"Setelah punya gelar Doctor (PhD) terus pulang mau bikin apa?"
Senin, 22 Agustus 2022
Dopamine attack good
Sabtu, 25 Juni 2022
Kuramae West and Youth Ueno journey
Alhamdulillah, istri saya telah diwisuda (23 Maret 2022, tepat satu tahun dengan tanggal saya wisuda) di Building 1 room 107 Tokyo Metropolitan University, Minami Osawa campus, Hachioji city, Tokyo, Jepang. Perjuangannya empat setengah tahun!!! Kami menginjakkan kaki di bandara Haneda tanggal 27 September 2017 di waktu Jepang baru memasuki musim gugur. Suhu di luar ruangan bisa sampai 10° C saat itu. Kemudian segera setelahnya hari-hari dilalui berjibaku dengan aktifitas riset: pergi ke kampus jam 9 pagi - bekerja di lab sampai jam 5 sore - kadang harus lembur sampai jam 11 malam - pulang ke apato. Saat weekend, kami berdua biasanya saling mengunjungi karena saya dan istri berbeda universitas. Tidak terasa kami sekarang sudah lulus dengan menyandang gelar Ph.D. --yang bahkan duluuuu sekaliii kami tidak 'berani' memimpikannya! 😂
Namun sebelum benar-benar "angkat kaki" dari Jepang, kami (saya) harus tinggal di hostel karena saya harus isolasi mandiri sebelum pulang ke tanah air. Bukan main! Kami harus berpindah-pindah penginapan dengan membawa tiga koper Samsonite. Menjeret-jeretnya di belantara hutan beton Tokyo. Lelah sekali. Tapi tidak mengapa, sebab pengalaman ini akan terus kami ingat; pengalaman susah senang ini akan kami ceritakan ke anak-anak kami di masa depan. Aamiiin.
________________________________
Rabu, 14 Juli 2021
Open your eyes, tell me your own politic
Sebagai anak kampung
yang lahir di Kerinci ---sekepal tanah Surga yang tercampak ke bumi--- dan
menuntut ilmu di Padang, saya awalnya menikmati keseharian hidup di Mito,
prefektur Ibaraki, Jepang selama menjadi research
student (6 bulan (Oktober 2017-Maret 2018)). Saya tinggal di asrama
mahasiswa internasional (国際交流会館- kokusai koryu
kaikan) yang memang diperuntukkan bagi mahasiswa asing dan beruntungnya
saya karena sebagai penerima beasiswa MEXT, maka tidak perlu repot pindah kaikan pada tahun kedua-ketiga perkuliahan.
Selama magang itu, saya mencoba mengenali sistem kerja dan pembelajaran orang-orang Jepang ini sebagai bekal
memulai perkuliahan yang sebenarnya yang dimulai April 2018. Per enam bulan pertama itu saya diliputi rasa
tidak percaya bisa tinggal di negara yang saya impikan. Tapi semua itu berubah
setelah Negara Api menyerang saya dipukul kenyataan bahwa kemampuan
akademik saya tidak mencerminkan seorang penerima beasiswa MEXT. Di situ seteres mulai muncul. Ketika udara makin
dingin dan sinar matahari mulai redup imbas pergantian musim, stres itu makin
menjadi. Pelaporan riset yang saya susun tiap bulan saat seminar mingguan terkerjakan, tapi hasilnya bisa dibilang sangaaat sedikit. Tiga huruf 'a' berjejer pada kata 'sangat' itu merupakan penegasan. Sampai-sampai
sensei saya pernah bilang:
”Tolong bekerja lebih keras lagi jika kamu
benar-benar ingin lulus dari universitas ini, Aran.”
Foto: pohon berselimut salju di depan kos istri di Tokyo, Februari 2018 (dok. pribadi)
Beruntung ---saya selalu merasa beruntung dan mencari celah keberuntungan dari setiap kesukaran--- saya ditemani istri selama berkuliah, jadi tidak perlu sedih-sedih. Kebiasaan orang Jepang yang jarang berinteraksi dengan orang lain dan hidup dalam kesunyian tidak membantu sama sekali --kalau pun ada secuil-- karena saya perlu bertanya sana-sini pada senior mengenai riset saya. Terlebih lagi orang-orang Jepang ini sangat sedikit yang paham bahasa Inggris (hanya yang kuliah yang cukup cakap berbahasa Inggris, ya salah sendiri kenapa berbahasa Inggris di negeri Jepang!?), jadilah saya hanya berinteraksi dengan Sensei, melulu dengan sensei. Memang ada teman satu ruangan, ---tahun pertama ada: Konno (Master tahun 1), Tsukada dan Kitazawa (Undergraduate tahun 4), tahun kedua: Konno (M2), Hanawa dan Tojo (U4), tahun ketiga: tidak ada teman satu ruangan (mereka work from home) karena wabah melanda, kecuali saya yang diberi kebebasan mengakses lab, ruang spesimen, dan ruang belajar sebagai mahasiswa doktoral tahun terakhir yang dituntut segera publikasi dan mengikuti konferensi!--- tapi mereka tidak banyak membantu.
