Senin, 22 Agustus 2022

Dopamine attack good

 "Setelah punya gelar Doctor (PhD) terus pulang mau bikin apa?"


Bahwa gelar akademis seseorang tidak ada pengaruh pada kemampuan untuk bertahan hidup alias menciptakan kesejahteraan bagi dirinya dan keluarganya. Singkatnya: pergi jauh berkelana kuliah -> mengerjakan disertasi di bawah tekanan -> ditambah pula pandemi melanda -> pulang bawa ijazah, tidak tahu mau bikin apa -> lalu daftar sembarang kerja kanan-kiri, kalau beruntung dapat kerja, kalau tidak, kemudian menganggur (sigh!). Orang bilang, setidaknya dengan bergelar tinggi maka akan tinggi pula kesempatan hidup dengan layak.

Sewajarnya bahwa bergelar doktor harus juga dibarengi dengan kemampuan kewirausahaan, karena tentunya itu akan membantu para pemegang titel akademis ini untuk menciptakan kesejahteraan bagi dia dan keluarganya. Berjualan sate ayam pinggir jalan, membuka toko pakaian, on-line shop, ojek onlen, jasa sewa motor, buka warung pecel lele & pecel ayam, ternak puyuh, ngangon sapi, bertani porang, beli saham pabrik nikel, misalnya. 
ち く し ょ う


<from: google. com>

Intermezzo, faktanya: empat setengah tahun berjumpalitan belajar sampai kepala pening dan mata terasa juling, tiga tahun jungkir balik banting tulang mencari beasiswa yang ditanggung penuh, itupun belum dihitung sewaktu tunggang langgang mencari profesor-profesor yang sudi menerima mahasiswa. Namun setelahnya, setelah kembali ke Wakanda: bahkan menjadi tukang parkir pun tak ada yang menerima. Sementara di Jepang sana, saya bertanggung jawab dan punya wewenang penuh menggunakan instrumen-instrumen penelitian bernilai multijutaan yen dengan kebebasan akses masuk ke database penelitian. Sedangkan 'nun jauh di Wakanda', duduk bedebah-bedebahh yang ada orang tuanya sampai rela menggadaikan SK demi bisa meminjam uang untuk dipakai menyuap pejabat korup supaya anaknya lolos PNS. Saban hari si bedebah itu terlihat menyetiri mobil melintas di depan rumah, melengos melihat kawan yang 'dihimpit nasib'. Menyesakkan, dikalahkan oleh nepotisme orang berduit!!! Vaffanculo.


source: instagram. com



Pelajaran yang dapat dipetik adalah: menjalani dan menikmati proses hingga memperoleh gelar doktor tentunya adalah sebuah investasi yang baik yang tidak akan sia-sia. Anda akan memiliki pola berpikir tajam dan matang. Akan tetapi, jangan membatasi diri.

by: Sirajudin

Sabtu, 25 Juni 2022

Kuramae West and Youth Ueno journey

Alhamdulillah, istri saya telah diwisuda (23 Maret 2022, tepat satu tahun dengan tanggal saya wisuda) di Building 1 room 107 Tokyo Metropolitan University, Minami Osawa campus, Hachioji city, Tokyo, Jepang. Perjuangannya empat setengah tahun!!! Kami menginjakkan kaki di bandara Haneda tanggal 27 September 2017 di waktu Jepang baru memasuki musim gugur. Suhu di luar ruangan bisa sampai 10° C saat itu. Kemudian segera setelahnya hari-hari dilalui berjibaku dengan aktifitas riset: pergi ke kampus jam 9 pagi - bekerja di lab sampai jam 5 sore - kadang harus lembur sampai jam 11 malam - pulang ke apato. Saat weekend, kami berdua biasanya saling mengunjungi karena saya dan istri berbeda universitas. Tidak terasa kami sekarang sudah lulus dengan menyandang gelar Ph.D. --yang bahkan duluuuu sekaliii kami tidak 'berani' memimpikannya! 😂

Namun sebelum benar-benar "angkat kaki" dari Jepang, kami (saya) harus tinggal di hostel karena saya harus isolasi mandiri sebelum pulang ke tanah air. Bukan main! Kami harus berpindah-pindah penginapan dengan membawa tiga koper Samsonite. Menjeret-jeretnya di belantara hutan beton Tokyo. Lelah sekali. Tapi tidak mengapa, sebab pengalaman ini akan terus kami ingat; pengalaman susah senang ini akan kami ceritakan ke anak-anak kami di masa depan. Aamiiin


kota Tokyo [Shinjuku] (source: google. com)


________________________________


Setelah bermacam kesulitan selama menempuh kuliah doktoral, apakah semua yang ada di dunia ini masih terlihat menakutkan?

