sekarang selisih dengan Chelsea tinggal enam level saja. Lalu, apa kabarnya Rushden & Diamonds, juara League 2 di saat Swansea nyaris terdegradasi saat itu??? Gw beritahu: telah almarhum! Pada Juni 2011, The Diamonds divonis FA tidak layak mengikuti kompetisi karena bangkrut.
            Betapa jauh The Swans telah melangkah. Sampai sejauh ini. Bukan main. Dari bukan siapa-siapa menjadi kampiun piala liga. Tentu, semua diraih karena menempatkan the right man on the right place, menempatkan seseorang yang menyuntikkan energi yakin pada tiap diri pemain. Karena keyakinan dapat meruntuhkan segala ketidakmungkinan.



Selasa, 03 Oktober 2017

mamammia

-----------------------------------
Saat saya akan masuk ke dalam lab Kojima, saya melihat ada daftar mahasiswa yang menjadi anggota lab. Saat itulah saya melihat nama saya tercantum dalam daftar mahasiswa doktoral (D1 = doktoral tahun pertama, D2 = doktoral tahun kedua, dan D3 = doktoral tahun ketiga). Saya berkata dalam hati, “Ooo… saya sudah menjadi anggota lab, meski belum resmi diterima dalam ujian masuk universitas. Aneh juga ya?”

I am still nothing. A lot more people better than me. I do not want pride and do not need it. I chose to study at the Ibaraki Univ. It is nothing to do with university ranking. It is less relevant if your study is more about conducting research project, find something new and gaining your scientific interest than attending classes. Most of all, to tell the truth, I am a big dreamer.
 
Bodoh itu adalah musibah dan obatnya adalah belajar. Tapi musibah yang paling besar adalah orang bodoh yang suka berdebat, buruk adab dan merasa berilmu.
Bagi dia, Alejamaoelaj adalah seorang yang cerdas dan selalu mempunyai keinginan untuk belajar.


The beauty of words part 1 ###

Life is already hard as it is, why do I need to do that and this had nothing to do with me? Just because you put it there does not mean I have to go through it. We all have our dreams. That is the path we should take. We overcome the barriers to our dream; we do not overcome the barriers that other people put to make it hard on us.

You did whatever you possibly could whether you failed or not. Just talked about trials and errors, but did not give up!

I am sure after 3 years stay in Mito, my body will get adaptability to much wider temperature and humidity range.

I belong to 1% of the population that has never seen a single episode of Game of Thrones. Poor me.

When specimens are used for scientific research, their value could be increased.

Attack wins your game. Defense wins your titles.

To put this fact in perspective, if Japanese student was only 24 hours old, then I have only been on the campus for five minutes.

To Flat Earth Society, it is no use to debate with them. Because the whole purpose of their debate is to convince people to join them.
----------------------#'##
The beauty of words part 2

No matter happened or bad what it seems today, life goes on and it will be better for tomorrow. Most days, I just caffeinate and then hope for the best.

There's a reason some people think they can do anything. They listened to their mothers!

You are so cute/dummy, not even knowing that someone was staring at you. You only thinking of what you want to say, not of the person you are speaking to.



-----------------------------------


"Yang penting saat itu mikirnya kita harus punya karya, karena karya itu peninggalan, kalaupun kita udah tidak ada nantinya, setidaknya karyalah yang akan dikenang. Jadi uang yang kita dapat dari bekerja, kita gunakan untuk berkarya. Terlepas orang akan suka atau tidak, yang penting berkarya saja dulu” - Alejamaoelaj

Aristotle juga pernah bilang, "A man can only be a real man, if he is master of art, public speaking, and war", dan saya mencoba melengkapi tiga hal itu melalui apa yang saya jalani. Bermusik, (akan) mengajar, dan (akan) berlatih beladiri.

Winter almost close, you practically about to heat in the room. Yesterday was the day you never waiting for. Even as if you can stop the clock ticking, but you will never. To see the days that do not come up without any sunshine, with the whole unready. Just when you wake up in the morning, take a massive smile you have ever had and lived your life to the fullest.


---------------------------------------------------

Minggu, 03 Juli 2016

Borborygmus





NEVER FORGET the 3 TYPES of people in your life
1. those who HELP you in difficult times
2. those who LEAVE you in difficult times
3. those who PUT you in difficult times




---
Alejamaoelaj berusaha agar tidak terjangkit penyakit jiwa miskin. Karena ketika kemiskinan tidak lagi jadi gejala, maka sangat wajar ketika krisis datang ada lima status merah yang akan disandang. Pengangguran akan bertambah, kriminalitas akan meningkat, perceraian akan membuncah, Rumah Sakit Jiwa akan kelebihan kuota, dan jumlah orang yang bunuh diri akibat frustasi akan merangkak naik.


Persembahkan yang terbaik pada semuanya. 
Belajarlah untuk baik sangka pada semuanya. 
Selebihnya, pasrahkanlah semuanya pada Allah. 
Tak usah terlalu bangga ketika dipuja, tak usah terlalu sedih jika disia-siakan. 
Sebagaimana bulan muncul pada malam hari, matahari muncul siang hari. 
Matahari terbit pagi hari di arah timur dan tenggelam sore hari di arah barat. 
Semua ada waktu dan tempat secara bergiliran.  
Ingat! 
Siapa bersungguh-sungguh akan sukses!
-------------------------------------------------------------------------------------------