Pergi keluar dan melihat sisi lain Jepang adalah jalan keluar. Daripada bosan dengan rutinitas yang itu-itu saja. Orang-orang Jepang ini workaholic. Mereka benci hari libur. Saya membenci hari kerja, wkwkwk. Diberi pun jatah libur atau cuti kerja, mereka tetap akan masuk kerja. Halah!
Foto di taman Kairakuen bersama istri, Diyona.
Kesimpulan:
1. Tetaplah bersemangat.
2. Jaga kesehatan baik-baik.
3. Banyaklah baca buku dan/atau baca situasi.
4. Pemerentah negara Wakandaa itu hanya sekumpulan orang2 yang mikir untuk perutnya sendiri & perut anak bininya. Kenapa takut sekali dengan nenek-nenek janda yang hanya mendompleng nama bapaknya? Inilah akibat terlalu sering berdebat dengan orang-orang ...tiiiiiit SENSOR.... sehingga punya banyak waktu untuk meng...tiiiit SENSOR... .
5. Cita-cita berubah: presiden ke-11 Power ranger merah asal kau bahagia.
Minggu, 30 Mei 2021
Brother at your side
Mungkin orang akan menjawab bahwa dengan kuliah di Jepang, kita akan mendapatkan ilmu yang lebih luas. Nyatanya saya tidak.
Ilmu tentang bidang saya, saya dapatkan sedikit. Kenapa? Karena saya Nihongo zenzen tabenai (translasi: Tidak bisa ‘termakan’ bahasa Jepun) alias saya tidak mahir berbahasa Jepang.
Namun terlepas dari kendala bahasa yang terbata-bata, di Jepang saya bisamendapatkan fasilitas yang luar biasa untuk ilmu. Misalkan saja, akses ke jurnal-penyedia paper ilmiah gratis,penggunaan alat laboratorium yang bebas tapi bertanggung-jawab, dan biaya-penelitian yang sepenuhnya ditanggung universitas. Tiga akses penting itulah yang kita belum bisa dapatkan secara cuma-cuma di Indonesia.
Pada akhirnya kita akan selalu mencari ketenangan. Menikmati waktu, me time semaunya. Berkumpul dengan orang-orang terdekat, keluarga. Tidak terikat oleh apa pun. Dan kapitalisme tidak akan membiarkan hal itu karena kapitalisme akan membuat kita kehilangan waktu yang banyak, bahkan kurang tidur! Ujung-ujungnya nanti akan bermuara pada uang! Jikalau matahari sebagai inti SDA, maka uang adalah inti SDM. Tapi kita perlu uang untuk hidup. Di sinilah ironinya.
Maka kita perlu menyadari dan kembali ke tujuan akhir: untuk bahagia dan bebas. Tentu ‘ini’ hanya bisa enteng diucapkan oleh orang yang sudah ‘merasa’ mendapatkan apa-apa yang dia inginkan dan dia cari. Tentu ‘ini’ akan bermuara pula pada kesyukuran.
_-----------------------------------------
Saya punya satu mantra, yaitu:
“Mereka (kamu) boleh pintar, saya (kita) tidak boleh bodoh".
Mantra yang saya beri tanda kutip itu baiknya dipegang oleh siapa saja. Jangan pernah salahkan mereka yang pintar itu. Tapi kita juga harus ingat: kita jangan bodoh! Mantra ini saya wariskan dari sensei saya dulu. Waktu itu konteksnya beliau membicarakan bahwa wabah ‘ini’ harus dirunut baik-baik, dari mana asalnya, bagaimana dan mengapa bisa terjadi. (Berita) Jangan ditelan bulat-bulat. Tidak semua yang kamu dengar itu benar tapi semua yang benar harus didengar. Sensei juga bilang:"This pandemic did not broke a system. It exposed a broken system".