Setelah direnung-renungkan, bukankah pendidikan yang telah saya tempuh ini bisa dikatakan tidak buruk?


Rabu, 14 Juli 2021

Open your eyes, tell me your own politic

Sebagai anak kampung yang lahir di Kerinci ---sekepal tanah Surga yang tercampak ke bumi--- dan menuntut ilmu di Padang, saya awalnya menikmati keseharian hidup di Mito, prefektur Ibaraki, Jepang selama menjadi research student (6 bulan (Oktober 2017-Maret 2018)). Saya tinggal di asrama mahasiswa internasional (国際交流会館- kokusai koryu kaikan) yang memang diperuntukkan bagi mahasiswa asing dan beruntungnya saya karena sebagai penerima beasiswa MEXT, maka tidak perlu repot pindah kaikan pada tahun kedua-ketiga perkuliahan. Selama magang itu, saya mencoba mengenali sistem kerja dan pembelajaran orang-orang Jepang ini sebagai bekal memulai perkuliahan yang sebenarnya yang dimulai April 2018.  Per enam bulan pertama itu saya diliputi rasa tidak percaya bisa tinggal di negara yang saya impikan. Tapi semua itu berubah setelah Negara Api menyerang saya dipukul kenyataan bahwa kemampuan akademik saya tidak mencerminkan seorang penerima beasiswa MEXT. Di situ seteres mulai muncul. Ketika udara makin dingin dan sinar matahari mulai redup imbas pergantian musim, stres itu makin menjadi. Pelaporan riset yang saya susun tiap bulan saat seminar mingguan terkerjakan, tapi hasilnya bisa dibilang sangaaat sedikit. Tiga huruf 'a' berjejer pada kata 'sangat' itu merupakan penegasan. Sampai-sampai sensei saya pernah bilang:

Tolong bekerja lebih keras lagi jika kamu benar-benar ingin lulus dari universitas ini, Aran.”

 


Foto: pohon berselimut salju di depan kos istri di Tokyo, Februari 2018 (dok. pribadi)


Beruntung ---saya selalu merasa beruntung dan mencari celah keberuntungan dari setiap kesukaran--- saya ditemani istri selama berkuliah, jadi tidak perlu sedih-sedih. Kebiasaan orang Jepang yang jarang berinteraksi dengan orang lain dan hidup dalam kesunyian tidak membantu sama sekali --kalau pun ada secuil-- karena saya perlu bertanya sana-sini pada senior mengenai riset saya. Terlebih lagi orang-orang Jepang ini sangat sedikit yang paham bahasa Inggris (hanya yang kuliah yang cukup cakap berbahasa Inggris, ya salah sendiri kenapa berbahasa Inggris di negeri Jepang!?), jadilah saya hanya berinteraksi dengan Sensei, melulu dengan sensei. Memang ada teman satu ruangan, ---tahun pertama ada: Konno (Master tahun 1), Tsukada dan Kitazawa (Undergraduate tahun 4), tahun kedua: Konno (M2), Hanawa dan Tojo (U4), tahun ketiga: tidak ada teman satu ruangan (mereka work from home) karena wabah melanda, kecuali saya yang diberi kebebasan mengakses lab, ruang spesimen, dan ruang belajar sebagai mahasiswa doktoral tahun terakhir yang dituntut segera publikasi dan mengikuti konferensi!--- tapi mereka tidak banyak membantu.


Pergi keluar dan melihat sisi lain Jepang adalah jalan keluar. Daripada bosan dengan rutinitas yang itu-itu saja. Orang-orang Jepang ini workaholic. Mereka benci hari libur. Saya membenci hari kerja, wkwkwk. Diberi pun jatah libur atau cuti kerja, mereka tetap akan masuk kerja. Halah!

 

Foto di taman Kairakuen bersama istri, Diyona.




Kesimpulan:

1. Tetaplah bersemangat. 

2. Jaga kesehatan baik-baik.

3. Banyaklah baca buku dan/atau baca situasi.

4. Pemerentah negara Wakandaa itu hanya sekumpulan orang2 yang mikir untuk perutnya sendiri & perut anak bininya. Kenapa takut sekali dengan nenek-nenek janda yang hanya mendompleng nama bapaknya? Inilah akibat terlalu sering berdebat dengan orang-orang ...tiiiiiit SENSOR.... sehingga punya banyak waktu untuk meng...tiiiit SENSOR... .

5. Cita-cita berubah: presiden ke-11 Power ranger merah asal kau bahagia.


Minggu, 30 Mei 2021

Brother at your side

Mungkin orang akan menjawab bahwa dengan kuliah di Jepang, kita akan mendapatkan ilmu yang lebih luas. Nyatanya saya tidak.


Ilmu tentang bidang saya, saya dapatkan sedikit. Kenapa? Karena saya Nihongo zenzen tabenai (translasi: Tidak bisa ‘termakan’ bahasa Jepun) alias saya tidak mahir berbahasa Jepang.


Namun terlepas dari kendala bahasa yang terbata-bata, di Jepang saya bisamendapatkan fasilitas yang luar biasa untuk ilmu. Misalkan saja, akses ke jurnal-penyedia paper ilmiah gratis,penggunaan alat laboratorium yang bebas tapi bertanggung-jawab, dan biaya-penelitian yang sepenuhnya ditanggung universitas. Tiga akses penting itulah yang kita belum bisa dapatkan secara cuma-cuma di Indonesia.


Kemudian, beasiswa di Jepang itu cukup besar. Bisa membantu orang tua kalau kuliah di Jepang. Pun untuk yang arubaito (bekerja paruh waktu), kadang gajinya lebih tinggi dari pekerja full time di Jepang, dan itu tanpa pajak. Tapi, biaya hidup di Jepang juga besar, maka itu berbanding lurus, sehingga kita harus banyak berhemat jika kita ingin menyisihkan banyak uang.

Dari sinilah, kita mempunyai banyak keuntungan belajar bagaimana bertahan hidup dengan serba keterbatasan. Terbatas uang, terbatas keluarga (untungnya saya sambil ditemani dan menemani istri selama di sini), dan terbatas bahasa.heheeh

Selain itu, selama berkelana di tanah Jepang, saya dan istri bisa mengunjungi tempat-tempat wisata, budaya, wisata kuliner halal, ke museum spesimen, dll. (Tujuannya) Untuk melihat negeri "ini". Untuk berbelanja semangat. Agar setidaknya diri saya sendiri tidak malas dan tidak mudah berdalih (karena kok bisa ya negeri kita yang SDA-nya buuuanyak bisa kalah dengan negeri 'ini', miskin SDA). Ya semua itu pakai biaya sendiri, eh...beasiswa. Bukan dari pemerentah Wakanda ehh...India...ehk. Tidak bisa pula dipungkiri jikalau saat mem-posting foto-foto di IG atau pesbuk maka netijen-netijen akan nyinyir berkata:”jalan-jalan mulu…”. Saya beritahu: postingan itu hanya segelintir part of happiness yang saya bagikan, sedangkan banyaaaaaaaak sekali part of sadness yang tidak saya bagikan. Lagian kagak ada manfaatnya posting yang sedih-sedih. Saya sebisa mungkin hanya mmbagikan post beraura positif, aura bahagia saja,.



--------------------------------------------------------

Pada akhirnya kita akan selalu mencari ketenangan. Menikmati waktu, me time semaunya. Berkumpul dengan orang-orang terdekat, keluarga. Tidak terikat oleh apa pun. Dan kapitalisme tidak akan membiarkan hal itu karena kapitalisme akan membuat kita kehilangan waktu yang banyak, bahkan kurang tidur! Ujung-ujungnya nanti akan bermuara pada uang! Jikalau matahari sebagai inti SDA, maka uang adalah inti SDM. Tapi kita perlu uang untuk hidup. Di sinilah ironinya.