Meski sudah lebih setahun ‘menderita’, tetap saja generasi yang sekarang lebih beruntung dibanding generasi yang lalu: menderita berkepanjangan. Dulu ada perang dunia pertama (1914-18). Disusul pandemi flu Spanyol (1920). Kemudian depresi ekonomi dunia. Disusul perang dunia ke-2 (1939-45). Beruntunglah yang lahir setelah tahun 1965. Tidak pernah ada gejolak besar – kecuali gejolak di hati masing-masing.
As retirement is a time for feeling luck and glad to be alive
I would like to express my heartfelt and my deepest sympathy for the retirement of Prof. Jun-ichi Kojima (Kojima sensei) of Graduate School of Science and Engineering, Ibaraki University. During my study under his supervision in Japan, Kojima sensei always supervised the whole work eagerly, advised critically and gave constructive comments on my research and thesis. He has a warm heart, constant encouragement and keen interest throughout this study. As for his retirement, I think Kojima sensei deserves the best retirement ever because of all dedication and hard work. I am so grateful to have met him and learned from him. Moreover, I regarded Kojima sensei as my father in Japan. Hopefully Kojima sensei’s retirement is perfectly grand with lots of good luck.
----------------------------
Alan Handru (32 y/o - Indonesia), Doctoral student, Major in Complex System Science, Graduate School of Science and Engineering, Ibaraki University (class of 2018).
----------------------------
Kamis, 08 April 2021
japan tateyoko part 2
Juni, 2017. Teringat saat menerima kabar melalui e-mail itu, bahwa saya lulus beasiswa itu ---yang saking senangnya saya mendapat kabarnya di sore hari bulan Ramadhan 1438 H, adik saya memanjat-manjat punggung saya, sampai kami terjengkang ke belakang sama-sama---, bersyukur kehadirat Allah SWT karena Dia tahu, tentu melalui doa sepanjang usai sholat, bahwa saya butuh pertolongan: wajah ini penuh dengan siratan “penderitaan”, hehehe. Seberes pengurusan visa student dan pengurusan dokumen penting lainnya, satu hal lagi yang harus dibereskan: menikah.
11 September, 2017. Teringat, waktu penghulu membimbing saya untuk akad nikah, baru satu-dua kata penghulu bersabda langsung saya sambar. Cepat sekali, macam tukang dadu cangkir menyambar duit lima ribu. Saya mengucap akad sekali saja, cerdas, fasih, dan lancar. Salah seorang kerabat bertanya bagaimana bisa begitu hebat.
“Saya sudah hapal ucapan nikah pada Dona sejak kami tingkat akhir kuliah pasca sarjana”, jawab saya dengan tenang. Itu berarti dua tahun sebelum pernikahan dilangsungkan.
April, 2018. Pertama kali perkuliahan dimulai. Semua dimulai dari nol, dari yang tidak tahu apa-apa sampai sekarang juga belum tahu apa-apa. Mudah2an yang saya lakukan ini adalah juga dihitung sebagai cara saya “mencicil” untuk membahagiakan orang tua. Aamiiin.
Maret, 2021. Setelah perjuangan nan panjang berliku tajam, akhirnya… yatta… ALHAMDULILLAH…. Saya lulus kuliah tingkat doktoral. Syukur kehadirat Allah SWT. Berkat doa dan dukungan dari istri tercinta (semangaat sayaang… ❤☺), kedua orang tua, keluarga besar, dan lain – lain. Tidak lupa, saya sangat berterimakasih pada guru-guru saya yang telah mengajar, membimbing dan menunjukkan patok-patok jalan untuk sampai meraih ekspektasi; yang menunjukkan dari sudut-sudut mana saja saya harus mulai mendaki, sehingga dengan begitu saya bisa memetakan peluang, akan menjadi apakah saya: sebagai akademisi, peneliti, konsultan ataukah decision maker?
-----------------------------------------------------------------------
“Dia tak pernah takluk menghadapi kenyataan bahwa dirinya selalu diremehkan atas keadaan, dicurangi oleh lawan bahkan kawan. Dia itu bagai huruf nun (ن) mati diantara idgham bigunnah: ada tapi dianggap tidak ada. Walau berkali-kali dibohongi atau diperlakukan secara tidak adil oleh lingkungan tapi dia selalu beruntung, karena dia baik hati.”
--- Buya Yahni, guru ngaji Mesjid Al-Akbar.
Rabu, 09 Desember 2020
di Storia Naturale del evolution
-----


.jpeg)