Maka kita perlu menyadari dan kembali ke tujuan akhir: untuk bahagia dan bebas. Tentu ‘ini’ hanya bisa enteng diucapkan oleh orang yang sudah ‘merasa’ mendapatkan apa-apa yang dia inginkan dan dia cari. Tentu ‘ini’ akan bermuara pula pada kesyukuran.


_-----------------------------------------


Saya punya satu mantra, yaitu:


Mereka (kamu) boleh pintar, saya (kita) tidak boleh bodoh".


Mantra yang saya beri tanda kutip itu baiknya dipegang oleh siapa saja. Jangan pernah salahkan mereka yang pintar itu. Tapi kita juga harus ingat: kita jangan bodoh! Mantra ini saya wariskan dari sensei saya dulu. Waktu itu konteksnya beliau membicarakan bahwa wabah ‘ini’ harus dirunut baik-baik, dari mana asalnya, bagaimana dan mengapa bisa terjadi. (Berita) Jangan ditelan bulat-bulat. Tidak semua yang kamu dengar itu benar tapi semua yang benar harus didengar. Sensei juga bilang:"This pandemic did not broke a system. It exposed a broken system".


Meski sudah lebih setahun ‘menderita’, tetap saja generasi yang sekarang lebih beruntung dibanding generasi yang lalu: menderita berkepanjangan. Dulu ada perang dunia pertama (1914-18). Disusul pandemi flu Spanyol (1920). Kemudian depresi ekonomi dunia. Disusul perang dunia ke-2 (1939-45). Beruntunglah yang lahir setelah tahun 1965. Tidak pernah ada gejolak besar – kecuali gejolak di hati masing-masing.



-----------------------------------------------------------------


As retirement is a time for feeling luck and glad to be alive


I would like to express my heartfelt and my deepest sympathy for the retirement of Prof. Jun-ichi Kojima (Kojima sensei) of Graduate School of Science and Engineering, Ibaraki University. During my study under his supervision in Japan, Kojima sensei always supervised the whole work eagerly, advised critically and gave constructive comments on my research and thesis. He has a warm heart, constant encouragement and keen interest throughout this study. As for his retirement, I think Kojima sensei deserves the best retirement ever because of all dedication and hard work. I am so grateful to have met him and learned from him. Moreover, I regarded Kojima sensei as my father in Japan. Hopefully Kojima sensei’s retirement is perfectly grand with lots of good luck.


----------------------------

Alan Handru (32 y/o - Indonesia), Doctoral student, Major in Complex System Science, Graduate School of Science and Engineering, Ibaraki University (class of 2018).

----------------------------

Kamis, 08 April 2021

japan tateyoko part 2

Juni, 2017. Teringat saat menerima kabar melalui e-mail itu, bahwa saya lulus beasiswa itu ---yang saking senangnya saya mendapat kabarnya di sore hari bulan Ramadhan 1438 H, adik saya memanjat-manjat punggung saya, sampai kami terjengkang ke belakang sama-sama---, bersyukur kehadirat Allah SWT karena Dia tahu, tentu melalui doa sepanjang usai sholat, bahwa saya butuh pertolongan: wajah ini penuh dengan siratan “penderitaan”, hehehe. Seberes pengurusan visa student dan pengurusan dokumen penting lainnya, satu hal lagi yang harus dibereskan: menikah. 


11 September, 2017. Teringat, waktu penghulu membimbing saya untuk akad nikah, baru satu-dua kata penghulu bersabda langsung saya sambar. Cepat sekali, macam tukang dadu cangkir menyambar duit lima ribu. Saya mengucap akad sekali saja, cerdas, fasih, dan lancar. Salah seorang kerabat bertanya bagaimana bisa begitu hebat.


“Saya sudah hapal ucapan nikah pada Dona sejak kami tingkat akhir kuliah pasca sarjana”, jawab saya dengan tenang. Itu berarti dua tahun sebelum pernikahan dilangsungkan.


April, 2018. Pertama kali perkuliahan dimulai. Semua dimulai dari nol, dari yang tidak tahu apa-apa sampai sekarang juga belum tahu apa-apa. Mudah2an yang saya lakukan ini adalah juga dihitung sebagai cara saya “mencicil” untuk membahagiakan orang tua. Aamiiin.


Maret, 2021. Setelah perjuangan nan panjang berliku tajam, akhirnya… yattaALHAMDULILLAH…. Saya lulus kuliah tingkat doktoral. Syukur kehadirat Allah SWT. Berkat doa dan dukungan dari istri tercinta (semangaat sayaang… ❤☺), kedua orang tua, keluarga besar, dan lain – lain. Tidak lupa, saya sangat berterimakasih pada guru-guru saya yang telah mengajar, membimbing dan menunjukkan patok-patok jalan untuk sampai meraih ekspektasi; yang menunjukkan dari sudut-sudut mana saja saya harus mulai mendaki, sehingga dengan begitu saya bisa memetakan peluang, akan menjadi apakah saya: sebagai akademisi, peneliti, konsultan ataukah decision maker?





"He ends up a crossroad. Unsure of where to go next the rest of his life wide open to be explored in any direction he chooses. Let see."

-----------------------------------------------------------------------

Dia tak pernah takluk menghadapi kenyataan bahwa dirinya selalu diremehkan atas keadaan, dicurangi oleh lawan bahkan kawan. Dia itu bagai huruf nun (ن) mati diantara idgham bigunnah: ada tapi dianggap tidak ada. Walau berkali-kali dibohongi atau diperlakukan secara tidak adil oleh lingkungan tapi dia selalu beruntung, karena dia baik hati.” 

--- Buya Yahni, guru ngaji Mesjid Al-Akbar. 

-----------------------------------------------------------------------

I want that feeling. The feeling that comes over from a man when he gets what he most desired”. 
-Kumar, direktur pabrik baja (2004)-


“Semakin banyak orang yang mengakui kemampuanmu, semakin banyak pula orang yang memusuhimu atau yang ingin memanfaatkanmu. Kau harus siap mental! Camkan itu, bro”.
-Chan Maekawa, pengajar kung fu kuil Dairin (2010)-


“Sejak sampai di Negara ini, di kota metropolitan dunia ini, dia terus tercengang-cengang. Kalau untuk meluaskan pandangan, wawasan dan pengalaman seperti kata Ayah-nya, ini betul-betul di luar dugaan. Tapi tak enak juga kalau tercengang terus, mulai sekarang harus siap untuk tidak tercengang lagi”.
-Badrun-


“Saya menyadari kalau saya tidak cemerlang di sekolah. Namun saya memiliki tekad, semangat dan cita-cita tinggi. Saya ingin menjadi orang yang tangguh, pantang menyerah dan pekerja keras. Saya ingin menjadi orang yang dapat menerima pukulan paling keras, lalu bangkit dan terus bergerak maju”.
-kang cilok depan gerbang SD Pertiwi-

-----------------------------------------------------------------------

つづく

Rabu, 09 Desember 2020

di Storia Naturale del evolution

Untuk sampai di titik ini, di ujung masa studi, saya harus bersusah payah mengerjakan riset; pontang panting dalam membagi waktu antara Tokyo - Mito untuk mengunjungi istri tercinta karena kami berkuliah di kampus berbeda; begadang hingga larut malam untuk mengobservasi spesimen di bawah mikroskop sampai-sampai badan terasa penat karena masuk angin. Namun, saya puas dan tidak gentar walau ujian disertasi menghadang di depan mata! Ini sama sekali bukan karena saya pandai, bukan, bukan, sama sekali bukan… melainkan karena saya telah jauh-jauh hari --- bahkan sudah sejak awal musim gugur --- menyiapkan diri untuk sidang ini. Saya bersusah payah agar, setidaknya, bisa lulus dengan nilai cukup. hehehe

Pernah saya tanyakan perihal mahasiswa terakhir bimbingan Profesor Kojima kepada salah seorang kolega beliau, seorang associate professor yang dulu juga mahasiswa bimbingan Kojima-sensei: Morooka-san. Dengan rasa percaya diri yang overvalued, saya tanyakan:

“Morooka-san, jika tidak berkeberatan, tolong beritahu saya bagaimana kesan Kojima-sensei tentang saya? Maksud saya, karena saya adalah mahasiswa terakhir bimbingan beliau sebelum beliau masuk masa pensiun, apakah Sensei tampak senang?”

Morooka-san menatap saya lama. Lama. Mungkin dia mencari kata-kata yang pas untuk menjawabnya, lalu dia melengos seperti gaya orang pasrah berkali-kali tlah kehilangan sandal di masjid sambil menghela nafas agak berat. Saat itulah saya mahfum bahwa Kojima- sensei tidak terlalu bangga pada saya.

Biarlah tak bangga, namun saya sudah bertekad agar Prof. Kojima ---yang sudah saya anggap sebagai ayah saya selama di Jepang--- pensiun dengan satu kenangan nan elok tentang saya. Satu kenangan yang manis untuk menutup tiga puluh lima tahun pengabdiannya sebagai dosen Ibaraki Univ. Ganbaru!




-----



Jumat, 22 Mei 2020

japan tateyoko

----------------------------------------------------------------------------

Sebagian besar orang berpikir bahwa Jepang adalah pusat futuristik yang menakjubkan yang menampilkan teknologi paling mutakhir. Hal ini mungkin terjadi beberapa waktu yang lalu, namun saat ini Jepang ---setidaknya menurut pengamatan saya setelah tinggal di Jepang--- terlihat agak tertinggal di bidang tekhnologi. Cobalah berjalan di kawasan modern Tokyo dan kita akan menemukan jawabannya. Semuanya terasa seperti tahun 90-an, pun di Mito tempat saya bermukim. Tidak dipungkiri Jepang pernah menjadi cikal bakal penemuan tekhnologi baru, tetapi setelah menikmati puncak teratas yang mereka miliki, sejak itulah mereka tertinggal (Bubble Era). Tekhnologi di sini terlihat kuno dan tidak mengesankan. Salah satu musababnya adalah selama tekhnologi sekelilingnya bekerja dengan sangat baik, mereka merasa tidak perlu menggantinya.


---------------------------------------
Pasangan ini mewakili anak muda Indonesia yang aspirasinya tidak hanya sekedar membangun keluarga tradisional yang stabil, yang didambakan generasi orang tua mereka dulu. Ada puluhan juta orang seperti mereka di Indonesia, yang telah memperoleh gelar dan sertifikat pendidikan namun siap kerja di tengah kelambanan ekonomi dan bersaing dengan banyak lulusan lainnya, yang jumlahnya melebihi lapangan pekerjaan bergaji layak yang tersedia. mereka agak sedikit galau, tapi jalan masih terbentang dan kesempatan terbuka luas.

----
Desember 2016. Setelah hampir 2 tahun saling berbalas e-mail, akhirnya datang kabar yang saya tunggu-tunggu: pendaftaran beasiswa. Sensei (supervisor) saya sekarang mengatakan agar segera mempersiapkan dokumen penting dan agar bersiap untuk tes wawancara.  (Calon) Istri saya pun begitu (waktu itu istri sedang "magang" di Jepang selama 1 bulan). Kami berdua saling bahu-membahu dalam menyiapkan syarat2 beasiswa. Alhamdulillah, kami lulus! Kami pun menikah. 

Saya merasa sangat beruntung bisa "terpilih" karena dengan kualitas yg pas-pasan begini, sya bisa melangkah sejauh ini. Saya harus mensyukuri dan berjuang untuk mmbuktikan hal itu! "Itu" itu adalah motivasi saya sejauh ini hehehe.

September 2017. Teringat ketika di bandara, kami berpamitan kepada orang tua dan memohon doa agar berhasil dalam studi. Kedua orang tua kami memang bukan siapa-siapa, mereka hanya pedagang kecil dan guru biasa, namun berkat doa-doa mereka-lah kami bisa seperti sekarang: mewujudkan mimpi kami bersekolah ke LN (yang bahkan 8 atau 10 tahun yang lalu tidak berani kami impikan!). Saat itu pula Ayah berkata bahwa beliau bangga saya mampu mencapai apa yang tidak pernah dicapainya. Saya terharu.




27 September 2017. Jepang hampir memasuki musim gugur sewaktu kami datang. Angin dingin menggigit sampai terasa ke tulang-tulang. 

"ようこそ、アランとドナ"

Yōkoso, Aran to  Dona!" (Selamat datang, Alan dan Dona!), begitu mungkin anginnya menyapa. Saya harus "berpisah sementara" dengan istri karena istri berkuliah di Tokyo sedangkan saya di Ibaraki. Jarak tempuh antar keduanya kira-kira ditempuh dalam 3 jam perjalanan dengan kereta.


つづく~

-----------------------------------------------